CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Hidup dalam kepura-puraan


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah satu bulan Emeli dan Justin menempati rumah mewah itu. Seperti biasa, Emeli selalu menyediakan sarapan untuk Justin dan dirinya sebelum pergi ke kantor. Setiap harinya, Emeli hidup dalam kepura-puraan, menutupi kesedihannya dengan wajah bahagia nan ceria. Bahkan setelah sebulan mereka tinggal bersama, Justin tidak menyadari hal itu.


Justin menganggap sikap Emeli yang berubah-ubah sebagai sebuah hal yang normal saja. Sejak tinggal di rumahnya sendiri, tak jarang Justin membawa Clara pulang ke dalam kediamannya, bahkan tanpa diminta, wanita licik itu tetap akan datang. Hal ini selalu membuat Emeli merasa jengkel dan tidak nyaman.


Seperti halnya hari libur ini, pagi-pagi sekali Clara sudah bertamu ke rumah Justin dan Emeli. Wanita itu terlihat tidak punya pekerjaan dan tidak tahu malu. Ia seakan-akan dirinya adalah nyonya Justin dan berhak atas rumah mewah itu. Bahkan tak jarang ia memerintahkan Emeli untuk melakukan suatu hal, dan jika Emeli tidak melakukannya maka ia akan mengadu pada Justin tentang hal-hal yang sepele.


Hal itu tidak menggetarkan hati Emeli. Wanita itu tidak takut pada wanita licik itu. Bahkan Emeli merasa lebih baik jika bertengkar dengan Justin daripada harus memenuhi keinginan Clara. Justin yang sudah tahu sikap Emeli hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak membela salah satu dari mereka, membuat Emeli sedikit jengkel dan benci pada pria itu. Walaupun begitu, cinta Emeli masih tetap sama besarnya pada Justin seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Sayang, apakah kau sudah mengatakan padanya tentang kita?" tanya Clara yang sedang duduk santai bersama Justin di ruang tamu. Mata tajam keduanya tidak lepas memperhatikan Emeli yang tengah menyapu lantai.


"Belum sayang, aku harus mencari waktu yang tepat," ucap Justin membuat Clara langsung cemberut.


"Kenapa tidak sekarang saja sih, sayang!" ucap Clara dengan nada sedikit memaksa.


Setelah selesai menyapu lantai, Emeli segera pergi ke dapur untuk memasak sarapan pagi. Meskipun rumah yang ditempatinya besar dan mewah, tidak membuat Emeli merasa lelah melakukan semua pekerjaan rumah. Hal ini merupakan pilihannya sendiri untuk tidak menggunakan ART. Ia sangat senang melakukan semuanya, bahkan mengurus Justin sekalipun. Ia merasa sudah menjadi istri yang baik, meski kenyataannya Justin tidak pernah menganggapnya sebagai istri yang sebenarnya.

__ADS_1


Emeli tersenyum menatap meja yang sudah dipenuhi oleh makanan dan minuman. Setelah puas menatap tatanannya, Emeli segera memanggil Justin dan Clara untuk sarapan pagi. Walaupun ia jengkel dengan keduanya, tidak membuatnya tega membiarkan mereka lapar.


"Ayo sarapan," ucapnya sangat datar, namun dianggap biasa saja oleh Justin dan Clara.


Dua kekasih haram itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju meja makan. Di sana Clara sibuk mengganti posisi Emeli yang selalu mengambilkan Justin makanan. Sedari tadi, mata Emeli tidak lepas menatap Clara yang tersenyum penuh kemenangan. "Makanlah yang banyak agar tubuh dan pikiran kalian sehat, ini sayur pare, aku memasaknya spesial untuk kalian berdua. Kalian pasti suka, aku tidak mau tahu kalian harus menghabiskan makanan di piring kalian, jika tidak, besok-besok jangan harap aku akan memasak lagi!" ucap Emeli sudah seperti ancaman bagi kedua orang di hadapannya.


Wanita ini mau membalas ku rupanya, Batin Clara jengkel pada Emeli yang terlihat tenang menikmati makanannya.

__ADS_1


"Makanlah sayang, sayur pare ini memang sedikit pahit, namun ia sangat menyehatkan tubuhmu," ucap Justin yang tak bisa ditolak oleh Clara. Bahkan Justin sendiri tak bisa menolak keinginan Emeli, ia tidak ingin hubungannya dengan Emeli semakin merenggang.


__ADS_2