
“Sepertinya sebentar lagi A' Ibra akan melamar kau. Dan mulai saat ini, kau juga tidak akan menghubungiku lagi, kan? Karena mulai sekarang, setiap malam, sudah ada yang menemani kau.” Kalila tidak bisa berkata-kata. Gadis itu terperangah.
“Berarti, ini panggilan video terakhir kita. Bukan begitu, Kalila ... calon makmumnya Ibrahim Adi Putra.” Kalila masih terperangah, menatap tidak percaya. Pria itu bahkan memutuskan panggilan video itu secara sepihak.
Kalila masih mematung di sana. Hatinya sakit mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut pria itu. Manik gadis itu bahkan mengembun. Kalila kembali menghubungi Dimas. Namun pria itu tak menjawabnya. Berkali-kali Kalila menghubungi, namun Dimas tidak memberikan tanggapan. Kalila hanya mendengar nada tunggu, lagi, lagi, dan lagi.
“Maafin Lila Bang Dim,” gumam Kalila. Kalila benar-benar menyesal karena melupakan Dimas. Dirinya sama sekali tidak bermaksud melupakan sahabatnya itu. Kalila hanya terlalu bahagia kemari malam. Bahagia hingga melupakan Dimas. Melupakan pria yang selalu ada untuknya. Pria yang selalu menghibur dikala dirinya sedih. Pria yang selalu mendukung tindakannya.
“Kau tidak berangkat kerja?” tanya Feni. Kalila mendongak, menatap Feni yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya.
“Kau kenapa?”
Feni melangkah masuk, mendudukkan dirinya di ranjang, persis di sebelah Kalila. “Bang Dimas marah,” ucap Kalila pelan. Gadis itu bahkan sudah meneteskan air mata sekarang. Sementara Feni ... Alis wanita itu berkerut.
“Dimas marah?” Feni menatap tak percaya. Sejak kapan Dimas bisa bersikap seperti itu? Sejak kapan Dimas bisa meluapkan marahnya pada Kalila?
Kalila menjawab dengan anggukan kepala perlahan. “Kau pasti sudah bersikap keterlaluan,” selidik Feni. Kalila kembali mengangguk pelan. Gadis itu pun menyeritakan kejadian tadi malam. Perihal Ibrahim yang menghubungi dirinya, hingga malam tadi tidak melakukan panggilan video dengan Dimas, bahkan tidak membalas pesan-pesan yang dikirimkan oleh Dimas.
“Dimas pasti kecewa sekali. Kalau aku jadi Dimas, aku juga pasti kecewa dengan sikap kau itu,” ucap Feni. Kalila benar-benar merasa bersalah.
“Seperti habis manis sepah dibuang. Setelah kau dekat dengan Ibrahim, kau langsung melupakan Dimas.” Feni yang tidak suka dengan Ibrahim, malah semakin memojokkan Kalila. Tapi sebenarnya, Feni hanya ingin Kalila menyadari, jika Dimas lah yang selama ini selalu ada untuknya. Dimas lah yang selama ini menemaninya, bukan Ibrahim.
“Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ... aku hanya terlalu—”
“Terlalu apa? Terlalu bahagia hingga melupakan Dimas? Jadi kau hanya menghubungi Dimas, jika kau sedang sedih saja?”
Kalila kembali tertunduk, gadis itu menyesal.
“Sudahlah, sudah jam tujuh lewat, kau bisa terlambat nanti. Jangan lupa minta maaf dengan Dimas,” ujar Feni.
__ADS_1
“Bang Dim tidak mau menjawab panggilan telepon dari aku. Bagaimana caranya aku mau minta maaf?”
Gadis itu terisak.
“Kau bisa mengirimkan pesan.” Feni pun melangkah, meninggalkan ruangan itu. Sementara Kalila dengan segera mengirimkan sebuah pesan kepada Dimas. Sebuah pesan permintaan maaf.
“Semoga Bang Dim mau memaafkan aku,” gumam Kalila.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07:20 WIB. Masih dengan Isak tangisnya, Kalila memesan ojek online, untuk mengantarkannya ke tempat kerja.
Gadis itu terus memerhatikan ponselnya. Berharap Dimas segera memberikan jawaban untuknya. Namun, bukan hanya tak dibalas, pria itu bahkan belum membaca pesan yang dikirimkan oleh Kalila itu.
Sepuluh menit berlalu ...
Ojek online yang dipesan oleh Kalila, tiba di sana. Tapi Dimas masih belum membaca pesan yang dikirimkan Kalila tadi. Menghela napas berat, Kalila pun beranjak dari ranjang. Gadis itu melangkah perlahan, menghampiri ojek online yang sudah menunggunya.
Kalila melangkahkan kaki, menuju ruangan tempatnya bekerja. Gadis itu terus melangkah dengan wajah muram. Kalila bahkan tidak menyadari jika ada Anneke di sana, sampai gadis itu menyapanya.
“Kau tidak jadi mengambil surat pengantar di perusahaan itu, La?”
Kalila terperanjat, lalu menoleh ke arah Anneke yang tengah tersenyum lembut padanya. “Sudah diambilkan oleh teman Lila, Kak. Nanti sepulang kerja dia akan memberikan surat itu, sekalian mengantarkan ke laboratorium,” jawab Kalila. Anneke mengangguk. Matanya kini menangkap wajah sembab Kalila. Anneke pun bisa menebak, jika Kalila habis menangis. Jelas sekali terlihat dari wajah sembab dan hidungnya yang memerah.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Anneke. Kalila tersenyum dan menggeleng pelan. Anneke membalas senyum Kalila dengan tersenyum lembut. Gadis itu bahkan mengusap-usap kepala Kalila.
“Kalau kau butuh bantuan, kau bisa mencariku, Kalila. Aku akan sangat senang bisa membantu meringankan masalah kau.”
“Iya Kak. Tapi Lila tidak apa-apa kok.”
Anneke mengangguk. Gadis itu mengerti, jika Kalila menjaga privasinya dengan tidak mau bercerita padanya. Anneke pun menghargai hal itu. Kini kedua gadis cantik itu melangkah beriringan, menuju ruang kerja mereka masing-masing.
__ADS_1
Bukan hanya Anneke yang menyadari perubahan sikap Kalila. Andri pun demikian. Pria itu juga menanyakannya pada Kalila. Andri juga menawarkan bantuan jika Kalila membutuhkannya. Namun, jawaban gadis itu juga sama. Dirinya baik-baik saja.
Apa kau sedang bertengkar dengan kekasihmu, Kalila? Kalau dia tidak bisa membahagiakan kau, aku akan merebut kau dari tangannya.
***
Kalila meletakkan ponselnya di atas meja. Gadis itu menanti balasan pesan dari Dimas. Setiap menit Kalila melongok, menatap ponselnya, berharap jika Dimas membalas pesannya. Pekerjaan gadis itu bahkan sedikit terhambat, karena Kalila terlalu sibuk memerhatikan ponselnya. Namun, hingga kini, tidak ada satupun balasan pesan dari Dimas.
“Bang Dim benar-benar marah,” gumamnya. Gadis itu pun menghembuskan napas berat.
Beberapa saat kemudian, ponsel Kalila berdering. Tanda ada sebuah pesan yang masuk. Dengan terburu-buru, Kalila mengambil ponsel yang sejak pagi tadi, tergeletak di atas meja kerjanya.
Kalila kecewa, ternyata itu bukan pesan dari Dimas. Pesan tersebut dikirimkan oleh Ibrahim. Pria itu menanyakan alamat lengkap yayasan tempat Kalila bekerja.
Jika biasanya Kalila akan berbinar-binar ketika menerima pesan dari Ibrahim, tapi kali ini tidak. Pikirannya malah terus berpusat pada Dimas. Pesan dari Ibrahim tadi, langsung dibalas Kalila tanpa basa-basi. Gadis itu mengirimkan lokasinya kepada Ibrahim, melalui aplikasi peta elektronik.
Ibrahim pun kembali mengirimkan pesan, bahwa pria itu akan tiba di tempat Kalila bekerja sebelum azan Zuhur. Kalila hanya membalas pesan itu dengan dua kata, 'iya, Bang.'
Setelah membalas singkat pesan Ibrahim, gadis itu memutuskan untuk kembali mengirimkan pesan kepada Dimas.
[Kalila : Bang Dim, benar-benar tidak mau memaafkan Lila?]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1