
Hari ini langit kota Bogor cukup cerah. Feni dan Kalila— tentu saja Nissa juga ikut serta— tengah berada di ruang tamu yang cukup mewah. Mereka tengah menunggu si empunya rumah menghampiri.
“Bu Bas,” ucap Feni. Wanita yang tengah hamil itu berdiri dan menyambut wanita yang biasa dipanggil dengan sebutan Bu Baskoro— karena sang suami bernama Baskoro. Dengan senyum sumringah, Bu Baskoro merentangkan tangan dan menyambut gembira Feni. Saling menempelkan pipi kanan dan pipi kiri— cipika cipiki, sembari tersenyum sumringah.
Bu Baskoro mengulurkan tangan, Kalila pun menyambutnya dengan tersenyum ramah. “Kalila,” ucap Kalila memperkenalkan diri. Bu Baskoro pun memperkenalkan dirinya, kemudian mempersilakan Feni dan Kalila untuk duduk kembali. Bu Baskoro bahkan membawa Nissa ke pangkuannya.
Berbincang-bincang sebentar, sebelum akhirnya Kalila menyerahkan surat lamaran kerja kepada Bu Baskoro. Bu Baskoro memeriksa berkas-berkas milik Kalila. Belum terpukau melihat apa yang tertulis pada curriculum vitae milik Kalila.
“Kamu ambil dua jurusan dalam satu waktu?” Bu Baskoro bahkan menanyakannya dengan mata melebar. Menatap gadis bertubuh mungil di depannya. Bagaimana mungkin badan sekecil ini, bisa mengikuti perkuliahan dengan dua jurusan. Di mana salah satu jurusan yang dipelajari oleh Kalila adalah teknik sipil. Salah satu jurusan perkuliahan tersulit. Bahkan jarang sekali seorang wanita mengambil jurusan teknik sipil, berbeda dengan arsitektur.
Jika jurusan Arsitektur lebih berfokus pada desain bangunan yang menarik, pada jurusan Teknik Sipil, kau akan mempelajari cara membuat struktur bangunan yang kokoh dan ekonomis, dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti fungsi bangunan, keamanan dan ketahanan bangunan, anggaran dan faktor lainnya.
“Kamu serius, lulusan teknik sipil?” Lagi-lagi Kalila menganggukkan kepalanya. Bu Baskoro terus menggelengkan kepala. Terlebih melihat deretan huruf A menghiasi ijazah gadis itu.
“Kau gadis yang hebat, Kalila. Yayasan kami akan sangat beruntung jika kau mau bergabung,” ucap Bu Baskoro antusias. Bibir Kalila melengkung membentuk sebuah senyuman manis. Bu Baskoro bahkan terpana melihat senyum gadis yang duduk di hadapannya itu.
“Andai ibu punya anak lelaki, pasti akan ibu jodohkan dengan kau,” ucap Bu Baskoro. Wanita itu benar-benar terpana dengan Kalila. Terlebih ketika Kalila dengan telaten menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Nissa di sela-sela pembicaraan para manusia dewasa di sana.
“Lila memang bercita-cita menjadi guru TK, Bu. Makanya dia begitu bersemangat sekali, ketika mendengar lowongan kerja di yayasan,” ucap Feni. Bu Baskoro kembali terperangah. Bagaimana bisa, seorang yang bercita-cita menjadi guru TK, mengambil jurusan teknik sipil dan bisnis pada perkuliahannya.
“Nanti, sesekali, kau boleh ikut mengajar di kelas, jika mau,” ucap Bu Baskoro. Wajah Kalila seketika menjadi cerah. Senyum sumringah tak dapat dia sembunyikan. Gadis itu benar-benar gembira. Akhirnya, sedikit lagi, dia bisa mewujudkan impiannya. Kalila benar-benar bahagia.
__ADS_1
“Terimakasih banyak Bu Bas. Saya tidak sabar bekerja di sana. Apa boleh, mulai besok?” tanya Kalila antusias.
“Besok tanggal merah, Kalila!” pekik Feni. Kalila mengecek ponselnya, melihat kalender. Gadis itu menepuk dahinya. Bu Baskoro dan Feni pun tertawa melihat tingkah gadis itu.
“Datanglah besok lusa ke yayasan. Ibu sendiri yang akan memperkenalkan kau dengan karyawan di sana.”
***
Khalid sedikit kecewa karena Kalila hanya bekerja sebagai salah satu staff tata usaha di sebuah yayasan sekolah. Namun pria itu tak berani banyak berkomentar, karena tidak mau istrinya kembali merajuk dan mendiamkannya seperti kemarin.
Dan hari ini, adalah hari pertama Kalila bekerja. Tadi malam Kalila begitu antusias ketika melakukan panggilan video dengan Dimas dan Kairav. Gadis itu begitu bersemangat, tidak sabar menunggu esok hari dan bertemu dengan banyak anak-anak di tempatnya bekerja.
“Aku tidak sabar, diberi kesempatan mengajar anak-anak itu. Istri pemilik yayasan itu benar-benar baik. Kalian tau, aku bahkan mau dijodohkan dengan anaknya!”
Dan di pagi yang cerah ini, Kalila sudah bersiap. Gadis itu terlihat anggun sekali. Memakai kemeja berwarna lavender, dan celana bahan berwarna hitam. Kalila membiarkan rambut sepundaknya tergerai.
“Nte, antik,” ucap Nissa, ketika melihat Kalila yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Kau pikir tantemu ini, guci peninggalan Belanda, antik!” cebik Kalila.
Kalila pun berjongkok, memegang pundak Nissa dan menatap lekat manik kecoklatan gadis kecil itu. “Mulai hari ini, tante tidak bisa bermain dengan Nissa sejak pagi, karena Tante akan bekerja dari pagi sampai siang. Nanti kita bermain lagi kalau Tante sudah pulang kerja, ya,” ucap Kalila. Gadis kecil berusia dua tahun itu, menganggukkan kepalanya, kemudian membalas pelukan Kalila. Kalila melepaskan pelukan erat itu, kemudian menunjuk pipi sebelah kanannya pada Kalila.
__ADS_1
Cup!
Gadis kecil itu pun memberikan sebuah kecupan di pipi sebelah kanan Kalila. Kini, Kalila menunjuk pipi sebelah kirinya. Nissa pun mengecup pipi sebelah kiri tante kesayangannya itu. Kalila pun membalas dengan mengecup kedua pipi gadis kecil itu.
Setelah adegan romansa antara tante dan keponakannya, tak berapa lama, ojek online pesanan Kalila pun tiba. Gadis itu bergegas.
“Good luck, Kalila,” ucap Feni sembari melambaikan tangan. Menatap punggung Kalila yang telah menjauh, Feni tersenyum sumringah. Hari ini tidak hanya Kalila yang bersemangat. Feni pun turut bersemangat. Membayangkan Kalila— sahabat sekaligus adik iparnya, akan segera mewujudkan mimpinya, membuat Feni turut merasa antusias. Dia tau, seberapa suka Kalila dengan anak kecil. Seberapa ingin Kalila menjadi seorang guru taman kanak-kanak.
Bahkan, Feni pernah mendoakan agar Kalila mempunyai banyak anak, hingga bisa selalu merasa bahagia karena setiap hari akan dikelilingi oleh anak kecil. Dan Kalila, selalu mengamini doa itu.
Hanya butuh waktu tak sampai 15 menit, Kalila pun tiba di sebuah yayasan pendidikan. Yayasan itu mendirikan sekolah-sekolah, mulai dari playgroup, taman kanak-kanak, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Dan tempat yang di datangi Kalila hari ini, adalah gedung sekolah khusus playgroup dan taman kanak-kanak.
Gadis yang kini memakai kemeja berwarna lavender itu, melangkahkan kakinya. Berjalan masuk gedung sekolah. Mata Kalila berbinar, menyaksikan anak-anak balita berjalan riang memasuki kelas bersama para orang tua mereka. Ada yang berlarian, ada yang sambil bernyanyi sembari menggandeng tangan ibunya. Ada berjalan bersama teman-teman sepermainannya. Ramai sekali, riuh.
Para ibu yang ikut mengantarkan pun tidak kalah riuh. Jantung Kalila berdebar kencang menyaksikan pemandangan itu. Dan pemandangan seperti itu akan menjadi santapannya setiap hari. Seperti mimpinya sejak dulu
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...