CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
Ruang ICU


__ADS_3

"Emeli baik-baik saja Ma, kata Dokter Emeli hanya terlalu kelelahan dan syok saja," sahut Justin sengaja tidak memberitahu hal yang sebenarnya terjadi sebab tak ingin menambahkan kecemasan semua orang yang berada di sana.


"Benar Ma, Emeli baik-baik saja," ucapnya menampilkan senyum terpaksa-nya. Emeli melirik Justin yang tersenyum hangat padanya.


"Syukurlah jika kamu dan kandungan-mu baik-baik saja Sayang, kami semua sangat cemas," ucap Ela lalu memeluk Emeli dengan penuh kasih sayang.


"Cklek," semua orang reflek mengalihkan pandangannya ke asal suara.


Erika, Leo, dan Nino langsung menghampiri Dokter yang baru saja keluar dengan dari ruang rawat Clara.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya, hiks?" tanya Erika dengan sangat cemasnya.


"Iya Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Leo tak kalah cemasnya.


"Huh," Dokter menghela nafas berat seakan sulit mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.

__ADS_1


"Katakan Dok," tekan Erika sembari meremas bahu Dokter.


"Mama, tenanglah," ucap Nino menjauhkan tangan Erika dari Dokter.


"Maaf Tuan, Nyonya, pasien mengalami kritis dan harus di pindahkan ke ruang ICU secepat-nya. Benturan hebat membuat beberapa saraf dan organ pasien mengalami gangguan. Pasien juga mengalami geger otak. Kemungkinan bisa saja pasien mengalami hilang ingatan dan tidak bisa bergerak seperti biasanya." ucap Dokter membuat semua orang syok termasuk Leo dan Emeli yang langsung lemas.


"Nak," ucap Nino menangkap tubuh sempoyongan Leo.


Di tempat yang tak jauh dari ruang rawat Clara, terlihat Patrick mengeraskan rahangnya dengan tangan yang terkepal kuat membuat urat-urat tangannya terlihat. "Aku akan menghabisi kalian semua!" geramnya sembari menatap Leo dan Emeli secara bergantian. "Tunggulah pembalasanku!" gumam Patrick dengan nafas yang tak teratur.


"Benar Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya," ucap Nino yang di sambut dengan anggukkan pelan Dokter.


"Baiklah Tuan, Nyonya, kami akan segera memindahkan pasien ke ruang ICU," ucap Dokter yang di setujui semuanya.


Setelah mendapatkan persetujuan, Dokter pun kembali ke dalam ruangan Clara dan beberapa menit kemudian pintu pun terbuka dengan para medis yang mendorong Hospital Bed Clara. Sebagian orang memalingkan pandangannya sebab tak sanggup melihat kondisi Clara.

__ADS_1


"Sayang,,, hiks," panggil Erika terus mengejar Clara namun di tahan oleh Nino.


"Sabar Ma, biarkan para medis berkerja," ucap Nino.


Mereka semua pun segera pergi menyusul Clara ke ruang ICU. Karena tidak boleh beramai-ramai di ruang ICU, sebagian keluarga pun memutuskan untuk pulang. Kini di rumah sakit itu tinggallah Leo dan Justin.


Di ruang tunggu ICU, saat ini Leo menutup wajahnya frustasi. Hati dan pikirannya sangat kacau, perasaannya tidak tenang. "Leo, minumlah dulu," ucap Justin sembari memberikan segera mineral pada Leo.


"Minum saja untukmu," liriknya dengan pandangan yang kosong.


"Huh," Justin menghela nafas mendengar penolakan Leo.


"Aku tau kau sedih dan merasa bersalah padanya, tapi hal itu tidak bisa kau jadikan sandaran untuk menghukum dirimu sendiri. Jika saja Clara melihatmu seperti ini, pastilah dia akan marah seperti biasanya," ucap Justin sembari duduk di samping Leo.


"Minumlah, jangan sampai nanti kau dehidrasi karena kekurangan cairan, apa kau tidak kasihan padanya? aku yakin dia pasti memaafkan-mu," ucap Justin membuat Leo mengepalkan tangannya geram.

__ADS_1


"Bisakah kau diam saja? atau pergi sekalian? kau membuatku semakin kacau!" ketus Leo namun tak di hiraukan Justin. Walaupun ia mudah marah, namun kali ini ia terlihat biasa saja dengan ucapan pedas Leo. Justin memaklumi sikap kekurangajaran Leo.


__ADS_2