
"Bagaimana Ceria? apakah pakaiannya terlihat bagus di tubuhku?" tanya-nya sembari berputar membuat Emeli langsung menilai sembari berfikir. Mata gadis itu menyipit dengan tangan yang memegang dagunya.
"Bagus, tapi sepertinya ada yang kurang," ucap Emeli membuat Justin mengerutkan keningnya.
"Apa?" tanyanya bingung membuat Emeli tersenyum smirk.
"Kurang, sebab tidak ada aku sayang," sambung Clara sudah keluar dari ruang ganti membuat semua orang yang berada di sana terpukau dengan kecantikan gadis itu. "Bagaimana Emeli? sudah serasi belum?" tanya Clara mencoba membuat Emeli kesal.
"Bagus, kalian terlihat sangat serasi dan mengagumkan." satu kata itu berhasil membuat kedua calon pengantin itu tersenyum. Rina pun menyetujui ucapan yang di lontarkan Emeli. Kata-kata yang keluar dari mulutnya berhasil membuat hatinya yang rapu kembali merasakan sakit.
__ADS_1
Setelah melakukan fikting pakaian pernikahan, kini ke-tiga nya memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebelum kembali ke kediamannya masing-masing. "Apa pasar malam sudah buka jam segini?" tanya Emeli sembari melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 18:00 wib.
"Tentu saja sudah buka," sahut Justin sembari mengarahkan mobilnya memasuki kawasan pasar malam yang terlihat sudah ramai walaupun masih sore. Clara terlihat sangat senang melihat pasar malam itu. Ini adalah momen yang ia tunggu bersama Justin. "Ayo sayang," ajak Justin yang di angguki Clara.
Emeli yang masih berada di dalam mobil menerbitkan senyumnya dengan nafas yang di hembuskan secara perlahan. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya menjadi nyamuk bagi sepasang kekasih itu. "Huh, malas sekali rasanya aku untuk turut," gumamnya pelan dengan tubuh yang sudah menyandar di dinding kursi.
"Tok-tok-tok," suara gedoran Justin mengagetkan Emeli membuat gadis itu langsung menolehkan wajahnya ke arah jendela. "Cklek," Justin membuka pintu secara mendadak membuat Emeli yang bersandar terjatuh.
"Jus!" teriak Emeli sangat kesal membuat Justin langsung menyodorkan tangannya untuk membantu Emeli bangkit. Setelah berhasil bangkit, Emeli segera membersihkan pakaiannya yang terkena debu.
__ADS_1
"Cepatlah ceria," ucap Justin yang sudah menyusul Clara dan meninggalkan Emeli.
"Duluan," ucapnya yang langsung di angguki Justin.
Wajah tak senang Clara berubah ceria ketika Justin meninggalkan Emeli di belakang. "Yang kita ke sana yuk," ajak Clara yang langsung di angguki Justin. Sembari melangkah, Clara menatap sekilas ke arah Emeli yang juga menatapnya sembari tersenyum. Ia tak membalas senyum Emeli, membuat Emeli merasa gelagat tak enak di hatinya.
Menyusahkan, kenapa sih Justin mengajaknya! batinnya kesal sembari menerbitkan senyum paksa pada calon suaminya itu.
Tau begini, aku tidak ikut tadi. Sebegitu bencikah Clara padaku? padahal aku sama sekali tak merebut calon suaminya walaupun kenyataannya aku juga mencintai calonnya, batinnya masih memperhatikan Justin dan Clara yang hampir hilang dari pandangan.
__ADS_1
Karena tak ingin kehilangan jejak, Emeli segera menyusul sepasang kekasih itu. Iya berusaha memberikan jarak di antara dirinya dengan dua orang di depannya. Sepanjang jalan ia hanya bisa menutupi kesedihannya dengan wajah yang sangat ceria. Semua orang di tegur dan di sapa oleh Emeli. Tak jarang ada beberapa orang yang meminta nomor handphonenya agar bisa berteman. Emeli adalah salah satu orang yang sangat asih di ajak bicara dan berteman. Semua orang sangat nyaman dengannya. Jangankan dari kalangan muda, dari kalangan tua saja banyak teman Emeli. Tak tanggung-tanggung, kakek-kakek pun di temaninya.