Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 85


__ADS_3

Hari ini Kalila sangat senang, karena Ibrahim berjanji akan menjemputnya sepulang bekerja. Sejak bangun tidur subuh tadi, wajah gadis itu begitu cerah. Padahal langit tengah gelap hari ini. Kota Bogor diguyur hujan deras sedari subuh tadi. Kalila bahkan harus berangkat bekerja dengan menggunakan jasa taksi online.


Gelapnya langit dan derasnya hujan, tidak melunturkan senyum sumringah Kalila hari ini. Udara dingin pun tak berhasil mengusik tubuh gadis itu. Karena hatinya menghangat sejak tadi malam. Kalila terus menantikan jam pulang bekerja. Gadis itu bekerja sangat giat hari ini. Pekerjaan yang biasanya selesai dalam waktu tiga jam, kini hanya diselesaikan gadis itu dalam waktu satu setengah jam. Karena Kalila benar-benar tidak mau ada yang menghambat waktunya pulang bekerja nanti.


Sementara itu, di PT. Adi Putra Group, Ibrahim tengah bersiap-siap untuk menjemput Kalila. Sebenarnya tujuan pria itu yang sesungguhnya, bukan untuk menjemput Kalila, tapi untuk melihat wajah Anneke. Ibrahim juga sudah memberanikan diri, agar nanti bisa berkenalan dengan gadis cerdas nan anggun itu.


Mengambil kunci dari laci meja kerjanya, Ibrahim pun melangkah menuju elevator.


'Ting!'


Elevator terbuka.


Saat Ibrahim hendak masuk ke elevator tersebut, pria itu terhenyak.


“Kakek ... Papi ...,” ucapnya terbata. Ibrahim mengingat-ingat, apakah hari ini ada janji temu dengan kakek dan ayahnya? Dari apa yang dilaporkan oleh assistennya tadi pagi, tidak ada jadwal temu dengan kedua orang tua yang disayanginya itu.


“Ayo ke ruangan kau, sekarang!” perintah Pak Adi Putra—Kakek Ibrahim.


Ketiga pria itu pun berjalan beriringan menuju ruang kerja Ibrahim. Pria itu membukakan pintu dan membiarkan ayah dan kakeknya untuk masuk terlebih dulu. Mempersilakan kedua orang tua itu duduk di sofa yang memang ada di ruangan itu, Ibrahim pun duduk di hadapan mereka.


“Ada apa kakek dan papi ke sini? Tumben sekali tidak memberi kabar lebih dulu,” ucap Ibrahim, memulai percakapan mereka.


“Mengapa kakek harus memberi kabar lebih dulu? Perusahaan ini kakek sendiri yang mendirikan. Kakek juga masih pemegang saham terbesar di group ini. Jadi tidak perlu membuat janji lebih dulu kan, bila ingin bertemu direktur?”


Satu pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibrahim, dijawab dengan rentetan kalimat oleh kakeknya. Itu artinya suasana hati pendiri Adi Putra Group itu tengah buruk.


“Bukan begitu maksud Ibra, Kek ... Bagaimana kalau saat kakek ke sini, Ibra sedang tidak ada di kantor? Ini saja tadi Ibra hampir saja mau meninggalkan kantor.”

__ADS_1


“Yang penting kan sekarang ada di kantor!” ketus Kakek Adi Putra.


Ibrahim dan ayahnya hanya diam. Menjawab ucapan pendiri Adi Putra Group itu, saat suasana hatinya sedang kacau, tandanya kau sedang manggali kuburmu sendiri.


“Anak haram itu sebentar lagi kembali dari Singapore!” ketus Kakek Adi Putra. “Apa sebaiknya dia tetap di Singapura saja. Lang, coba kau urus dengan pemilik Singapore Hypermart, apa bisa si anak haram itu bekerja di sana?”


“Kakek tidak bisa gitu dong. Dimas kan juga cucu Kakek. Ini tidak adil namanya. Bahkan Kakek hanya menjanjikan posisi manajer untuk Dimas. Harusnya Dimas juga mendapatkan posisi direktur seperti Ibra.”


“Dia saja tidak bisa lulus dengan waktu yang sama seperti kau. Padahal dia hanya mengambil satu jurusan. Mana mungkin orang seperti itu kakek jadikan direktur. Sudah bagus jadi manager! Kakek malah tidak suka jika anak haram itu bekerja di perusahaan yang sudah kakek bangun dengan susah payah ini!”


“Pi ... Dimas, Papi berikan jabatan manager saja, Gilang sudah tidak enak dengan Ghita, Pi. Apalagi Papi melemparnya ke Singapore. Kasihan Ghita kalau harus tinggal sendiri, jika Dimas bekerja di Singapore. Bagaimanapun, Ghita itu adik Gilang, dan Dimas itu keponakan Gilang,” ujar Gilang— ayah dari Ibrahim.


Kakek Adi terlihat menghela napas berat. Pria itu bukan hanya tidak menganggap Dimas sebagai cucunya. Pria lanjut usia itu bahkan membenci Dimas. Bahkan untuk bertemu dengan Dimas, Kakeknya Ibrahim itu, terlihat jijik.


“Kalau Papi tidak menganggap Dimas sebagai cucu, setidaknya Papi pikirkan Ghita. Bukannya Ghita adalah anak kesayangannya Papi.”


Kakek Adi Putra memang sangat keras kepala. Membujuknya adalah suatu hal yang sangat sulit. Pria lanjut usia itu sudah membenci Dimas, bahkan sebelum pria itu dilahirkan. Hingga kini Dimas berusia dua puluh empat tahun, pria lanjut usia itu masih membencinya.


Anak haram, adalah panggilan yang disematkan oleh Kakek Adi Putra untuk cucu keduanya itu, jika tengah berbicara dengan Ibrahim ataupun Gilang— ayahnya Ibrahim. Dan jika berhadapan dengan Dimas atau berbicara di depan banyak orang, pria lanjut usia itu hanya memanggil Dimas dengan sebutan 'hei.'


“Kau bisa pastikan, dia tidak akan membuat kekacauan saat bekerja? Kakek tidak mau semua hal jadi berantakan karena anak haram itu tidak becus bekerja!”


“Ibra jamin kek, Dimas kompeten kok. Dua orang staff yang baru direkrut itu juga kompeten semua,” ucap Ibrahim.


“Divisi Desain dan Perencanaan itu sangat riskan. Harus yang benar-benar kompeten yang memimpin. Kau harus terus perhatikan kinerja anak haram itu!” titah Kakek Adi Putra.


Ibrahim hanya menganggukkan kepalanya. Sejak dulu Ibrahim selalu merasa kasihan melihat perlakuan kakeknya terhadap Dimas. Namun pria itu juga tidak dapat berbuat apa-apa. Kakeknya sungguh keras kepala dan tidak bisa dinasehati. Rasa benci dan sakit hati dengan ayah kandung Dimas, membuat pria lanjut usia itu ikut membenci Dimas.

__ADS_1


Kakek Adi Putra menganggap kehadiran Dimas di tengah keluarga mereka, merusak masa depan putri semata wayangnya. Ghita—ibu kandung Dimas— bahkan dicoret dari daftar pewaris keluarga Adi Putra.


Ghita hanya diberikan modal untuk mendirikan sebuah butik untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Beruntung Ghita mempunya banyak teman dari kalangan sosialita, hingga akhirnya butik yang dikelola oleh ibu kandungnya Dimas itu, berjalan lancar.


***


Sementara itu, dengan ditemani oleh Anneke, Kalila menanti Ibrahim datang untuk menjemputnya. Gadis itu benar-benar tidak sabar untuk bertemu Ibrahim hari ini. Rencananya, Kalila akan mengenalkan Ibrahim kepada Anneke. Namun menit demi menit Kalila menunggu, pria yang dimaksud tak kunjung tiba. Bahkan kini sudah dua puluh menit Kalila menunggu.


“Mungkin teman kau itu lupa, La” ucap Anneke. Kalila hanya mengangguk pelan. Berulang kali Kalila mengirimkan pesan singkat, namun pria itu masih belum membacanya


“Aku masih da kelas di SMA. Kalau aku pulang lebih dulu tidak apa-apa kan?


“Iya Kak, tidak apa-apa,” jawab Kalila dengan senyum yang dipaksakan. Anneke pun berpamitan pada gadis itu.


“Coba kau hubungi saja dia.”


Itulah pesan terakhir yang diucapkan oleh Anneke, sebelum gadis itu meninggalkan Kalila sendirian di sana. Kalila pun mengikuti saran gadis itu. Namun, begitu Kalila hendak menghubungi Ibrahim, pria itu telah menghubunginya lebih dulu.


“Maaf ya Lila, ada rapat mendadak. Sepertinya aku tidak bisa menjemput kau. Mungkin lain kali.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2