Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 106


__ADS_3

Sejak bekerja di perusahaan milik kakeknya, Dimas selalu mengawali pagi dengan penuh semangat. Bukan karena dirinya begitu mencintai profesi yang sekarang dia lakoni. Tapi karena setiap hari dia selalu bertemu Kalila. Bahkan, dalam waktu dua puluh empat jam, waktu yang dia paling banyak dihabiskan bersama Kalila.


Mulai dari pukul tujuh pagi dirinya sudah berada di depan rumah Kalila, menjemput gadis itu, kemudian berangkat bersama menuju tempat mereka bekerja. Hingga pulang bekerja pun, Dimas yang mengantarkan gadis itu kembali ke kediamannya. Apalagi sang ibu kandung juga sering mengajak Kalila untuk makan malam bersama. Bertambahlah waktu yang dia habiskan bersama Kalila.


Terlebih, kejadian kemarin sore begitu membuat hati Dimas berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya, Kalila menunjukkan sikap cemburu. Gadis itu benar-benar cemburu melihat kedekatannya dengan Dimas. Rasanya Dimas masih tidak memercayai hal itu.


Benarkah Kalila merasa cemburu karena gadis itu mencintainya?


Apakah gadis itu sudah tak lagi memiliki hasrat pada sepupunya?


Ataukah Kalila merasa tidak suka karena mainannya diusik oleh orang lain? Karena selama ini Dimas selalu menomorsatukan gadis itu.


Rasanya Dimas ingin menunjukkan kedekatannya dengan Mawar, hingga dia bisa melihat wajah cemburu Kalila, sekali lagi. Hingga pria itu bisa memastikan jika Kalila benar-benar cemburu.


Namun, Dimas tak mau terlalu memikirkan hal itu untuk saat ini. Dimas mau berfokus pada proyek yang akan dia kerjakan bersama Kalila dan Harry. Demi membayar diri yang selama ini seperti tak berharga di mata kakeknya. Demi menunjukkan jika dirinya bukan anak yang tak bisa membalas budi atas biaya pendidikan yang sudah dikeluarkan oleh sang kakek. Dimas akan menunjukkan bahwa, dia juga bisa memberikan kontribusi bagi perusahaan keluarganya.


Dimas juga ingin menunjukkan kalau dirinya bisa sebaik Ibrahim. Dirinya juga tak kalah dari Ibrahim. Proyek kali ini benar-benar mempertaruhkan harga dirinya. Proyek ini akan membayar lunas keraguan, penghinaan, yang selama ini dia terima dari sang kakek.


Dimas yakin kalau dirinya bisa memenangkan tender itu. Dimas sangat yakin. Terlebih ada Kalila di sisinya. Ada Harry yang juga membantunya. Tender itu pasti bisa mereka peroleh.


“Kau sudah siap?” tanya Dimas begitu dirinya menatap Kalila di teras kediaman gadis itu. Dengan penuh semangat, Kalila menganggukkan kepalanya.


Hari ini mereka telah siap mengemukakan ide-ide terbaik untuk menggarap proyek yang baru saja mereka terima kemarin. Obrolan mengenai kebohongan yang dibuat Kalila tadi malam, membuat Kalila kembali mengerucutkan bibirnya.


“Kalau Lila tidak berbohong, bisa-bisa Bang Alid, tidak akan memerbolehkan Bang Dim untuk mengantar dan menjemput Kalila untuk selamanya!” pekik Kalila. Dimas tersenyum simpul mendengar ocehan Kalila. Ternyata gadis yang digilainya itu, tidak mau kehilangan moment bersamanya. Ternyata Kalila ingin selalu berada di samping dirinya.

__ADS_1


“Kenapa? Apa jangan-jangan Bang Dim sengaja? Bang Dim sudah bosan mengantar dan menjemput Kalila? Iya?!”


Senyum di wajah Dimas bertambah lebar. Pria itu mengacak kecil rambut Kalila, “aku akan selalu mengantar dan menjemput kau, Kalila. Aku akan selalu ada di samping kau. Kau tenang saja. Kau kan calon makmumku,” jawab Dimas. Seketika Kalila terkekeh mendengar jawaban yang terlontar dari mulut pria itu.


Kalila menyodorkan jari kelingkingnya, kepada pria yang tengah mengemudi itu, “janji?” tanya Kalila. Dimas menoleh dan menatap gadis itu sembari tersenyum lembut. Beruntung saat itu, lampu lalu lintas sedang menunjukkan warna merah.


Dimas pun menautkan kelingkingnya pada kelingking Kalila. “aku berjanji,” jawab Dimas.


Walaupun selalu pergi dan pulang bekerja bersama, kedua muda-mudi itu tidak pernah membicarakan perihal pekerjaan ketika mereka bersama. Seakan mereka tidak ingin kebersamaan mereka diganggu oleh pekerjaan. Cukuplah di kantor mereka membicarakan pekerjaan, jika di luar kantor, mereka tidak akan membicarakannya lagi.


***


Setelah morning briefing dan doa bersama seluruh staff divisi desain dan perencanaan, Harry dan juga Kalila mengikuti Dimas, masuk ke ruangan pria itu.


“Oke, apa saja ide kalian untuk proyek kita?” ucap Dimas, membuka diskusi mereka hari ini. Diskusi ini harus selesai secepatnya agar mereka bisa segera meninjau lokasi di lapangan, untuk memahami proyek itu lebih mendalam.


“Benar juga!” pekik Kalila. “Pasti enak sekali berendam air hangat dengan sensasi seperti dipijat!”


“Bagaimana dengan kau, Lila?”


“Sewaktu Lila pergi berkemah di pegunungan, ada satu hal yang sangat Lila nanti. Sunrise. Melihat matahari terbit sungguh pemandangan yang luar biasa. Kalau bisa, bangunan glamping itu menghadap ke arah matahari terbit. Atau mungkin, matahari terbenam,” ucap Kalila. Dimas dan Harry pun tampak menyetujui usul Kalila.


“Bagaimana kalau kita membuat jenis tenda seperti jenis kamar di hotel? Beberapa glamping sepertinya begitu?” tanya Harry. Lagi-lagi Kalila dan Dimas menyetujuinya.


“Kalau begitu kita rancang akomodasi glamping ini sampai kelas sultan. Kita sediakan bath tub yang bisa digunakan untuk jacuzzi, serta private pool untuk kelas sultan. Sedangkan untuk reguler kita sediakan shower,” ucap Dimas.

__ADS_1


“Kita juga siapkan beberapa titik jacuzzi agar customer reguler juga bisa menikmati sensasi berendam air hangat bersama-sama!” lanjut Dimas.


“Jangan lupa kita harus merancang agar para tamu bisa barbeque-an di depan tenda mereka masing-masing,” ucap Harry.


“Lila jadi ingat sewaktu kita menginap di villa, Bang! Saat itu kita juga barbeque-an di depan halaman belakang. Barbeque-an di udara dingin seperti itu, memang seru sekali!”


Dimas tersenyum ketika Kalila kembali mengingat momentum kebersamaan mereka dulu. Saat pertama kali mereka bertemu, saat Dimas pertama kali jatuh hati pada wanita itu. “Oke, noted,” ucap Dimas. “Ada ide lain?”


“Camping kurang lengkap tanpa adanya api unggun. Bagaimana kalau kita menyiapkan beberapa spot api unggun, agar para tamu bisa membaur dan menikmati api unggun bersama di malam hari? Selain itu, kita harus membuat bentuk bangunan yang benar-benar seperti tenda camping. Hanya bentuk segitiga sederhana. Namun, begitu customer masuk ke dalam tenda, mereka akan terpesona dengan kemewahan interiornya,” ucap Kalila antusias.


Dimas dan Harry terpaku menatap Kalila yang begitu antusias. Kedua pria itu tertegun mendengar ide-ide Kalila. Mereka seperti terhipnotis dan hanya mengangguk-anggukan kepala.


“Bagaimana?!”


Dimas tersadar, seketika pria itu melirik pada rekan yang duduk disebelahnya. Dimas menggumpalkan selembar kertas dan melemparkannya tepat mengenai wajah Harry.


“Jawab pertanyaan Lila!” seru Dimas. Harry mengacungkan kedua jempolnya, “Kalila memang memesona,” ucap Harry.


Dimas yang geram dengan jawaban yang diberikan oleh Harry, melayangkan sebuah buku hingga buku itu mencium wajah Harry.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2