Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 79


__ADS_3

PT. Adi Putra Group. Perusahaan yang didirikan oleh seorang pria bernama Adi Putra. Terlahir dari keluarga berada, membuat pria yang lulus dari salah satu universitas ternama di negeri Belanda itu, dengan mudah mendapatkan investasi untuk perusahaan yang baru didirikannya.


Bisa kalian bayangkan, saat Indonesia baru merdeka satu dekade, seorang pria bernama Adi Putra sudah berkuliah ke Belanda. Jika tidak karena pintar, pastilah karena orang tuanya memiliki uang yang banyak.


Dan beruntungnya, Adi Putra memiliki keduanya. Terlahir di keluarga kaya raya dan memiliki otak cerdas.


Memutuskan untuk tidak meneruskan usaha keluarganya, pria itu membiarkan adik lelakinya yang meneruskan perusahaan ayah mereka di bidang finansial, seperti asuransi dan perbankan, juga di bidang penyiaran dan multimedia, ritel, gaya hidup, hiburan, dan sumber daya alam. Adi Putra hanya mempunyai lima belas persen saham, di perusahaan milik keluarga tersebut.


Sementara bisnis yang dilakoni Adi Putra, bergerak di bidang properti dan investasi. Khusus di bisnis properti, Adi Putra Group memiliki Adi Putra Supermall. Mal seluas 3 hektar yang dibangun dengan menghabiskan dana sembilan puluh miliar rupiah. Adi Putra Group juga membangun banyak perumahan mewah di pulau Jawa dan Bali. Sementara di bidang investasi, perusahaan mereka membeli sebagian besar saham, salah satu hypermarket terbesar di Singapura.


Divisi desain dan perencanaan adalah titik awal semua proyek Adi Putra Group. Ibarat sebuah bangunan, Divisi desain dan perencanaan adalah pondasinya. Jika kokoh suatu pondasi, maka kokohlah keseluruhan bangunan. Sebegitu penting dan riskannya divisi desain dan perencanaan.


Di sanalah Kalila akan bergabung. Di perusahan sebesar itu dan di tempatkan pada divisi sepenting itu. Divisi Desain dan Perencanaan, PT. Adi Putra Group. Betapa bangga dan bahagianya Khalid akan pencapaian adik kesayangannya itu.


Dan ... saat mendengar penuturan Kalila pagi ini, rasa bahagia Khalid semakin bertambah.


“Jadi kau akan dijemput oleh Ibrahim hari ini?!” tanya Khalid. Pria itu begitu antusias. Kalila pun menjawab dengan mengangguk cepat.


“Bang Ibra juga akan menemani Lila, melakukan pemeriksaan kesehatan di laboratorium,” ucap Kalila tak kalah antusias. Hanya Feni yang tak antusias mendengar pembicaraan kedua kakak beradik itu. Wanita yang tengah mengandung itu, justru terlihat muak dengan obrolan Khalid dan Kalila yang terus menerus membahas Ibrahim.


“Sudah ... sudah ... habiskan makan kalian berdua! Jangan sibuk mengobrol saja!” ucap Feni kesal. Kalila dan Khalid saling pandang. Kedua kakak beradik itu pun sepakat untuk menghentikan obrolan mereka.


Tepat pukul 06:00 WIB, dengan mengendarai mobil berwarna hitam, Khalid pun berangkat menuju tempat kerjanya. Sementara Kalila, membantu Feni membereskan meja makan dan mencuci piring.


“Fen ... Kau bisa tidak, membuat kari bihun?” tanya Kalila.


“Aku belum pernah buat sih. Tapi nanti aku coba tanya ibuku, atau aku cari resep di internet. Kau rindu kari bihun di Istana Maimun ya?”

__ADS_1


Kalila hanya tersenyum dan menunjukkan deretan gigi putihnya kepada Feni. Gadis itu tidak akan memberitahukan kepada Feni, jika Ibrahim yang merindukan makanan legenda dari kota Medan itu. Jika sampai wanita hamil itu tau, sudah pasti Feni tidak akan mengusahakan resep kari bihun itu. Kalila tau, jika Feni kurang menyukai Ibrahim. Jadi, merahasiakannya dari Feni, adalah suatu keharusan.


Setelah membantu Feni membereskan dapur dan meja makan, Kalila pun melangkah ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat berkerja.


Hanya butuh waktu setengah jam bagi gadis itu untuk mempersiapkan diri. Kalila mengambil ponsel yang tengah tersambung dengan kabel pengisian daya. Seperti biasa, Kalila selalu mengisi daya baterai ponselnya, sesaat setelah dirinya bangun untuk menunaikan sholat subuh.


Gadis itu menyalakan ponselnya, karena Kalila akan memesan sebuah layanan ojek online untuk mengantarkannya menuju yayasan tempatnya bekerja.


“Ya Allah ... Bang Dimas!” pekik Kalila. Ketika Kalila menerima panggilan telepon dari Ibrahim malam tadi, gadis itu terlupa akan Dimas. Padahal malam itu, Kalila tengah bersiap-siap melakukan panggilan video dengan Dimas. Tapi, di detik itu juga, ponselnya berdering. Panggilan telepon dari Ibrahim, membuat gadis itu terlupa akan niatnya untuk menghubungi Dimas. Bahkan gadis itu langsung menonaktifkan ponselnya dan beranjak tidur, selepas berbincang dengan Ibrahim, malam tadi.


[21:10 Lila kenapa tidak menjawab panggilan video dariku]


[21: 13 Kalilaaaaaaaa]


[21: 14 Centang satu. Kau sudah tidur?]


[21:25 Kau menelpon lama sekali]


[21:26 Cepatlah Kalila, aku merindukankau]


[21:30 Hubungi aku jika kau sudah selesai menelpon]


“Maaf Bang Dim,” rengek Kalila, ketika panggilan videonya telah tersambung pada pria itu. Dimas hanya tersenyum tipis, menatap layar ponselnya.


“Kau sudah mau berangkat bekerja?” tanya Dimas. Suara serak Dimas, berhasil membuat Kalila terkekeh. “Bang Dim suaranya serak-serak banjir,” ledek Kalila. Lagi-lagi Dimas hanya menanggapinya dengan tersenyum. Andai Kalila tau alasan suara serak Dimas, tentu gadis itu tidak akan menertawakannya. Pria itu tidak bisa terlelap tadi malam. Dimas terus menunggu panggilan video dari Kalila hingga waktu subuh tiba. Namun, gadis itu tidak menghubunginya sama sekali. Saat Kalila menghubunginya kini, Dimas baru saja terlelap beberapa menit.


“Ayo, Bang bangun. Ini sudah hampir jam tujuh loh. Memangnya Bang Dim tidak sholat subuh? Di sana, waktu subuh pukul enam pagi kan?”

__ADS_1


“Aku sudah sholat, Lila. Baru saja aku tertidur sehabis subuh tadi.”


“Tidak baik lanjut tidur setelah subuh,” lanjut Kalila. Dimas menganggukkan kepalanya. Pria itu menegakkan dirinya. Tidak lagi berbaring, Dimas kini tengah duduk bersandar di atas ranjangnya. “Kau puas sekarang?”


Kalila tertawa kecil mendengar pertanyaan Dimas. “Hari ini kau cantik sekali,” ujar Dimas. Kalila tersenyum sumringah mendengarnya.


“Nanti siang, Bang Ibra akan menjemputku di yayasan, Bang!” pekik Kalila. Senyum di wajah Dimas seketika luntur. Pria itu menatap datar pada layar ponselnya.


“Bang Ibra juga akan menemaniku melakukan medical checkup!” pekik Kalila lagi. Kalila bahkan bercerita mengenai Ibrahim yang menghubunginya.


“Kami bahkan mengobrol selama setengah jam, Bang. Lila bahagiaaa sekali! Tadi malam itu, rasanya seperti mimpi!”


“Jadi, tadi malam kau tidak menghubungiku, karena asik berbincang dengan A' Ibra?” tanya Dimas. Pria itu berusaha menahan rasa kecewa dan sakit hatinya. Sementara Kalila menjawab pertanyaan Dimas, dengan anggukan cepat. Wajah gadis itu terlihat begitu sumringah, begitu antusias.


“Berarti, kau sudah tidak membutuhkan aku lagi, bukan begitu, Kalila?” Wajah sumringah Kalila berganti, kini gadis itu terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dimas.


“Sepertinya sebentar lagi A' Ibra akan melamar kau. Dan mulai saat ini, kau juga tidak akan menghubungku lagi, kan? Karena mulai sekarang, setiap malam, sudah ada yang menemani kau.” Kalila tidak bisa berkata-kata. Gadis itu terperangah.


“Berarti, ini panggilan video terakhir kita. Bukan begitu, Kalila—calon makmumnya Ibrahim.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2