CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Kemarahan Justin


__ADS_3

"Cukup, berhenti dulu Leo, aku sangat lelah," ucap Emeli sembari memegang dinding penghalang lapangan ice skating.


"Baiklah Mentari, mari kita duduk sebentar, apakah setelah ini kau mau menaiki lift ski?" tanya Leo yang langsung mendapat anggukan dari Emeli, "Oke, kalau begitu mari kita naik," ucap Leo sembari membantu Emeli untuk bangkit dari duduknya.


"Apakah kita harus menggunakan peralatan ski lagi?" tanya Emeli sedikit bingung.


"Tentu saja Mentari, ayo," ucap Leo yang di angguki Emeli.


Kini mereka mengenakan kembali peralatan ski nya lalu segera pergi menuju lift ski. Setiba nya di sana, Emeli maupun Leo segera menaiki lift ski khusus dua orang. "Curam sekali jurangnya Leo?" ucap nya mulai panik.


"Tenanglah Mentari, kau aman bersama ku," ucap Leo yang di angguki Emeli. Walaupun begitu tak membuat rasa takut Emeli menghilang. Bahkan kini tangan Emeli berkeringat walaupun sudah terbungkus sarung tangan tebal.

__ADS_1


"Senyum," ucap Leo sembari mengarahkan kamera handphone ke arahnya dan Emeli. Walaupun takut, Emeli tetap berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Semakin lama berada di atas, Emeli pun perlahan mulai terbiasa. Sekarang rasa takut itu di ganti dengan rasa puas dan bahagia sebab dapat melihat pemandangan indah dari atas life ski.


Di Perusahaan massive group, terlihat Justin tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia terlihat fokus menatap map coklat di depannya. Riko yang berdiri tak jauh dari Justin hanya sibuk memperhatikan saja tanpa ingin memberikan penjelasan sedikit pun. Karena penasaran, Justin pun membuka map coklat itu secara perlahan. Ia memperhatikan semua isi di dalam map itu dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui fakta jika selama ini Clara bukan hanya membohonginya saja namun juga berselingkuh darinya. Tak hanya itu, bahkan ia semakin terkejut ketika tau Clara dan kekasihnya Patrick begitu menginginkan semua harta kekayaannya.


"Brak!" Justin berdiri sembari mengebrak meja. Matanya terlihat menatap ke arah depan dengan nafas yang memburu sebab menahan amarah.


Kurang aj*r! berani sekali wanita sial*n itu melakukan semua ini pada ku! Batin Justin sembari mengepalkan kedua tangannya hingga memperlihatkan urat-urat tangannya yang menegang. Tak hanya itu, bahkan kini urat di leher Justin juga terlihat. Ia benar-benar sangat marah dan merasa sangat bodoh sebab telah mencintai wanita yang salah.


"Tuan," panggil Riko yang mencoba menyadarkan Justin dari lamunannya.


"Akh,,," teriak Justin sembari melemparkan semua barang yang ada di atas meja kerjanya. Semua bukti-bukti yang di kumpulan Riko berserakan di lantai.

__ADS_1


"Tenanglah Tuan," ucap Riko yang kini sudah menangkap tubuh Justin yang ingin menyakiti dirinya sendiri. "Menyakiti diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah dan hal itu juga tidak akan membuat Nona Emeli kembali kepada anda," ucap Riko yang langsung membuat Justin tersadar dengan kebodohan yang ia lakukan.


Emeli aku merindukanmu, Batin Justin dengan hati yang sangat sesak dan sakit.


Riko membantu Justin agar berdiri dengan tegak seperti biasanya. "Apa yang akan anda lakukan sekarang Tuan?" tanya Riko sembari menatap mata Justin dengan sangat serius.


"Aku ingin kau mencari dan melacak keberadaan Emeli. Sebelum itu, aku ingin kau membantuku untuk memberikan pelajaran pada Clara dan kekasih gelapnya itu," ucap Justin dengan penuh penekanan dan rahang yang keras.


Riko langsung mengangguk paham dengan apa yang di katakan Justin. Riko pun segera menghubungi anak buahnya untuk melacak keberadaan Emeli. Tak lupa ia memerintahkan beberapa anak buahnya yang lain untuk mencari Emeli di seluruh kawasan Indonesia. Setelah selesai berbicara dengan seseorang melalui telepon, kini Riko pun segera pergi bersama Justin menuju apartemen Patrick.


Sesampainya di sana, Riko langsung mempersiapkan Justin untuk mengetuk pintu.

__ADS_1


__ADS_2