CINTA-ku Terhalang Persahabatan

CINTA-ku Terhalang Persahabatan
#Tidak Sabar Untuk Menemui Sang Pujaan Hati


__ADS_3

Karena tak ingin mendapatkan amukan dari Justin, Riko segera mempersiapkan segalanya dan tentunya dengan bantuan beberapa bawahannya. Satu jam telah berlalu, kini Justin maupun Riko sudah siap untuk terbang menemui Emeli di California.


Sendari tadi, Justin terus saja mengetuk benda di depan nya seakan tak sabar untuk segera tiba di California.


"Silahkan Tuan," ucap Pramugari sembari meletakan minuman dan makanan di depan Justin.


"Terimakasih," ucapnya dengan sangat kaku dan singkat.


"Sama-sama Tuan," ucap Pramugari tetap menampilkan senyum ramah nya walaupun hatinya sedikit jengkel dengan sikap Justin yang terlihat sangat tidak sopan dan cuek.


"Berapa lama lagi kita tiba Rik?" tanya Justin sembari memandang ke luar jendela. Di sana tak ada yang bisa ia lihat selai langit biru yang berselimut kan awan.


"Sebentar lagi pesawat akan mendarat Tuan," ucap Riko setelah melihat arlojinya sekilas.

__ADS_1


"Ct, Kenapa lama sekali!" decit terlihat kesal.


Bukan lama Tuan, namun anda saja yang sudah tidak sabaran untuk bertemu dengan Emeli. Batin Riko melirik wajah Justin yang terlihat gelisah.


Tak beberapa lama berada di dalam pesawat, kini mereka pun sudah tiba di negara Amerika tepatnya di California. Justin langsung mengembangkan senyumnya sebab tak lama lagi ia akan bertemu dengan pujaan hatinya.


"Tunggu aku sayang, aku akan menjemputmu dan membawamu pulang," gumam Justin yang tak dapat di dengar siapapun selain Allah dan dirinya sendiri.


"Mari Tuan," ajak Riko setelah melihat mobil jemputan telah tiba di depan mereka.


Sepenjang perjalanan menuju hotel, tak henti-hentinya Justin menikmati pemandangan di luar jendela. Ia melihat banyak sisa-sisa salju di California sebab di sana musim dingin akan segera usai.


Bagaimana keadaanmu sayang, apakah kau baik-baik saja selama musim dingin ini? bukankah kau tak terlalu kuat mengahadapi cuaca dingin? Batin Justin dengan pandangan yang masih setia menikmati pemandangan dari balik jendela.

__ADS_1


"Kita sudah tiba Tuan," ucap Riko setelah mobil yang di tumpanginya telah berhenti tepat di depan hotel.


Justin mengangguk lalu langsung turun dari mobil. Dengan cepat, iapun melangkahkan kakinya mengikuti Riko yang jalan terlebih dahulu. Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Justin pun segera pergi menuju kamarnya yang bersebelahan dengan Riko. Semua barang bawaan mereka telah di titipkan dan di bawah oleh staf pengangkut barang.


"Bruk," tidak tau karena lelah atau terlalu banyak fikiran, Justin langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang berseprai putih di kamar itu. Mata tajamnya kini menerawang dan menatap langit-langit kamar yang di desain sangat nyaman dan modern.


Aku merindukanmu Ceria ku sayang,,, Batinnya dengan mata yang perlahan-lahan mulai meredup.


Di kamar itu tak ada yang terdengar kecuali suara jam dinding yang setiap detiknya berdetak seperti melodi jantung Justin yang berdetak setiap memikirkan sang pujaan hatinya.


"Tok-tok-tok," suara ketukan pintu berhasil membuat Justin terbangun dari tidurnya. Perlahan namun pasti, Justin pun mulai membuka matanya lalu bangkit dari baringnya menjadi duduk.


"Siapa?" tanya Justin sembari mengucek matanya agar kembali jernih dan terang.

__ADS_1


"Saya Tuan, Riko," ucap Riko dari balik pintu. Justin segera menghampiri pintu lalu membuka nya.


"Cklek, masuklah," ucap Justin sembari mempersilahkan Riko masuk dengan keadaan kesadaran yang belum terkumpul seratus persen. Setelah berada di dalam, Riko segera duduk di sopa bersama dengan Justin.


__ADS_2