
"Sayang,,, betapa tulusnya cintamu, Nak, Mama pastikan, suami bodohmu itu akan menyesal!" ucap Riya dengan penuh keyakinan membuat Emeli menggeleng lemah seakan tak ingin Justin di sakiti. Namun apalah dayanya jika orang tua-nya yang sudah turun tangan dalam masalahnya.
Waktu begitu cepatnya berlalu, tak terasa hari begitu cepat berganti. Malam ini terlihat Emeli menghampiri handphonenya yang mengeluarkan suara notifikasi. Sebelum membuka pesannya, Emeli segera melangkahkan kakinya menaiki ranjangnya. Di sana ia sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.
Siapa ya tengah malam begini mengirim pesan? Batin Emeli sembari fokus membuka layar kunci handphonenya lalu masuk ke aplikasi pesan.
Terlihat beberapa pesan Justin di sana, dengan tenang Emeli pun membuka dan membaca pesan itu.
Isi pesan Justin:
Ceria, maafkan aku, besok aku akan menikah dengan Clara di KUA. Maafkan aku yang telah menyakiti hatimu, aku sangat mencintainya dan juga menyayangimu, bisakah kau merestui hubungan kami? aku mohon padamu Ceria, aku akan berusaha bersikap adil kepada kalian. Pulanglah sahabatku sayang,,, sungguh, aku sangat merindukanmu.
Setelah membaca pesan itu seketika Emeli membekap mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sangat terkejut jika pernikahan Justin dan Clara secepat ini.
__ADS_1
"Hiks,,, Ah,,," tangisnya tanpa suara begitu menyayat hati bagi siapa saja yang melihatnya. Kini handphone di tangannya sudah terjatuh di dekat kakinya.
"Bug, bug, bug," Emeli memukul dadanya yang terasa sesak dan menghimpit. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semuanya. Dalam keadaan sesenggukan disebabkan menangis, Emeli segera pergi ke kamar kedua orang tua-nya lalu menggedornya dengan sangat keras.
"Tok, tok, tok, Ma,,, hiks, Pa,,, hiks, Buka Ma,,," tangisnya pecah di iringi tangis yang histeris.
Keributan yang di timbulkan Emeli seketika membuat Bowo dan Riya bangun dari tidurnya dalam keadaan panik, "Cklek," terdengar suara pintu terbuka, "Kenapa sayang???" tanya Riya dengan wajah bingung bercampur panik sembari memegang pipi Emeli yang sudah basah disebabkan air matanya.
"Katakan, Nak!" ucap Bowo sembari memegang salah satu bahu Emeli.
"Jus-justin,,,hiks," tangisnya menghalangi mulutnya untuk berbicara.
"Ada apa dengan suamimu Nak?" tanya Riya berusaha menahan diri nya agar tidak menambah kesedihan Emeli.
__ADS_1
"Be-besok,,,hiks, Jus-justin me-meni-nikah de-dengan Cla-Clara Ma, hiks,,," ucapnya dengan susah payah mengatakan kalimat singkat itu pada kedua orang tua-nya.
"Deg," jantung Bowo seakan tertancap ribuan jarum yang sangat halus dan tajam.
"Anak ku,,,hiks," ucap Riya langsung memeluk Emeli dengan tangis pilunya.
"Pa-papa,,, hiks," panggil Emeli sembari mengarahkan kedua tangannya ke arah Bowo seakan minta di peluk. Dengan senang hati Bowo segera memasukkan Emeli kedalam pelukannya. Ia mendekap Emeli dengan sangat posesif sembari mengelus punggung kepala Emeli.
"Ust,,, tenanglah sayang, kamu akan baik-baik saja, Papa dan Mama disini bersamamu," ucapnya seakan tengah menenangkan seorang bayi yang baru lahir.
"Sakit Pa,,,hiks,,, hati Emeli sakit sekali,,,hiks, Emeli sudah nggak kuat,,, Emeli mau pergi,,, hiks," ucap Emeli yang di angguki Bowo, sedangkan Riya hanya mengelus bahunya dengan tangis yang di tahan.
"Anak Papa mau pergi kemana, Nak?" tanya Bowo dengan tangan yang masih sibuk menepuk punggung gemetar Emeli. Emeli tak menjawab, ia hanya bisa menggeleng pelan pertanda tak tau harus pergi kemana.
__ADS_1