
Di saat Justin terus menatap Emeli sembari menikmati makanannya, tanpa sadar Riko tersenyum samar melihat Justin. "Tuan," panggil Riko dengan nada pelan namun dapat di dengar oleh Justin.
"Hm," dehemnya sembari melirik Riko sekilas.
"Perhatian makanan anda Tuan," ucap Riko membuat Justin langsung sadar jika sendok di tangannya menyuap ke sampingnya yang kosong. Untung saja tidak ada yang melihatnya jika tidak pasti ia sudah menjadi bahan pembicaraan di sana. Tepatnya menjadi badut sementara yang menghibur para pengunjung.
"Terimakasih," ucapnya dengan nada datar namun masih bisa di lihat jika ia tengah menahan malu.
"Apa kau mau menyicipi makananku Mentari?" tanya Leo dengan tangan yang sudah siap memasukkan satu suapan ke dalam mulut Emeli.
Karena tak enak dan tak ingin Leo berkecil hati, Emeli pun menerima suapan itu yang seketika membuat Leo tersenyum senang.
__ADS_1
"Kurang ajar!" umpat Justin yang ingin bangkit dari duduknya hanya untuk menghampiri Emeli dan Leo.
"Tenanglah Tuan," ucap Riko dengan tangan yang sudah menahan bahu Justin agar kembali duduk. "Jangan gegabah Tuan, ingatlah dengan apa yang saya katakan sebelumnya," ucap Riko dengan ekspresi datarnya.
"Huh, maaf Rik, aku hanya terlalu terbawa emosi melihat pria itu," ucap Justin yang langsung membuat Riko mengangguk paham.
"Tidak apa Tuan, hal seperti ini memang sering terjadi di dalam sebuah hubungan," ucap Riko namun tak di tanggapi Justin sebab pria itu kembali sibuk menatap objek di depannya.
Setelah menyelesaikan acara makannya, kini terlihat Emeli bangkit dari duduknya dan meninggalkan Leo sendiri. Sepertinya gadis itu ingin pergi ke kamar mandi. Justin yang melihat Emeli menjauhi Leo segera menyusul Emeli secara diam-diam. Dia tak ingin kehilangan kesempatan ini. Riko yang melihat Justin yang sangat tidak sabaran hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Kembali ke kamar mandi, setelah selesai membuang hajatnya, kini Emeli beralih ke ruang kaca untuk merapikan penampilannya, tak lupa ia menambahkan bedak my baby di wajahnya dan pelembab di bibirnya. Emeli tersenyum puas dengan penampilannya saat ini. Ia sudah merasa bahwa dirinya adalah wanita tercantik di dunia.
__ADS_1
Lama sekali dia. Batin Justin yang saat ini tengah menunggu di luar kamar mandi khusus wanita. Ia menyandarkan tubuh tegap nan kekar nya di dinding sebelah pintu. "Cklek," suara pintu terbuka membuat Justin langsung menegakkan tubuhnya.
"Ceria," panggil Justin dengan tangan yang sudah menangkap pergelangan tangan Emeli.
"Deg," jantung Emeli berdetak seketika. Perlahan ia pun menolehkan wajahnya ke asal suara.
"Ka-kau!" ucap Emeli seakan tak sanggup untuk merangkai sebuah kalimat.
"Ceria," ucap Justin lalu langsung memeluk Emeli yang kini mematung sebab terkejut dan tak menyangka jika akan bertemu dengannya.
Bagaimana dia tau keberadaanku? padahal Papa sudah berusaha keras untuk mencarikan tempat yang paling aman dari nya. Batin Emeli dengan tatapan hampanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Ceria," ucapnya sembari menggoyang tubuh Emeli dengan pelan agar gadis itu segera sadar dari lamunannya.
Emeli yang tersadar dan kembali mengingat apa yang di lakukan Justin kepadanya langsung mendorong Justin dengan kasar. "Jangan menyentuhku! pergilah, jangan ganggu aku!" Bentak Emeli sembari melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Justin yang melihat Emeli yang menghindar segera menangkap pergelangan tangannya kembali.