
Malam sudah berlalu, tak terasa hari berganti begitu cepatnya. Karena besok semua orang akan kembali ke kediamannya, hari ini semuanya pun memutuskan untuk menikmati wisata yang tak jauh dari taman Raya yang mereka tinggalin sekarang. Liburan keluarga besar ini sungguh sangat sederhana namun dapat semakin mengeratkan hubungan kekeluargaan mereka.
"Wah,,, ternyata di pegunungan begini ada taman hiburan juga ya," ucap Clara yang di angguki Emeli.
Semua orang memancarkan wajah bahagia dan kagum dengan tempat indah nan menyenangkan ini. Di Taman hiburan itu bukan hanya terdapat banyak wahana dan area bermain saja, namun di sana juga terdapat kolam berenang dan Istana yang sangat mirip dengan wonderland namun yang satu ini versi sedang-nya.
"Ah sayang, jadi ingat awal kita bertemu ya," ucap Stevia dengan manjanya. Riko hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Ada apa sayang?" tanya Clara pada Leo yang terlihat termenung di tempatnya.
__ADS_1
"Aku jadi ingat masa-masa di mana aku dan Emeli pertama kali bertemu. Kami bertemu di pasar malam sayang, tepatnya di wahana halilintar gua zombie, kau tau betapa menyenangkannya wahana itu, apalagi dengan orang yang kita sukai," ucap Leo tak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Mendengar itu membuat jantung Clara berdetak tiba-tiba. Air matanya ingin terjatuh namun ia menahannya. Hatinya benar-benar sakit mendengar itu. Wanita mana yang tidak sakit ketika suaminya menceritakan wanita lain dengan wajah tersenyum bahagia.
"Sayang, ayo kita bermain ayunan berputar itu," ajak Leo tanpa menoleh pada Clara dan tanpa menunggu persetujuan, Leo pun menarik tangan Clara untuk menikmati wahana ayunan yang bisa membuat sang penaik-nya pusing dan muntah.
Apakah ini yang di rasakan Emeli dulu ketika Justin masih bersamaku? Batin Clara mulai merasakan apa pernah Emeli rasakan.
"Terima kasih sayang," ucap Clara tersenyum tipis.
__ADS_1
Setelah pembicaraan singkat itu dan semua orang sudah aman di ayunannya, wahana itupun mulai bergerak lambat hingga cepat membuat semua orang berteriak di atasnya.
Clara yang masih bersedih terlihat tak menikmati permainan menyenangkan itu. Ucapan Leo masih berputar jelas di kepalanya. "Hiks," tangis Clara terdengar lirih namun tak ada satupun yang mendengarnya. Semua orang sibuk dengan kesenangannya sendiri hingga tak memperhatikan sekelilingnya.
Tanpa ada yang menyadari, seorang berpakaian serba hitam dengan wajah yang hampir tak terlihat terus saja memperhatikan Clara. Bisa di lihat dari postur tubuhnya jika orang yang mengenakan pakaian serba hitam itu adalah seorang pria. Tak tau kenapa, pria misterius itu mengepalkan tangannya dengan sangat kuatnya sehingga urat-urat tangannya terlihat. Setelah permainan hampir selesai, pria misterius itupun segera pergi dari sana.
"Wah,,, seru sekali ya," ucap orang-orang yang baru saja turun dari wahana yang memusingkan itu.
"Uwek," Clara mual membuat Leo langsung menghampirinya dengan wajah yang khawatir.
__ADS_1
"Sayang? apa kau baik-baik saja?" tanya Leo sembari mengelap kening Clara yang terdapat keringat. "Ayo kita ke tempat Mama dan Abel," ajak Leo yang di angguki Clara.
Setibanya di cafe yang dimana para orang tua bersantai, Leo pun membantu Clara untuk duduk. Hal itu mengundang perhatian Erika dan Rina Mama mertuanya. "Sayang," ucap Dua wanita paru baya secara bersamaan.