
"Benar-benar sempurna, kalian sangat serasi mengenakan busana tradisional ini," puji fotografer sembari mengarahkan kameranya hendak memotret Emeli dan Justin.
"Tampilkan pose terbaik anda Tuan dan Nona," ucap fotografer yang seketika membuat dua sejoli itu menampilkan pose terbaiknya.
Selain berfoto di sana, Justin dan Emeli di arahkan sang fotografer ke tempat-tempat indah yang berada di taman bunga sakura itu.
Setelah selesai berfoto, fotografer pun mengirimnya melalui aplikasi Hijau. Tak lupa sebelum pergi meninggalkan dua sejoli itu sang fotografer pun mengucapkan terimakasihnya sebab Justin dan Emeli sudah berkenan menjadi modelnya.
Justin yang tak suka berpangku tangan, segera meminta no rekening fotografer itu. Awalnya sang fotografer menolak, namun karena Justin memaksa, akhirnya sang fotografer pun memberikan nomor rekeningnya pada Justin.
"Terimakasih Tuan, semoga harimu menyenangkan," ucap Emeli menggunakan bahasa Jepang yang sempat ia cari di google.
"Sama-sama Nona," balas fotografer itu menggunakan bahasa Jepang dengan tubuh yang membungkuk hormat pada Emeli dan Justin.
"Baik sekali fotografer tadi," ucap Emeli pada Justin yang menampilkan wajah datarnya.
"Hm," dehem-nya singkat membuat Emeli kesal.
__ADS_1
"Dingin banget sih," cetus Emeli memanyunkan bibirnya membuat Justin menarik sudut bibirnya gemas.
"Kenapa bibirnya di monyong-kan begitu, minta di cium?" tanya Justin dengan wajah yang mulai mendekati wajah Emeli.
"Pletak," satu sentilan yang cukup kuat mendarat di kening Justin.
"Aduh sayang,,," aduh Justin sembari mengelus keningnya yang tak merasakan apa-apa namun ia sengaja berpura-pura sakit agar Emeli mau menciumnya.
Apa sesakit itu hingga dia mengadu begitu? tanya Emeli merasa bersalah sebab telah menorehkan rasa sakit di kening suaminya itu.
"Maafkan aku sayang, aku hanya gemas saja padamu dan tak berniat menyakitimu," ucap Emeli sembari mengelus kening Justin yang ia sentil tadi.
"Terus harus gimana Jus sayang?" tanyanya terdengar sedikit jengkel.
"Cium,,," ucap Justin sembari menunjuk bibirnya dengan wajah yang sendu.
Keningnya yang sakit namun kenapa bibirnya yang harus ku cium? tanya Emeli dengan mata yang menatap tajam pada Justin.
__ADS_1
"Pletak," Emeli mendaratkan satu sentilan lagi di kening Justin.
"Kenapa di sentil lagi sih sayang?" tanya Justin yang merasakan sentilan Emeli lebih kuat dari sebelumnya.
"Itu hukuman karena mengerjaiku dan modus, h," ucap Emeli membuat wajah ambek-nya lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Justin.
Susah sekali mengerjai sih Seceria mentari ini! Batin Justin lalu segera menyusul Emeli yang sudah sedikit jauh darinya.
"Sayang,,, tunggu," panggil Justin yang tak di hiraukan Emeli.
Kembali ke hotel milik Nardo, pagi ini terlihat Clara baru bangun dari tidur-nya. Ia mengerang kesal sebab tubuhnya sakit semua di sebabkan ulah Nardo yang menyentuhnya dengan sangat kasar dan tanpa henti. Tanpa Clara sadari, Nardo tersenyum sinis padanya sendari tadi dengan tubuh yang duduk di sopa.
"Apa kau ingin menggodaku lagi?" suara Nardo mengagetkan Clara membuat wanita itu mendongak menatap Nardo.
Clara langsung menutup tubuh polosnya yang sendari tadi menjadi pusat perhatian Nardo. "Dasar mesum!" ketus Clara lalu segera pergi ke kamar mandi dengan selimut yang ikut bersamanya.
"Hhhhhh," tawa Nardo memenuhi kamar President Suite itu.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan," geram Clara sembari melihat tubuhnya yang sudah seperti macan tutul di dalam kaca.