Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 100


__ADS_3

Di hari pertama Kalila dan Dimas bekerja, sepasang muda-mudi yang mengikrarkan diri sebagai sahabat selamanya itu, terlihat cukup sibuk. Undangan makan siang dari Bu Ghita pun, terpaksa tidak bisa dipenuhi oleh Kalila dan juga Dimas. Sehingga Bu Ghita menggantinya dengan makan malam bersama. Kalila dan Dimas pun menyetujuinya.


Sementara itu, seluruh staff divisi desain dan perencanaan, meminta maaf kepada Dimas, karena mereka bersikap kurang sopan terhadap pria itu.


“Kalian santai saja. Lagian kita satu tim, dan saling membutuhkan. Jadi seharusnya kita saling menghormati, bukan begitu?”


Ucapan Dimas dijawab dengan anggukan oleh seluruh staff yang keseluruhannya adalah pria. Hanya Kalila sendiri yang bukan seorang pria. Kalila sudah biasa menghadapi hal semacam itu. Karena sewaktu kuliah, di jurusannya— teknik sipil— hanya ada empat orang wanita.


“Kalian ini, kok bisa langsung sibuk di hari pertama masuk kerja sih?!” ujar Bu Ghita kesal. Kalila dan Dimas hanya menjawabnya dengan tersenyum.


Kini Bu Ghita, Kalila dan Dimas, tengah makan di warung pecel lele pinggir jalan. Mereka bertiga terlihat lahap sekali. Kalila dan Dimas, bahkan memesan satu porsi nasi tambahan untuk mereka bagi berdua. Bu Ghita menggelengkan kepalanya melihat nafsu makan Kalila.


Namun, melihat tingkah Kalila, tidak membuat Bu Ghita merasa jijik. Bu Ghita malah tambah menyukai Kalila. Gadis itu benar-benar tidak menutupi perilaku aslinya. Benar-benar apa adanya.


Hampir satu jam mereka di sana. Dimas dan Bu Ghita pun mengantarkan Kalila kembali ke kediamannya.


***


Dua Minggu menjalani masa OJT (Orientation Job Training), Kalila benar-benar tidak bisa mencuri waktu untuk makan di luar bersama Bu Ghita. Berbeda dengan Dimas. Sebenarnya pria itu bisa saja menyempatkan makan siang bersama dengan ibunya. Namun, Bu Ghita meminta anak semata wayangnya itu, untuk menemani Kalila menyantap makan siangnya. Dan hampir setiap hari, setelah masa jam bekerja selesai, Kalila makan malam bersama Bu Ghita dan juga Dimas.


Banyak sekali hal-hal yang dipelajari oleh Kalila dan Dimas sela dua Minggu ini. Hingga di akhir masa OJT (Orientation Job Training) mereka, Ibrahim memberikan tugas kepada Dimas, Kalila dan Harry untuk memenangkan suatu proyek kecil dengan Dimas sebagai real leadernya.


Ibrahim juga ingin melihat sejauh mana jiwa kepimpinan seorang Dimas Adi Putra.

__ADS_1


Ketiga orang yang baru bergabung bersama PT. Adi Putra Group, mengerjakan proyek pertama mereka dengan sungguh-sungguh. Waktu dia satu Minggu yang diberikan, sangat lebih dari cukup.


Kalila tentu saja sangat antusias mengerjakan proyek pertamanya. Selain untuk membuktikan kemampuannya kepada dirinya sendiri, Kalila juga bersemangat sekali menunjukkan hasil kinerjanya kepada Ibrahim.


Dua Minggu bekerja di perusahaan yang sama, bahkan di divisi yang sama, tidak membuat Kalila bisa bertemu Ibrahim setiap saat. Bahkan Kalila sama sekali tidak pernah bertatap muka dan mengobrol dengan Ibrahim, walau hanya satu detik.


Sebagai seorang staff biasa, tentu saja kau tidak bisa bertemu dan berbincang dengan direktur setiap saat. Bahkan proyek yang harus mereka menangkan tendernya itu, hanya disampaikan oleh Indra— Asisten Ibrahim— di ruang kerja Dimas.


Maka dari itu, melalui proyek pertama yang dikerjakannya, Kalila akan memberikan seribu persen kemampuannya.


Waktu satu Minggu pun berlalu. Tiba saatnya Dimas, Kalila dan Harry mempresentasekan proposal mereka di depan Ibrahim. Sebelum akhirnya di presentasekan di hadapan beberapa direktur lainnya. Seperti direktur pemasaran dan direktur keuangan.


Dan hasil kinerja mereka sangat bagus. Ketiga direktur itu sangat menyukai apa yang ada di proposal yang mereka buat.Dan Ibrahim langsung mengajukan proposal buatan Dimas, Kalila dan Harry. Dan dalam waktu satu Minggu, akhirnya di dapat kabar, jika perusahaan mereka memenangkan tender itu.


Dimas, Kalila dan Harry diminta datang ke ruang kerja Ibrahim. Kalila merasa sangat berdebar. Setelah satu bulan bekerja, ini kali keduanya akan bertemu Ibrahim. Sejak presentase proposal proyek Minggu lalu, ini kali kedua Kalila akan bertemu pria pujaannya.


“Apa kita akan dapat penghargaan ya, karena berhasil memenangkan tender?” oceh Harry. Kalila dan Dimas hanya menaikkan kedua pundak mereka bersamaan, sebagai isyarat jika mereka tidak tau apa-apa mengenai hal itu.


“Atau jangan-jangan ... Kita akan diberikan bonus!” ucap Harry kembali. Dimas dan Kalila, kini menggelengkan kepala mereka. Bukan karena apa yang diucapkan Harry tidak benar. Melainkan mereka merasa heran dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting, yang keluar dari mulut Harry.


“Bisa jadi, kita akan diberi kenaikan gaji!” Kali ini Kalila dan Dimas hanya menanggapinya dengan tertawa kecil. Bagaimana mungkin, orang yang baru satu bulan bekerja sudah mendapatkan kenaikan gaji? Entah apa yang ada di pikiran Harry. Mungkin pria itu butuh air mineral yang berasal dari pegunungan, agar supply oksigen di tubuhnya mengalir dengan lancar.


Dimas ingin mengetuk pintu, ketika mereka sudah berada tepat di depan pintu ruangan direktur perencanaan.

__ADS_1


“Biar, saya saja yang mengetuk Boss. Sekali-kali saya ingin tau rasanya menyentuh pintu ruang kerja direktur. Siapa tau, suatu saat saya bisa menjadi seorang direktur. Kalila dan Dimas berusaha menahan tawa mereka.


Setelah Harry mengetuk, pintu itu pun terbuka. Dimas, Kalila, dan Harry masuk ke sana. Mereka masuk dengan wajah sumringah. Berharap akan mendapatkan setidaknya sebuah pujian untuk hasil kerja mereka.


Senyum Kalila dan Harry terus mengembang. Walaupun di ruangan direktur mereka, terdapat dua orang yang tak mereka kenal.


Berbeda dengan Dimas. Senyum pria itu seketika luntur. Wajah yang tadinya sumringah, tiba-tiba menjadi tegang. Bukan karena dia takut dengan orang yang duduk di sofa itu. Melainkan karena Dimas takut, jika Kalila mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.


“Perkenalkan, yang duduk di hadapan saya adalah Papa saya sendiri— Gilang Adi Putra— yang merupakan Direktur Utama di perusahaan ini,” ucap Dimas. Kalila dan Harry seketika merasa takjub. Tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dan lihat. Terlebih Kalila. Gadis itu bahkan bergumam 'calon mertuaku,' tentu saja hal itu tidak di dengar oleh Dimas dan Harry.


“Sedangkan yang duduk di sebelah kiri saya. Beliau adalah founder, sekaligus pemilih Sahab terbesar di perusahaan ini. Kakek saya— Adi Putra. Lagi-lagi bola mata Kalila dan Harry hampir keluar, mendengarkan apa yang diucapkan Ibrahim.


Mimpi apa mereka, hingga bisa bertemu dengan pendiri perusahaan di mana tempat mereka bekerja. Ibrahim juga mengenalkan Kalila dan Harry kepada ayah dan kakeknya itu.


“Halah ... Baru memang proyek kecil saja sudah bangga!” Dimas seketika tertunduk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2