CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Amarah dan Semangat .


__ADS_3

Emeli tak menghiraukan ucapan Justin, ia memilih segera keluar dari ruang makan itu menuju kamarnya. "Besok aku dan Clara akan meminta restu pada Papa dan Mama," ucap Justin berhasil membuat Emeli menghentikan langkahnya. Emeli mengalihkan wajahnya ke samping dengan raut wajah datar dan terlihat tak perduli.


"Terserah Mu!" ucapnya lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti di sebabkan ulah Justin. Lagi-lagi Justin harus meminum pil pahit atas sikap tak bersahabat Emeli padanya.


Seperti yang direncanakan nya, hari ini Justin dan Clara kekasihnya sudah bertekad untuk menemui Ela dan Hendra di kediamannya. Karena hari ini bukan hari libur membuat Justin segera menghubungi Papa-nya agar tidak pergi ke kantor hari ini. Hendra yang bingung melabuhkan banyak pertanyaan pada Justin sebab tak biasanya anak semata wayangnya itu bersikap demikian.


Hendra yang bingung bercampur penasaran pun menyetujui keinginan Justin agar tetap berada di rumah. Tak hanya Hendra saja, bahkan Ela juga sama bingung dan penasarannya. Ntah kenapa, sebagai seorang ibu ia dapat merasakan sesuatu hal yang tidak di inginkan akan segera terjadi.

__ADS_1


Masih di kediamannya, Justin terlihat bersiap-siap pagi ini untuk pergi kekediaman kedua orang tua-nya, dan pastinya sebelum berangkat ke sana ia akan menjemput Clara terlebih dahulu. Ketika hendak menuruni tangga, tiba-tiba saja ia tak sengaja berpapasan dengan Emeli yang hendak pergi ke kamarnya. "Sarapan lah terlebih dahulu sebelum pergi," ucap Emeli sembari melirik Justin sesaat dengan lirikan tajamnya. Setelah mengatakan itu ia pun bergegas pergi melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Ceria," panggil Justin yang berhasil menahan Emeli di tangga paling atas.


Emeli hanya melirik sekilas tampak membalikkan tubuhnya menghadap Justin, "Maaf kan aku Ceria," ucap lirih membuat luka di hati Emeli kembali timbul.


Justin hanya menghebuskan nafasnya melihat kepergian Emeli yang terlihat tak ingin menoleh sedikit pun padanya. Karena tak ingin membuat kepalanya pusing dan tak ingin membuang waktu juga, akhirnya justin kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi menjemput Clara.

__ADS_1


Di balik pintu kamarnya, terlihat Emeli menyandar dengan tubuh yang merosot ke bawah dengan perlahan. Sedangkan membayangkan Justin dan Clara saja yang meminta restu pada mertuanya sudah membuat hati nya sakit, apalagi membayangkan pernikahan justin dan Clara yang akan segera terjadi.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? bertahan atau memilih mundur dan membiarkan Clara memiliki Justin seutuhnya?" gumam Emeli menatap ke arah langit dengan mata yang sudah basah.


Emeli bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju cermin yang berada di kamarnya. Tiba-tiba saja api amarah dan semangat bercampur menjadi satu. Mata Emeli sudah memerah dan menegang menatap pantulan wajahnya yang terlihat sangat menyedihkan.


"Tidak! aku harus bertahan, aku tak akan biarkan wanita sialan tak tau malu itu memiliki Justin. Akan aku pastikan, dia tak bisa menjadi Nyonya justin seutuhnya. Jika diam ku membuat kalian banyak bicara, maka biarlah amarahku yang membuat kalian diam sejuta bahasa! dengar Clara pjtah, (Pelakor jelek tak ada harga) aku akan mematahkan hatimu! aku pastikan kau akan mengalami patah hati yang jauh lebih besar daripada yang ku rasakan!" ucap Emeli sendiri yang sudah seperti orang tak waras.

__ADS_1


__ADS_2