
"Sayang kamu sudah sadar, Nak?" tanya Riya dan Ela secara bersamaan. Mereka berdua langsung mendekati Emeli yang saat ini tengah bingung dengan kondisinya. Dengan penuh kasih sayang Riya mengelus rambut Emeli dengan wajah sendu.
"Ma, Emeli kenapa? dan dimana ini?" tanyanya dengan wajah yang tak sepucat sebelumnya.
"Jangan makan makanan pedas lagi sayang, hiks," ucap Riya yang sudah meneteskan air matanya.
"Tenanglah sayang, kamu akan baik-baik saja. Sekarang kita sedang berada di rumah sakit," jawab Ela dengan tatapan lembutnya.
Mendengar penuturan kedua Mamanya membuat Emeli langsung sadar dengan semua yang terjadi, ia hanya bisa menunduk dengan wajah penuh penyesalan. Ia tak berniat menyakitkan dirinya sendiri. Ini semua di luar kendalinya. "Maafkan Emeli, Ma, Emeli menyesal," ucap Emeli dengan air mata yang sudah mengalir.
"Sudahlah sayang, jangan menangis lagi, semuanya sudah terjadi. Intinya jangan di ulang lagi ya sayang," ucap Ela lalu mendaratkan satu kecupan di kening Emeli.
Kemana kamu Nak, kenapa kamu tidak memperhatikan kondisi istrimu, Mama benar-benar sangat kecewa denganmu. Batin Ela yang sangat sedih dengan sikap Justin.
__ADS_1
Di tempat lain terlihat Justin baru saja tiba di kediamannya, ia melirik ke berbagai penjuru arah namun ia tak mendapatkan keberadaan Emeli. "Tumben sekali dia tak terlihat, biasanya dia akan selalu mondar-mandir di rumah ini," gumam Justin sembari mengingat wajah Emeli di fikirannya.
Karena penasaran, ia pun segera pergi ke ruang cctv untuk melihat apa yang di lakukan Emeli di rumah itu di saat ia tak ada. "Ce-ceria," ucapnya terbata sebab tak menyangka melihat rekaman di cctv itu. Tiba-tiba saja rasa bersalah dan cemas menggerogoti hati dan fikirannya.
"Kemana Papa dan Mama membawanya?" tanya Justin dengan sangat gelisahnya. Mau tak mau ia harus segera menghubungi Mamanya. "Angkat lah Ma," gumamnya sangat khawatir.
"Pa, anak kita menelpon," ucap Ela sembari menunjukkan layar handphonenya pada Hendra.
Karena sudah mendapat izin dari Hendra, Ela segera mengangkat panggilan dari Justin. "Halo," ucap Ela tanpa embel-embel sayang.
Mata justin berbinar mendengar suara Mama nya. "Halo Ma," ucap justin dengan penuh semangat.
"Ada apa, Nak," tanya Ela dengan nada biasanya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Emeli? dimana kalian membawanya?" tanya Justin membuat setitik bahagia hinggap di hati Ela.
"Em-" Ela tak menyelesaikan kalimatnya sebab melihat Hendra mengulurkan tangannya seakan berkata, 'kemarikan handphonenya Ma, Papa mau bicara dengan anak itu,' itulah yang sekiranya yang di tangkap Ela dari sorot mata Hendra.
"Untuk apa kamu menanyakan kondisi dan keberadaan anak kami!" ucap Hendra membuat jantung Justin terkejut.
"Pa bagaimana keadaan Emeli, Justin sangat mengkhawatirkannya Pa," ucap Justin memohon membuat amarah Hendra bangkit.
"Tidak usah sok perhatian! dan tidak perlu khawatir, kau urus saja calon istri mu itu!" ucap Hendra yang tanpa sadar membuat Bowo mengernyitkan dahinya heran.
"Apa maksudnya Hendra? calon istri? apakah Justin mau menikah lagi?" tanyanya membuat justin dan Hendra tegang secara bersamaan. Hendra segera memutuskan sambungan telepon dari Justin membuat pria itu mengumpat kesal di sana.
Karena tak ingin mengulur waktu, Hendra segera menjelaskan semua permasalahan yang terjadi. Toh, cepat atau lambat kedua orang tua Emeli pasti tau juga.
__ADS_1