
“Apa Bang Rav pikir, aku sangat lemah, hingga tidak bisa mengerjakan segala sesuatunya sendiri?”
Kairav sedikit terkejut, dia berpaling dan menatap Kalila yang masih menatap lekat pesawat yang dinaiki oleh Bu Alinah dan Khalid. Bibir Kairav melengkung, membentuk sebuah senyuman. Sorot matanya teduh, menatap adiknya itu dengan lembut.
“Kalila Nasution ... lebih kuat dibanding Kairav.”
Kalimat yang keluar dari bibir Kairav, terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Kalila. Namun Kairav mengucapkannya dengan kesungguhan.
Kalila menoleh, menatap malas pada kakak lelakinya itu. Matanya bahkan melirik tajam.
Senyum yang terukir di wajah Kairav semakin melebar, setelah melihat ekspresi kesal Kalila. Melihat senyuman itu, tentu saja Kalila bertambah kesal. Hingga gadis itu berdecak.
“Terserah Abang saja!” ungkapnya kesal. Kalila bahkan meletakkan kedua tangannya di pinggang.
Reaksi Kalila membuat Kairav semakin gemas pada adiknya ini. Pria itu mengacak lembut rambut Kalila.
“Hanya kau yang sanggup mengikuti seluruh aturan Bang Alid, Dek. Sebenarnya kau bisa saja melawan Bang Alid. Tapi tidak kau lakukan. Itu semua karena apa? karena kau— Kalila Nasution. Gadis yang kuat. Sangat kuat. Abang belum tentu sanggup.”
Wajah Kalila mendadak cerah. Matanya berbinar, bibirnya terkembang. Kalila pun menghambur ke pelukan Kairav. Memeluk gemas pada sang kakak. Tidak pernah disangkanya kakak lelakinya yang gila dengan bola basket ini, bisa mengucapkan kalimat yang menyenangkan hati. Pasalnya sejak kecil, Kairav selalu saja membuat Kalila kesal.
Kairav membalas pelukan itu, bahkan dia mengusap pelan rambut Kalila. “Tapi Abang ingin kau menjadi lebih kuat lagi, Dek.”
Kalila melonggarkan pelukannya, sedikit mendongak dan menatap Kairav bingung.
Bagaimana caranya dia bisa menjadi lebih kuat lagi? Haruskan dia ikut latihan bela diri?
Mata gadis remaja itu mengerjap beberapa kali. Jentikkan jari Kairav pada dahinya, berhasil membuat Kalila menekuk wajahnya. Kairav pun tersenyum geli melihat bibir adiknya yang kini maju lima sentimeter.
Tanpa mereka sadari, puluhan pasang mata telah menatap jijik dengan perilaku Kalila dan Kairav. Bahkan mereka terlihat saling berbisik. Sementara Kalila dan Kairav tetap berpelukan. Apalagi Kalila yang masih merasa sangat sedih dengan kepergian Khalid. Gadis manja itu membutuhkan pelukan Kairav.
“Hei ... Dasar anak zaman sekarang tidak ada malunya! Bisa-bisanya berpelukan di tempat umum!”
Kairav dan Kalila saling tatap. Masing-masing dari mereka melonggarkan pelukan hingga kini terpisah. Kalila mengedarkan pandangannya. Gadis remaja itu akhirnya mengetahui jika dirinya dan Kairav menjadi pusat perhatian kini.
__ADS_1
“Masih kecil sudah peluk-pelukan di depan umum!” Lagi-lagi wanita paruh baya itu mencerca Kalila dan Kairav.
“Memangnya kenapa?!”
Kairav yang tadinya ingin berlalu saja dari sana, langsung menoleh, menatap tak percaya dengan apa yang disaksikannya kini.
Kalila ... Gadis kecil yang sedari lahir dikenalnya, bertindak tak biasa. Menentang. Itu bukan Kalila. Karena setau Kairav, Kalila anak yang sangat penurut.
“Kalian itu masih kecil! Tidak baik begitu!”
Kalila menatap tajam pada wanita paruh baya yang seolah mengetahui seluruh hal tentang isi dunia ini. “Asal ibu tau—”
“Kami ini, abang-adik kandung, Bu. Dia mahrom saya. Dan kami mengerti batasan bergaul dengan lawan jenis.”
“Tuh ... dengar Bu. Makanya, jangan suka berprasangka buruk!” Dengan tatapan setajam elang, Kalila menatap wanita paruh baya itu. Sementara wanita paruh baya itu menatap malas pada gadis kecil di hadapannya.
“Baguslah kalau begitu.”
Hanya itu yang dikatakannya. Tanpa berucap maaf atau merasa bersalah, kini wanita paruh baya itu meninggalkan Kalila dan Kairav. Wajah Kalila tambah memberengut melihatnya. Sementara Kairav, pria itu hampir terkekeh ketika menyaksikan wajah kesal Kalila.
“Sudah ... lupakan Dek. Wajar dia berpikir seperti itu, karena dia tidak tau jika kita berdua saudara kandung.”
“Memangnya dia tidak melihat kalau kita berdua mirip!” sahut Kalila yang kini berlari kecil, mensejajarkan langkahnya dengan Kairav.
Mendadak Kairav menghentikan langkahnya. Terdiam. Kalila menoleh, menatap Kairav dengan manik kebingungan.
Ada apa? kenapa mendadak berhenti melangkah?
Itulah arti tatapan Kalila. Melihat tatapan penuh tanda tanya di wajah Kalila, Kairav menarik salah satu bibir atasnya. Kini pria itu bahkan menatap Kalila dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Memandang remeh pada gadis remaja itu. Kalila semakin bingung dengan tingkah Kairav.
“Apa? Kenapa Abang melihat aku seperti itu? Baru sadar ya, kalau punya adik secantik bidadari,” ucap Kalila sembari mengibaskan rambutnya ke belakang.
“Tadi kau bilang apa?”
__ADS_1
“Apa?” tanya Kalila bingung.
“Kau bilang kita mirip? hah?”
Kalila menganggukkan kepalanya. Gadis remaja itu semakin bingung, “memang benar kan? kita bertiga itu mirip,” ucap Kalila menegaskan.
“Mirip dari Hongkong! Malas sekali aku disamakan dengan makhluk cebol berhidung lebar seperti kau, Dek.” Mata Kalila membulat mendengarkan ucapan Kairav.
Apa katanya? cebol? hidung lebar?
Bisa-bisanya Kairav berucap seperti itu kepada adik kandungnya. Walaupun faktanya memang seperti itu. Postur tubuh Kalila memang kecil jika dibandingkan dengan kedua kakak lelakinya. Tinggi badan gadis itu hanya 155 cm. Berbeda jauh dengan Kairav yang mencapai 180 cm. Begitupun dengan Khalid yang hampir mencapai 180 cm.
Kalila berdecak kesal. Tangannya kini sudah berkacak pada kedua sisi pinggangnya. Baru saja Kalila ingin memaki kairav, pria itu sudah berjalan cepat, meninggalkan dirinya di sana.
“KAIRAV!! DASAR ABANG TIDAK ADA AKHLAK!”
Kairav terkekeh-kekeh. Pria itu bahkan berlari kecil, karena Kalila kini mengejarnya. Kini Kalila dan Kairav tengah berkejar-kejaran. Tentu saja Kalila tidak bisa menggapai Kairav. Dengan kakinya yang pendek itu, mana bisa dia menjangkau Kairav yang jenjang.
hosh ... hosh ... hosh ...
Kalila memegang kedua lututnya. Gadis remaja itu sangat kelelahan. Dia tidak sanggup lagi mengejar Kairav.
“Su-dah ah, Bang ... Hayati lelah,” ujarnya dengan napas tersengal-sengal. Kairav masih saja terus terkekeh-kekeh. Namun dirinya tidak berani menghampiri Kalila, karena takut dihujani oleh pukulan gadis remaja itu.
Sebenarnya dirinya tidak takut akan tinju yang dilayangkan oleh Kalila. Karena pukulan yang selalu dilayangkan oleh Kalila itu, sama sekali tidak terasa di tubuhnya. Namun, ada hal yang lebih ditakuti, baik oleh Kairav maupun Khalid.
Gadis remaja itu seperti ikan piranha. Tubuhnya memang kecil, tapi gigitannya mematikan. Kalila suka sekali menggigit lengan kedua kakak lelakinya itu jika merasa sangat kesal. Dan gigi gadis itu sungguh tajam, hingga membuat kulit mereka serasa terlepas dari dagingnya. Persis seperti piranha yang suka menyobek mangsa dengan giginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....