Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 34


__ADS_3

Enam bulan yang lalu, Bu Alinah mendapatkan kabar yang sangat membuatnya bahagia. Lagi, lagi dan lagi, Khalid membuatnya bangga. Anak sulungnya itu diterima bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup. Tak pernah terbayangkan oleh Bu Alinah sebelumnya. Keluarga besar Feni pun turut bahagia mendengar kabar itu.


Dan hari ini, enam bulan setelah dirinya resmi menjadi aparat negara di kementerian lingkungan hidup, Khalid resmi mempersunting Feni.


***


Kalila, Rina dan Anita, kini berada di kamar pengantin. Menemani Feni yang tengah menanti saat-saat akad nikahnya bersama Khalid.


“Bisa-bisanya kau menikah dengan idola kami, Fen!” ucap Rina. Anita juga mengangguk cepat.


Mereka merasa sedikit dihianati oleh sahabatnya ketika SMP itu. Kalila hanya terkekeh mendengar ocehan kedua sahabatnya itu. Pasalnya, sejak SMP, Rina dan Anita selalu berusaha dekat dengan Khalid. Bahkan mereka sering mengirimkan pesan untuk kakak sulung Kalila itu.


“Asal kalian tau, mereka sering chattingan sejak kita SMP!” ucap Kalila terkekeh.


“Apa!!”


Rina dan Anita mengerjap tak percaya. Pasalnya Feni begitu jauh dengan teman-teman pria sejak dulu. Gadis itu benar-benar menjaga pergaulannya dengan lawan jenis.


“Waktu itu Bang Alid yang sering menghubungi. Kami hanya mengobrol tentang Lila,” ucap Feni membela diri. Rina dan Anita menatap tajam Feni, hingga membuat Kalila terkekeh.


“Musuh dalam selimut!” ucap Rina. Kalila terkekeh mendengar ungkapan yang dilontarkan oleh Rina. “Serigala berbulu domba,” lanjut Rina lagi.


“Air tenang menghanyutkan!” ucapnya Kalila menambahi.


“Bagai air di daun keladi!” balas Anita. Dahi Rina, Kalila dan Feni mengerut, menatap Anita. “Kenapa?” tanya Anita heran. Ketiga sahabat Anita hanya menggelengkan kepala mereka dan kini mereka tertawa geli.


“Ada apa sih?!” tanya Anita kesal. “Bukannya kita sedang berpantun?” tanyanya.

__ADS_1


“Itu pribahasa, bukan pantun, paok (bodoh)! Dan pribahasa yang kau ucapkan itu, tidak sesuai dengan situasi!” umpat Rina.


“Jangan-jangan kau tidak tau arti dari pribahasa yang kau ucapkan itu?” tanya Kalila. Anita hanya mengangkat kedua bahunya. Gadis yang hobi melukis itu memang tidak tau sama sekali. “Karena Lila mengucapkan tentang air, aku berusaha mengingat pantun tentang air—”


“Peribahasa, bukan pantuuun ... Wooiii!” ucap Rina kesal.


“Ya, apapun itu. Aku hanya mengingat bagai air di daun keladi. Seperti lirik lagu jadul yang sering di putar ayahku!” sungut Anita.


Kalila, Rina dan Feni menggelengkan kepala. Kembali mereka bertiga terkekeh-kekeh. Sementara Anita hanya menatap malas, ketiga sahabatnya itu.


Di tengah kegaduhan yang terjadi di kamar pengantin, terdengar suara dari luar kamar itu. Tanda bahwa acara akad nikah akan segera dimulai. Feni menanti di kamar dengan gelisah. Gadis 18 tahun itu baru akan menemui Khalid, ketika sang pujaan hati sudah mengucapkan janji suci pernikahan mereka. Ketika mereka telah sah di mata agama, menjadi sepasang suami-istri.


“Duh ... aku deg-degan nih,” ungkap Feni. Kalila memeluk sahabatnya, mengelus-elus pundak Feni. “Kau tenang saja. Abangku itu ingatannya cukup tajam, dia tidak akan salah menyebutkan nama mempelai wanitanya,” canda Kalila.


“Aku sih berharap Bang Alid mengucap nama Anita Soraya binti Saepudin,” ucap Anita menyebutkan namanya sendiri sambil terkekeh. Feni menatap Anita dengan mata melebar. Hal itu membuat Kalila dan Rina juga ikut terkekeh bersama Anita.


Tak lama terdengar suara lantang dari luar kamar pengantin.


Kata 'sah' dari saksi dan orang-orang yang berada di ruangan itu, menjadikan Khalid dan Feni, kini resmi sebagai suami istri. Feni yang mendengar ijab yang diucapkan Khalid, mengusap air yang menggenang di sudut matanya.


“Akhirnya aku jadi seorang istri,” ungkap Feni. Ketiga sahabat Feni, memeluk gadis itu. Gadis yang berulang tahun, tepat di hari pernikahannya.


Ya, benar. Hari ini, hari di mana pernikahan Khalid dan Feni diselenggarakan, juga merupakan hari kelahiran Feni. Hari ini, Feni genap berusia 18 tahun.


Perbedaan usia lima tahun dengan Khalid, tidak menjadi halangan buat mereka untuk segera melangsungkan pernikahan. Menikah di usia yang begitu muda, banyak mata yang menyoroti sikap yang diambil Feni. Namun gadis itu tidak gentar. Dengan restu dan do'a dari kedua orang tuanya, Feni sudah menyiapkan diri untuk menjadi seorang istri. Juga menjadi seorang ibu buat anak-anaknya kelak.


Acara pernikahan Khalid dan Feni berlangsung cukup meriah. Banyak tamu undangan yang hadir, termasuk pewaris Adi Putra group. Ibrahim Adi Putra dan Dimas Adi Putra. Kedua pria itu tiba di kota Medan, sehari sebelum hari pernikahan Khalid dan Feni. Menginap di hotel dekat kediaman Kalila, menjadi pilihan kedua pria muda itu.

__ADS_1


Kalila yang paling bahagia saat ini. Kedatangan pria yang dia cintai, dan sahabat yang dia sayangi, mengobati rasa kecewanya karena tidak lulus ujian masuk universitas negeri.


Kini gadis itu duduk di meja yang sama, dengan Ibrahim, Dimas, Anita dan Rina. Kedua sahabat Kalila itu terus mengajak Ibrahim dan Dimas berbincang. Dimas tentu saja menanggapinya dengan santai. Pria itu terlihat begitu ramah. Rina dan Anita menyukainya.


Sementara Ibrahim, pria itu terlihat kurang nyaman dengan sikap centil Rina dan Anita. Ibrahim hanya diam dan sesekali tersenyum tipis.


“Bang Ibra diam saja dari tadi. Apa mau Anita ambilkan camilan manis semanis Anita,” goda Anita. Rina dan Dimas terkekeh mendengar ucapan Anita. Terlebih kedua kelopak mata Anita berkedip-kedip centil menatap Ibrahim.


“Anita, kau jangan mengganggu Bang Ibra. Dia sudah ada yang taken. Mending kau ambilkan camilan buat aku,” ungkap Dimas. Anita dan Rina saling pandang. Terlebih Dimas mengatakannya sembari melirik Kalila.


“Jangan katakan, kalau Kalila dan bang Ibra ...,” ucapan Rina terhenti kala Ibrahim mengatakan jika dia tidak berpacaran. Entah kenapa hati Kalila sedikit nyeri mendengarnya.


“Saya tidak dekat dengan wanita mana pun saat ini.”


Begitulah Ibrahim mengatakannya. Walau dia mengucapkannya dengan lembut, hati Kalila malah terasa seperti dihujam oleh bambu runcing yang di bawa pasukan Indonesia ketika menyerang tentara Belanda. Sakit.


Dimas melirik wanita di sebelahnya. Dimas menyesali perkataannya tadi. Sebenarnya pria itu tidak menyangka jika Ibrahim akan berkata seperti itu. Dia pikir Ibrahim hanya akan diam dan tersenyum tipis seperti yang dia lakukan sedari tadi.


Apa Aa' sudah tidak tertarik lagi dengan Kalila?


Pertanyaan itu terus terlintas di benak Dimas sejak saat itu.


BERSAMBUNG ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2