Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 86


__ADS_3

“Maaf ya Lila, ada rapat mendadak. Sepertinya aku tidak bisa menjemput kau. Mungkin lain kali.”


Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Ibrahim, setelah Kalila menunggunya selama dua puluh menit. Kalila yang merasa kesal, tidak membalas pesan dari pria pujaannya itu. Kalila pun bergegas memesan layanan jasa ojek online, dan beranjak dari tempat itu.


Setelah Ibrahim tidak jadi menemaninya melakukan pemeriksaan kesehatan kemarin, sekarang Ibrahim juga mengingkari janjinya. Pria itu bahkan membatalkan janjinya, dua puluh menit setelah Kalila menunggunya. Kalila benar-benar sedih dan kecewa dibuatnya.


Seandainya Ibrahim membatalkan janji itu sebelum Zuhur, mungkin Kalila tidak akan sekecewa ini. Tapi Ibrahim membatalkan janji, setelah dua puluh menit Kalila menunggunya. Anneke bahkan ikut menemaninya menunggu selama sepuluh menit.


***


“Loh ... Kok diantar abang ojek? Tadi pagi kau gembar-gembor akan dijemput sama putra mahkota itu. Apa Abang ojek itu putra mahkotanya?” ejek Feni. Kalila hanya diam. Dengan wajah ditekuk, gadis itu melangkah cepat menuju kamarnya.


Kalila langsung menghempaskan tubuhnya yang lelah. Sudah merasa kesal karena Ibrahim membatalkan janjinya begitu saja, begitu tiba di rumah, Kalila semakin merasa kesal karena Feni—yang terang-terangan tidak menyukai Ibrahim— mengejeknya. Sudah dua kali wanita hamil itu mengejek Kalila perihal Ibrahim. Feni sudah memeringati adik iparnya itu, untuk tidak terlalu berharap dengan Ibrahim. Karena pria itu tidak menunjukkan keseriusannya kepada Kalila.


Di mata Feni, Ibrahim malah terlihat terlalu meremehkan Kalila. Berbulan-bulan tidak menghubungi Kalila dan memberikan kepastian kepada gadis itu, kini, sudah dua kali Ibrahim membatalkan begitu saja janjinya dengan Kalila. Jelas sekali jika pria yang diagung-agungkan oleh suaminya itu, tidak menganggap penting kehadiran Kalila. Feni benar-benar tidak menyukai Ibrahim.


Dan pada malamnya, Dimas sampai mengepalkan tangan, ketika tau Ibrahim membatalkan janjinya kepada Kalila. Dimas tidak habis pikir dengan tindakan sepupunya itu. Jika memang dia tidak menyukai Kalila, setidaknya pria itu jangan memberikan harapan palsu kepada Kalila.


“Lila kadang tidak mengerti dengan Bang Ibra.”


“Apa kau mulai bimbang dengan perasaan kau?” tanya Dimas. Pria itu bahkan sangat berharap Kalila menjawab 'ya' atas pertanyaan yang diajukannya. Namun, itu hanya sekedar harapan. Nyatanya Kalila menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


“Perasaan Lila masih sama Bang. Entah mengapa, sulit sekali melupakan Bang Ibra. Pesona Bang Ibra terlalu kuat,” jelas Kalila. Dimas hanya tersenyum tipis menanggapinya. Padahal jelas-jelas Ibrahim sudah mengecewakan dirinya, namun Kalila masih begitu menyukai Ibrahim.


Tidak mau Kalila bersedih terlalu lama, Dimas pun mengalihkan pembicaraan mereka. Dimas bahkan mengatakan hal yang membuat Kalila membelalakkan matanya.


“Tepatnya hari apa Bang Dim pulang ke Indonesia?!” tanya Kalila heboh. Wajah gadis itu seketika berbinar, ketika mengetahui, Dimas akan kembali ke Indonesia pekan depan.


“Pokoknya aku akan memberikan kejutan untuk kau. Kau tunggu saja.”

__ADS_1


Kalila mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Dimas. Gadis itu sebenarnya ingin menjemput Dimas ke bandara, menyambut kedatangan sahabatnya itu. Walaupun baru lima bulan mereka tidak bertemu, rasa rindu keduanya sudah membuncah.


“Pokoknya, kalau kau sudah rindu sekali dengan calon imam kau ini, kau sebut saja namaku tiga kali. Aku pasti akan muncul dihadapan kau dalam waktu satu menit,” ucap Dimas sembari terkekeh. Sementara Kalila menutup matanya sejenak.


“Kau mengantuk?” tanya Dimas. Namun Kalila tetap diam. Hingga beberapa detik kemudian, Kalila menatap tajam kepada pria yang tampil di layar ponselnya.


“Mana?!” Ucap Kalila kesal. Alis Dimas bertaut, menatap bingung pada gadis yang ada di hadapannya secara virtual itu.


“Katanya kalau Lila mengucapkan nama Bang Dim sebanyak tiga kali, dalam satu menit, Bang Dim akan muncul di hadapan Lila. Mana buktinya?! Lila sudah mengucapkan nama Bang Dim tiga kali, dan ini sudah lebih dari satu menit, tapi Bang Dim belum muncul juga di sini!”


Dimas tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kalila. Sementara gadis itu terus menatap tajam pada layar ponselnya. “Itu hanya berlaku, jika kau sudah sangat merindukan aku,” ucap Dimas yang masih terkekeh.


“Tentu saja aku sangat merindukan Band Dim!”


Seketika tawa Dimas terhenti. Mendengar pengakuan Kalila yang sangat merindukannya, membuat jantung saat berdetak kencang. Ingin sekali rasanya pria itu memeluk erat Kalila. Karena dirinya juga teramat sangat merindukan gadis itu.


“Kau benar-benar sangat merindukan aku, Kalila?”


“Memangnya aku kenapa?” tanya Dimas lembut.


“Bang Dim tidak pernah merindukan Lila!”


Entah mengapa ucapan Kalila membuat Dimas menarik kedua sudut bibirnya. Pria itu tersenyum lembut, menatap bayang Kalila di layar ponselnya.


“Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu. Setiap hari, aku selalu merindukan kau, Kalila,” aku Dimas. Namun Kalila malah menggerutu.


“Kalau Bang Dim juga merindukan Kalila, Bang Dim tidak mungkin selalu mengancam Kalila. Mengancam tidak akan menghubungi Kalila lagi!”


Dimas masih tersenyum lembut, menatap gadis itu. “Aku itu sangat merindukan kau, Kalila. Apa kau tidak memercayai aku?”

__ADS_1


“Tidak!” jawab Kalila. “Kecuali, Bang Dim memberitahukan, hari apa dan tanggal berapa Bang Dim pulang ke Indonesia. Sekalian sama jam penerbangannya,” ujar Kalila riang.


“Ternyata ucapan kau itu hanya modus saja! Aku tidak akan terpengaruh modus kau, Kalila.”


Kalila kembali mengerucutkan bibirnya. Sementara Dimas, lagi-lagi menertawakan tingkah gadis itu. “Yang jelas, dari bandara, aku akan langsung menemui kau. Kau adalah orang pertama yang akan aku temui.”


“Yang benar Bang?!” pekik Kalila. Menjadi orang pertama yang ditemui Dimas begitu tiba di Indonesia, membuat hati Kalila menghangat. Dirinya merasa tersanjung. Dimas pun mengangguk, membenarkan pertanyaan Kalila.


“Serindu itu aku dengan kau, Kalila. Rinduku pasti lebih besar dari rindu yang kau rasakan itu!” cebik Dimas. Kalila yang merasa tidak terima dengan pernyataan Dimas pun, mengaku, jika dirinyalah yang rasa rindunya lebih besar ketimbang Dimas. Dan mereka terus berdebat tentang siapa yang rasa rindunya lebih besar. Hingga akhirnya mereka pun terkekeh bersama. Menertawai tingkah absurd diri mereka masing-masing.


***


Keesokan harinya, tanpa memberitahukan kepada Kalila lebih dulu, Ibrahim sudah ada di depan yayasan tempat Kalila bekerja. Menebus rasa penyesalannya karena tidak bisa bertemu dengan Anneke kemarin siang. Padahal pria itu sudah menyiapkan mental untuk berkenalan secara resmi dengan Anneke.


[Ibrahim : Aku sudah ada di depan yayasan.]


Begitulah isi pesan Ibrahim. Dengan wajah sumringah Kalila yang tengah berjalan menuju gerbang yayasan, mempercepat langkahnya. Gadis itu sudah tidak sabar untuk segera bertemu pria pujaannya.


Sementara Ibrahim merapikan pakaiannya dan menyemprotkan penyegar napas ke dalam mulutnya. Pria itu juga merapikan rambutnya. Dirinya harus terlihat rapi ketika bertatapan langsung dengan Anneke.


Namun, apa yang dibayangkan Ibrahim, tidak sesuai dengan harapan. Kalila tidak bersama dengan gadis cerdas nan anggun itu.


Melihat Kalila menghampiri mobilnya, Ibrahim pun menurunkan kaca jendela mobilnya. “Hai, Bang Ibra,” sapa Kalila sembari melongok ke dalam mobil Ibrahim. Sementara Ibrahim celingak-celinguk mencari sosok yang di rindukan.


“Ke mana kepala sekolah yang selalu bersama kau itu?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2