
"Hm," dehemnya sembari mengangguk pelan.
"Baiklah, kalau begitu biarkan aku dan Leo yang membelinya." ucap Emeli yang seketika langsung membuat Justin kalang kabut. Emeli ingin sekali tertawa namun ia menahannya.
"Baiklah, aku akan membelinya." ucap Justin lalu dengan cepat mengambil kunci mobil dari tangan Riko. Riko dan semua orang yang berada di sana terlihat heran melihat kelakukan Justin yang terlihat sedang terburu-buru.
"Suamimu mau kemana Nak?" tanya Bowo dengan wajah penasarannya.
"Mau membeli makanan Pa untuk kita," ucap Emeli pada Bowo.
"Kalau begitu temanilah suamimu Nak, kasihan dia pergi sendirian," ucap Bowo yang tak bisa di bantah oleh Emeli.
"Baiklah Pa," ucap Emeli lalu segera menyusul Justin menuju mobil.
"Sial! jika saja bukan karena ancaman Ceria yang ingin pergi bersama bedeb*h sial*n itu, sudah pasti aku tak mau pergi membeli makanan untuk semuanya!" umpat Justin dengan nada kesalnya.
"Jadi kau tak ikhlas membelinya untukku?" tanya Emeli yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Justin.
"Deg," jantung Justin berdetak sebab terkejut mendengar suara Emeli.
__ADS_1
Tamatlah riwayatku! Batin Justin sembari mengutuki dirinya sendiri.
"Sa-sayang, sejak kapan kau berada di sampingku?" tanya Justin menutup kegugupan nya dengan cara mengalihkan pembicaraan.
"Tak perlu tau kenapa aku bisa berada di sampingmu dan jangan mengalihkan pembicaraan, apakah kau tak suka aku menyuruhmu membeli makanan?" tanya Emeli dengan nada yang terdengar kesal.
"Tentu saja aku sangat suka, apalagi pergi bersamamu sayang," ucap Justin dengan senyum manis nan menggodanya.
"Cih, jangan tersenyum padaku!" ucapnya yang berbanding terbalik dengan hatinya yang sangat bahagia.
"Kenapa aku tidak boleh tersenyum padamu sayang? apakah kau takut cintamu padaku semakin bertambah?" ucap Justin dengan sangat percaya dirinya.
"Kau ini kepedean sekali!" ketus Emeli sembari memberikan lirikan sekilasnya pada Justin.
"Sudahlah, ayo cepat jalan, semua orang sudah lapar dan menunggu kita!" Emeli menyembunyikan rasa malunya di balik sikap ketusnya.
"Kau terlihat semakin cantik jika marah begini," goda Justin sembari terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah cepat Emeli.
"Siapa yang marah," elak Emeli dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Kaulah siapa lagi?" tanya Justin sembari merangkul bahu Emeli namun sayang rangkulannya langsung di lepaskan oleh Emeli.
"Menjauh dan jangan merangkulku, tanganmu itu sangat berat tau!" ketusnya yang semakin membuat Justin semakin gemas dan bersemangat menggodanya.
"Gemes banget sih," ucap Justin sembari menarik pipi Emeli dengan gemasnya.
"Awh Jus!" aduh nya sembari mengelus pipinya yang terasa sakit dan panas.
"Begitu saja sudah kesakitan apalagi merasakan yang lain!" ucap Justin yang langsung mendapat tatapan kesal dari Emeli.
"Yang lain apa maksudmu?" tanyanya membuat Justin tak dapat menahan tawanya.
"Ya tentu saja yang itu," ucap Justin dengan wajah yang semakin membuat Emeli kesal.
"Itu apa?!" tanya masih dengan ekspresi yang sama.
"Mau tau atau mau tau bangettttt," ucap Justin sembari menjalankan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah sakit.
"Ih,,," saking gemasnya Emeli pun melayangkan pukulan bertubi-tubi di bahu Justin.
__ADS_1
"Ampun-ampun, sakit sayang," ucapnya sembari mengelus bahunya yang sedikit sakit.
"Makanya kalau orang serius, jawabnya juga serius!" ucap Emeli dengan tubuh yang sudah menghadap ke arah Justin.