
"Apakah menantu saya mengatakan hendak pergi kemana Bi?" tanya Ela sembari menatap Bibi.
"Tidak Nyonya," jawabnya singkat dengan kepala yang mengangguk pelan.
"Baiklah Bi, Terimakasih," ucap Ela sembari menerima segelas susu hangat yang di berikan Bibi.
"Sama-sama nyonya," ucapnya lalu segera keluar dari kamar Ela.
Setelah memakan bakso langganannya, Emeli dan Justin pun pergi ke mall untuk menonton bioskop seperti yang sering mereka lakukan dulu. Di sana mereka memilih menonton film bergenre romansa. Tak biasanya pilihan mereka beralih dari selain film horor. "Kenapa kau memesan film seperti ini?" tanya Emeli terlihat tak nyaman dengan adegan romantis yang sedang berputar di depannya. Mereka berbicara dengan nada setengah berbisik sebab tak ingin para pengunjung lain terganggu dengan suara mereka.
"Apa salahnya kita mencoba gendre film yang lain selain film horor, apakah kau tidak bosan sayang selalu melihat adegan yang menyeramkan," ucap Justin dengan santainya.
"Apakah menurutmu adegan di film ini tidak menyeramkan? rasaku film ini lebih menyeramkan dari pada film horor yang sering kita tonton!" ucap Emeli dengan nada ketusnya.
__ADS_1
"Hhhhhh, sudahlah sayang,,, nikmati saja, kau mengatakan film ini menyeramkan sebab belum terbiasa melihatnya," ucap Justin dengan tangan yang sudah berada di belakang Emeli.
"Jauhkan tanganmu, apakah kau mengirah tangan kingkongmu itu empuk!" kesalnya membuat Justin terkekeh gemas melihat penolakan Emeli.
"Tanganku memang empuk sayang,,, cuma kau saja yang belum terbiasa dengannya," jawab Justin yang membuat hati Emeli merasa jengkel.
"Empuk dari mananya, mungkin jika di bandingkan dengan batu pasti batu itu lebih empuk dari tangan jelekmu itu!" ucap Emeli sembari menyentuh lengan Justin dengan jari telunjuknya.
"Sayang," panggil Justin sembari memperhatikan Emeli yang saat ini tengah fokus menatap layar di depannya.
"Dasar modus!" kesalnya dengan tangan yang sudah mendaratkan satu cubitan di pinggang Justin.
"Sakit sayang,,," aduhnya sembari mengelus bekas cubitan Emeli yang terasa sakit dan panas.
__ADS_1
"Rasain!" ketusnya dengan tangan yang sudah bersedekap di dada. Emeli terlihat menatap layar di depannya dengan wajah ngambek.
Hhhhhh, gemesnya,,, Batin Justin seakan tak peduli dengan Emeli yang tengah kesal padanya.
Setelah film berakhir, Justin maupun Emeli segera keluar dari bioskop. Sepanjang jalan keluar dari lantai paling atas hingga lantai paling dasar, tak henti-hentinya beberapa orang melirik sinis ke arah Justin dan Emeli. Bahkan tak jarang ada yang mencibir mereka. Emeli yang memperhatikan sikap beberapa orang yang melewatinya terlihat heran. Saking herannya ia sampai melirik Justin yang menampilkan wajah datar nan arrogantnya.
"Jus," panggil Emeli yang seketika membuat Justin menolehkan pandangannya menatap Emeli.
"Iya sayang," sahutnya dengan kaki yang terus melangkah berbarengan dengan langkah Emeli.
"Apa kau tidak merasa heran dengan tatapan beberapa orang yang melewati kita? tatapan mereka terlihat begitu sinis," ucap Emeli dengan raut wajah seriusnya.
"Jangan hiraukan sayang, biarkan saja mereka," ucap Justin sembari merangkul Emeli.
__ADS_1
"Apanya yang harus di hiraukan, pasti ada yang tidak beres!" ucap Emeli dengan ekspresi cemasnya.
"Ayo masuk," ucap Justin sembari membuka kan pintu mobil untuk Emeli. Setelah Emeli masuk, Justin pun menyusul masuk. Riko yang sendari tadi menunggu, segera menjalankan mobilnya.