
"Keluar yuk," ajak Leo membuat Emeli menghela nafasnya.
"Maaf Leo aku tidak bisa." Emeli menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kenapa?" tanya nya ingin tau alasan Emeli menolaknya.
"Nggak Kenapa-kenapa, aku cuma mager saja. Lagian tubuh ku sangat pegal karena seharian berkerja," ucapnya yang membuat Leo langsung mengangguk paham.
"Sayang,,," terdengar suara panggilan dari lantai bawah.
"Sudah dulu ya Leo, lain kali kita berbicara lagi," ucap Emeli yang di setujui Leo.
__ADS_1
"Baiklah Mentari, sampai jumpa lagi," ucapnya dengan nada yang sangat ceria.
"Baiklah Leo, terima kasih," Emeli tersenyum lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Emeli segera keluar dari kamar dan berjalan santai menuju lantai bawah. Ia mengendar kan pandangannya mencari sosok bidadari yang memanggilnya tadi. "Ada apa Ma?" tanya Emeli ketika sudah berada di ruang keluarga.
"Duduklah Nak," ucap Riya yang tak lain ialah ibu dari Emeli. Riya menyodorkan cemilan di tangannya pada Emeli. Emeli mengambil cemilan yang di sodorkan Mamanya itu lalu memakannya. Mereka terlihat santai duduk di sana dengan tv yang menyala. "Sayang, besok kamu ada waktu tidak?" tanya Riya sembari menatap Emeli yang terlihat sangat menikmati cemilan di tangannya.
"Kenapa memangnya Ma?" tanyanya sembari terus memasukkan cemilan ke mulutnya.
"Baiklah Ma, besok Emeli izin pada atasan Emeli," ucap Emeli membuat Riya tertawa.
__ADS_1
"Kamu ini sayang, seperti lupa jika Justin adalah bos mu!" goda Riya membuat Emeli hanya terkekeh.
Bukannya tak ingin izin langsung pada Justin, namun Emeli lebih suka jika izin dengan atasan di devisi-nya. Rasanya itu lebih baik dan nyaman. Tidak seperti Justin yang akan melempar puluhan pertanyaan kenapa Emeli.
Seperti yang ia katakan, Emeli benar-benar izin cuti sehari hanya untuk menemani kedua Mamanya untuk berbelanja. Justin yang tak sempat menjemput Emeli, memilih pergi sendiri. Tak biasanya Justin berangkat tanpa menyinggahi kediaman Emeli. Mungkin karena merasa telat jadi dia beranggapan Emeli sudah berangkat ke kantor terlebih dahulu. "Selamat pagi Tuan," ucap setiap karyawan yang bertemu dengan Justin dan Riko.
Justin yang selalu menjaga sikapnya hanya membalas dengan anggukan setiap sapaan yang di tujukan padanya. "Apakah Emeli sudah berada di ruangannya?" tanya Justin yang sudah berada di ruangannya beberapa menit yang lalu. Ia terlihat fokus memeriksa beberapa berkas dengan teliti.
"Maaf Tuan, Saya mendapat info dari pemimpin devisi B, jika Nona Emeli izin cuti hari ini," jelas Riko membuat Justin refleks menghentikan kegiatannya. Ia menatap Riko dengan mata tajamnya seakan mencari kejujuran di mata Riko.
"Benarkah? kenapa dia tak mengabariku jika ingin cuti! dasar anak ini!" kesalnya segera mengambil handphone nya dan berniat menghubungi Emeli.
__ADS_1
"Sayang,,," teriakan seorang wanita membuat Justin menghentikan keinginannya untuk menghubungi Emeli. Justin merasa aneh dan heran dengan wanita yang di cintainya itu. Tak biasanya gadis itu mengunjungi perusahaannya sepagi ini.
"Ada apa sayang, kenapa pagi-pagi begini kamu sudah berada di sini?" tanya Justin membuat Clara mengerucutkan bibirnya kesal sebab merasa kehadirannya tak di inginkan. "Jangan cemberut begitu sayang, mari duduk di sana," ucap Justin sudah menghampiri Clara dan menggiring gadis itu menuju sopa.