
"Emeli," panggil Clara sembari mengambil tangan Emeli setelah pelukan keduanya terlepas.
"Hm?" tanyakan dengan senyum simpul nan manisnya.
"Berbahagialah Emeli, aku ikhlas melepaskan Justin untuk mu. Aku berjanji padaku untuk tidak menggangu hubungan mu dengan Justin. Berbahagialah Emeli, berbahagialah sahabatku." ucap Clara tersenyum tulus membuat Emeli tak tahan untuk membendung air mata harunya.
"Apakah Sekarang kita benar-benar bisa menjadi sahabat?" tanya Clara yang langsung mendapatkan anggukan dari Emeli.
"Tentu saja, hiks," ucap Emeli lalu kembali memeluk Clara yang juga membalas pelukannya. Kini keduanya pun menangis haru sembari mencurahkan kasih sayang satu sama lain.
"Terimakasih Emeli," ucap Clara yang hanya mendapat anggukan lemah dari Emeli.
"Wah-wah, ada apa ini? apa kami melewatkan sesuatu?" ucap Grisela dengan senyum manis nan keponya.
Lucy dan Monica yang berada di belakang Grisela hanya tersenyum menyaksikan Emeli dan Clara berpelukan sembari menangis.
Karena malu, keduanya pun langsung melepaskan pelukannya satu sama lain. Dua mata sembab itu saling pandang lalu tertawa bersama sebab merasa lucu dengan semua hal yang baru terjadi.
__ADS_1
"Kenapa kalian berada di sini?" tanya Clara dengan senyum tipisnya.
"Pertanyaan seperti apa itu! ya jelas saja kami ingin bercermin," ucap Monica sembari memperlihatkan alat makeupnya.
"Hhhhhh," Kamar mandi itupun di penuhi dengan tawa para wanita.
Karena wajah Clara dan Emeli terlihat sangat berantakan, akhirnya mereka pun menggunakan make milik Grisela dan Monica untuk memoles wajahnya.
"Sepertinya makeup benda yang wajib kalian bawah ya?" ucap Lucy yang saat ini menyandar di dinding sembari memperhatikan empat wanita sok cantik di depannya.
"Tentu saja Lu, ini alat tempur kami!" ucap Grisela sembari menggunakan eliner di matanya.
"Tidak!" ucap ke empatnya secara bersamaan lalu tertawa bersama. Lucy hanya menggeleng kan kepalanya dengan senyum devilnya.
Semua yang berada di sana tiba-tiba saja terdiam ketika mendengar suara keributan yang menuju ke arah mereka, "Cklek," terlihat Stevia ngos-ngosan membuka pintu dengan wajah panik penuh keringat. Emeli yang melihat itu segera menyamperi Stevia.
"Ada apa Stevia?" ucap Emeli yang sudah berada di hadapan Stevia. Dengan lembut kedua tangan wanita hamil itu menyentuh pundak Stevia seakan memberi kekuatan.
__ADS_1
"I-itu kak," Stevia seakan tak sanggup untuk mengucapkan kalimat nya.
"Katakan," desak Emeli yang ikut panik. Sedangkan yang lain hanya fokus memperhatikan Stevia.
"Kak Le-leo keracunan," ucapnya yang seketika membuat semua orang terkejut termasuk Clara yang langsung jatuh pingsan.
"Kakak,"
"Clara,"
"Kak Clara,"
Ucap semuanya secara bersamaan. Kini dengan cepat mereka mengangkat Clara dan membawanya ke kamar Emeli. Setelah meletakkan Clara di ranjangnya, Emeli pun memerintahkan Stevia untuk menjaga Clara, setelah itu iapun pergi ke ruang tamu untuk melihat keadaan di sana.
Saat ini di ruang tamu terlihat riuh. Banyak para tamu yang bingung dan bertanya-tanya, dari mana datangnya racun itu. Tak jarang beberapa tamu berfikir buruk pada keluarga Emeli. Mereka menduga jika hal yang terjadi pada Leo sudah di rencanakan.
"Hey, jeng Riya, kenapa makanan nya jadi beracun! kalian sengaja kan mengundang kami agar kami mati secara massal!" fitnah Rena yang tak lain tetangga Emeli yang paling Julid di komplek itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah, hati-hati ya jeng, besan saya tidak mungkin melakukan hal sejahat itu! itu semua hanya fitnah!" ucap Ela menatap nyalang pada Rena dan teman-teman menggosip-nya.