
Mari kita lihat, sebesar apa perjuangan dan keseriusanmu tentang hubungan kita kedepannya. Batin Emeli tanpa memutuskan tatapan matanya dari Justin.
"Sudahlah, aku lelah. Jika kau benar-benar sudah mencintai dan menyayangiku, maka pergilah dan jangan menoleh kepadaku lagi," ucap Emeli yang membuat jantung Justin seakan berhenti berdetak detik itu juga. Mata sembab nan merahnya juga membulat sempurna.
"A-apa yang ka-kau katakan sayang?" ucapnya dengan nafas yang tercekat di lehernya. "Ba-bagaimana bisa kau mengatakan hal itu padaku?" tanya tak percaya dengan ucapan Emeli.
"Terserah apa maumu Jus, intinya jangan temui aku lagi. Mungkin aku bisa memberikan kesempatan memulai kehidupan baru, namun itu tak lain ialah memulai kehidupan baruku tanpa dirimu!" ucapan Emeli seakan ribuan anak panah yang di lepaskan secara bersamaan di hati Justin.
"Dengar Emeli Cai," ucap Justin dengan nada penuh penekanan.
"Deg," jantung Emeli berdetak ketika mendengar Justin yang menyebut nama penanya.
Bagaimana bisa dia tau nama itu? apakah dia sudah membaca buku harianku? Batin Emeli bertanya-tanya dengan ekspresi bingung dan tak menyangkanya.
__ADS_1
"Kenapa? kau kaget aku mengetahui nama istimewa penuh rahasiamu itu?" tanya Justin dengan wajah yang sudah tak berjarak dengan Emeli. "Sudahlah Emeli, aku sudah mengetahui semuanya, aku tau kau masih mencintaiku, dan aku pun juga mencintaimu. Mau sekeras apapun kau ingin melepas diri dariku, maka aku akan melakukan berjuta cara agar kau tak bisa lari dariku!" ucap Justin dengan sangat serius nan penuh tekat.
"Darimana kau mengetahui nama itu? apakah kau membuka buku harianku? lancang sekali!" ucap Emeli dengan nada ketus nya. Justin tersenyum smirk mendengar ucapan Emeli.
"Ya, aku sudah membacanya," ucap Justin dengan wajah sendu nya. "Aku mohon padamu sayang, berilah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucapnya penuh harap.
"Huh," Emeli menghela nafasnya sembari berfikir. Ia tak tau harus berbuat apa, apakah dia harus mengakhiri semuanya atau memberikan kesempatan pada pria yang telah melukai hatinya itu.
"Sayang, kau tak harus memutuskannya sekarang, aku akan memberikan waktu padamu. Tapi izinkanlah aku tetap berada di sisimu," ucap Justin penuh harap.
"Baiklah, akan aku fikirkan," ucapnya lalu segera berdiri dan berjalan menuju tiga orang yang tengah duduk santai sembari menikmati minuman dingin di tangannya.
"Terimakasih kasih sayang," ucap Justin mengikuti Emeli dari belakang lalu memeluknya dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
"Bisa tidak kau jangan memelukku," ucap Emeli dengan nada yang penuh dengan peringatan.
"Maaf sayang, aku hanya terlalu bahagia dengan keputusanmu," ucap Justin dengan senyum yang tak kunjung pudar. Emeli yang haus tak memperdulikan ucapan Justin, ia terus melangkahkan kakinya hingga tiba di meja Leo, Riko, dan Sterla.
"Mbak, teh manis dingin satu ya," ucap Emeli sembari duduk di depan Leo.
"Dua mbak," sambung Justin membuat Emeli berdecak kesal. Justin yang mendapat tatapan tak bersahabat dari Emeli hanya terkekeh di sana.
Kenapa pria ini terlihat bahagia? apa jangan-jangan mereka sudah baikan? tapi bagaimana bisa? ah Leo, harusnya kau senang melihat wanita yang kau cintai berbaikan dengan pria yang di cintainya. Batin Leo sembari fokus menatap Emeli.
Berani sekali pria sok keren ini memandang istriku! Batin Justin menatap Leo dengan sorot mata tajamnya.
Aku sangat yakin jika Tuan Leo menyukai Nona Emeli. Selamat Tuan Justin, selamat sebab anda mendapatkan saingan yang sepadan. batin Riko yang sendari tadi sibuk memperhatikan sikap Leo dan Justin. Ia terlihat tersenyum samar menatap Justin yang masih sibuk menatap Leo.
__ADS_1