
Karena terus di tatap Justin, akhirnya Emeli pun mulai memberanikan diri untuk bercerita. Sebelum mencurahkan apa yang ada di hatinya, Emeli menghela nafas sembari menggenggam lengan Justin seakan meminta kekuatan. Justin yang paham pun membalas genggaman tangan Emeli lalu mengelusnya dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku sayang jika aku membuatmu bingung," ucap Emeli membalas elusan Justin. "Sejujurnya aku merasa tidak tenang. Bukan hanya merasa bersalah pada Clara namun aku juga merasa takut dengan suatu hal yang enggak aku tau. Aku takut ujian kembali menimpa kita. Aku tidak ingin hal buruk itu terjadi," ucap Emeli dengan tatapan sendunya, membuat Justin mengganti posisinya menjadi duduk. Ia menarik Emeli ke dalam pelukannya.
"Jangan takut, dan jangan fikirkan hal yang takkan terjadi," ucap Justin namun tetap saja hati Emeli tak tenang.
"Kau ingat kan apa yang terjadi di dapur tadi? aku benar-benar melihat air itu berubah warna seperti darah. Aku yakin ini nyata sayang," ucap Emeli dengan sangat seriusnya.
"Sayang, aku tau kau sedih dan kelelahan, jadi jangan mengarang cerita yang membuatmu stress," ucap Justin membuat Emeli melepaskan tubuhnya dari dekapan Justin.
"Apa kau mengira aku sedang menghayal?" tanya Emeli dengan tatapan kecewa pada Justin.
__ADS_1
"Tidak sayang, aku tidak mengatakan jika kau sedang berkhayal. Maksudku, kau terlalu kelelahan makannya kau bisa seperti ini. Aku yakin kau salah lihat sayang," ucap Justin dengan sangat berhati-hati mengatakan itu.
"Tapi aku benar-benar melihatnya, percaya lah," ucap Emeli dengan wajah memohonnya.
"Aku percaya padamu," ucap Justin sengaja mengikuti Emeli agar istrinya itu berhenti berbicara hal yang tak masuk di akal.
"Tidak, kau tidak percaya padaku, hiks," ucap Emeli lalu menangis.
"Sayang jangan menangis, maafkan aku," ucap Justin berusaha membujuk Emeli agar segera berhenti menangis.
"Sudah-lah! tidak ada gunanya aku bercerita padamu. Kau tidak mempercayaiku lagi. Kau sudah berubah, kau bukan Justinku yang dulu, hiks," ucap Emeli sembari menghapus air matanya.
__ADS_1
Mendengar itu membuat darah Justin naik seketika dan tanpa sadar Justin meninggikan suaranya di hadapan Emeli. "Diam! kau yang berubah, kau yang terlalu sensitif dan cengeng, kenapa kau malah menyalahkanku atas ceritamu yang tak masuk akal itu. Aku tidak pernah berubah, tapi kaulah yang berubah!" ucap Justin dengan nada membentak membuat tangis Emeli semakin kencang.
"Hua,,, hiks, hiks, kau jahat, kau jahat, aku benci kau!" marah Emeli terus menangis sembari memukul Justin dengan kepalan tangan lemahnya.
Huh! apa yang baru saja aku lakukan? kenapa aku bisa hilang kendali. Ya Allah,,, drama apalagi ini. Batin Justin menyesal sebab telah menggores luka di hati Emeli.
"Sa-" belum lagi ia menyelesaikan kalimatnya namun Emeli sudah tak berada di hadapannya.
"Kemana dia?" gumamnya bertanya-tanya. Justin mulai panik. Ia pun lekas mengejar Emeli dan mencarinya ke berbagai arah.
"Sayang, maafkan aku, aku khilaf," teriak Justin dengan langkah terburu-buru. Mendengar teriakan Justin bukannya membuat Emeli menghentikan langkahnya, namun justru membuat wanita hamil itu ingin pergi dari pandangan Justin.
__ADS_1