
Di sepanjang perjalanan, Justin terus memperhatikan Emeli yang terlihat cemas sembari melihat ke arah jalan. "Sayang," panggil Justin dengan pelan. Emeli menolehkan wajahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir membuat hati Emeli menghangat seketika.
"Aku baik-baik saja Jus," ucapnya yang di angguki Justin.
"Baguslah jika kau baik-baik saja sayang," ucap Justin yang di balas dengan senyum manis Emeli.
Beberapa menit membela jalan, akhirnya mobil yang di tumpangi Justin dan Emeli masuk ke perkarangan mansion Hendra. Mereka semua pun turun dan masuk ke dalam mansion. Di dalam sana Hendra dan Ela sudah menyambut kedatangan mereka.
"Sayang kamu darimana saja, Mama rindu banget sama kamu," ucap Ela sembari memeluk Emeli.
__ADS_1
"Maaf Ma, Emeli tadi pergi bersama Justin," ucap Emeli yang membuat hati Ela bahagia sebab usahanya untuk mendekatkan Emeli dan Justin telah berhasil.
"Tidak apa sayang, Mama senang jika kalian sudah berbaikan," ucap Ela membuat Emeli tersenyum getir.
"Iya Ma," ucapnya masih setia memperlihat kan senyum manisnya.
"Hm," dehem Justin membuat Ela dan Emeli mengalihkan pandangannya ke arah nya. "Apa Mama hanya merindukan Emeli saja?" tanya Justin dengan nada tak bersahabat. Disini kan dia anak kandungnya, bukan istrinya Emeli, namun kenapa yang lebih di cari adalah Emeli bukan dirinya.
"Huh," Justin menghela nafasnya lalu mendaratkan satu kecupan di kening Ela. Mau sekesal apapun ia pada Mamanya itu, ia tak akan sanggup marah dan membuat Kedua orang tua-nya terluka. "Justin tidak ngambek Ma," elaknya namun ekspresinya tidak bisa berbohong jika ia cemburu jika Mamanya lebih sayang pada Emeli dari pada dirinya. Tetapi mau secemburu apapun dia pada Emeli, ia tak akan marah, sebab Emeli sama berharganya seperti kedua orang tua-nya.
__ADS_1
"Ya sudah, mari duduk," ajak Ela sembari menarik tangan Justin dan Emeli. Kini kedua sejoli itu mengapit Ela di tengah-tengah nya. Tak ingin ruang keluarga itu senyap, Hendra pun menyalakan tv di depannya.
"Coba kuatkan Pa suaranya," pinta Justin sembari fokus mendengarkan berita yang tengah berlangsung di layar datar itu. Hendra segera menaikan volume tv-nya, hingga mereka semua bisa mendengar berita dengan jelas.
Saat ini semuanya fokus melihat dan mendengar berita. Awalnya mereka terlihat biasa saja, hingga di berita selanjutnya semuanya terkejut mendengar berita di layar kaca itu. Justin terlihat menegang sembari menelan salivanya ketika ia menjadi pusat perhatian semua orang. Emeli yang melihat berita di tv terlihat mulai berkaca-kaca. Hatinya terlihat sakit menyaksikan gambar Clara, Justin, dan dirinya di sana.
Justin mengalihkan pandangannya menatap ke arah Papanya, "Berita ini tidak benar Pa," ucapnya berusaha menyakinkan Papanya yang terlihat sudah menahan amarah. "Sayang, ini tak benar, aku tidak menghamili Clara," ucap dengan tangan yang sudah menggenggam tangan Emeli dengan kuat.
"Hiks," Emeli tak menjawab, ia hanya sibuk meratapi nasib pernikahannya dengan Justin.
__ADS_1
Kenapa rasanya sesakit ini ya Allah,,, Batinnya dengan isakkan yang terdengar sangat pilu.
"Huh," Hendra menghela nafasnya berusaha berfikir jernih dan berkepala dingin. Ia tak ingin gegabah dan menyalakan Justin dalam hal ini. Bisa saja berita ini hanya fitnahan semata. Mungkin saja ini salah satu cara Clara agar menghancurkan rumah tangga Emeli dan Justin.