
“Saya duda. Dan tidak mempunyai anak.”
Seketika wanita itu kembali memalingkan wajahnya, menatap Ibrahim. Entah mengapa, sejak Ibrahim melepas kaos dan memakaikan padanya, ada debar-debar halus di hatinya.
Mengetahui jika Ibrahim tidak memiliki pasangan, wanita itu merasa senang. Tanpa ia sadari bibir merah muda itu tersenyum samar.
“Dhea, perkenalkan, namaku Ibra. Dan sepertinya aku harus menginap di sini. Karena tak ada siapapun yang menungguku di rumah. Lagian, aku sudah memesan ruangan VIP. Jadi sayang sekali jika aku tak menginap di sini.”
Dhea tak bisa lagi menahan bibirnya untuk tak tersenyum lebar, menatap punggung Ibrahim yang kini tengah melangkah menuju sofa bed yang ada di kamar rawat inap itu.
“Kenapa Bapak bisa tau namaku?”
Ibrahim menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wanita itu. “Tentu saja aku tau dari KTP kau itu. Kan aku yang mendaftarkan kau untuk melakukan pemeriksaan dan menginap di sini.”
Dhea mengangguk mendengarkan penjelasan Ibrahim. Pria itu pun kembali melangkahkan kakinya menuju sofa bed, lalu merebahkan tubuhnya di sana.
“Oh iya, umurku masih 37 tahun. Aku tidak setua itu. Jadi, jangan panggil aku Bapak!”
Dhea terdiam dan mengangguk.
***
Jarum infus yang terpasang di tangan kanan, membuat Dhea tak bisa makan sendiri. Mau tak mau, Ibrahim yang menyuapinya. Mulai dengan sarapan, makan siang, hingga makan malam, Ibrahim lah yang mengurusi.
Untuk pertama kalinya Ibrahim melayani seseorang setulus itu. Berbeda dengan yang Dhea rasakan, sama sekali tak ada debar-debar halus di hatinya saat berdekatan dengan wanita itu. Terlebih wanita itu 17 tahun lebih muda darinya. Ibrahim menemaninya hingga saat ini, itu murni karena perasaan kasihan.
Ibrahim bahkan kerap menemani Dhea melaporkan kasus pemerkosaannya di kantor polisi. Dan tanpa terasa sudah satu bulan berlalu sejak kejadian itu. Dhea sudah pulih dan mulai melupakan kenangan pahit itu. Dirinya memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, tanah kelahirannya.
“Bukannya adik kau butuh biaya untuk masuk perguruan tinggi? Jika kau tak bekerja, bagaimana dengan perkuliahan adik kau itu?” tanya Ibrahim, saat mereka bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari kediaman Dhea.
“Aku akan bekerja di sana saja.”
“Sudah dapat pekerjaan atau masih harus mencari lagi?”
“Masih harus mencari lagi, Kang. Tapi aku masih ada tabungan untuk dua bulan ke depan, untuk bantu-bantu ibu dan biaya perkuliahan adikku,” jelas Dhea. Ibrahim terdiam. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Bagaimana jika kau bekerja denganku? Bukan di perusahaan keluargaku, karena masih belum ada penerimaan tenaga kerja, sekarang. Tapi membantuku untuk membersihkan dan memasak di apartemenku.”
__ADS_1
“Maksudnya jadi assisten rumah tangga?” tanya Dhea. Ibrahim menganggukkan kepalanya. Pekerjaan apapun, sebenarnya tak masalah bagi Dhea. Tapi ibunya pasti tidak akan menyetujui jika dirinya menjadi pelayan di rumah orang. Ibunya pasti akan mengatakan, 'tidak perlu keluar kota jika hanya bekerja menjadi asisten rumah tangga, di Tasik juga bisa.’
Dhea kenal betul watak sang ibu.
“Kau tenang saja, walaupun asisten rumah tangga, aku tetap memberikan gaji sesuai UMR,” tegas Ibrahim. “Lagian aku tinggal di apartemen, tidak terlalu luas seperti rumah.”
Kali ini Dhea menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu aku akan mencari kontrakan di sekitar apartemenku. Karena aku tinggal sendiri, jadi tidak mungkin kau tinggal bersamaku.”
Lagi, Dhea mengangguk setuju. Dan esoknya, Ibrahim kembali menemui Dhea dan membantu wanita itu pindah ke sebuah kos yang tak jauh dari apartemen yang ditempati oleh Ibrahim. Pria itu juga membawa Dhea ke apartemennya.
Mulut Dhea menganga. “Aku pikir kamar apartemen itu tidak jauh berbeda dengan petakan. Ini sih lebih besar dari rumah ibu di kampung.”
Mata Dhea terus menjelajah rumah itu. Hingga tanpa sadar dia menubruk Ibrahim yang berdiri tepat di hadapannya.
“Ma-maaf Pak.”
“Bukan kah sudah pernah aku katakan, jangan panggil aku dengan sebutan Pak. Aku tidak setua itu!”
“Saya kan bekerja dengan Bapak. Tidak sopan rasanya jika saya tidak memanggil Pak. Lagian ... umur saya juga masih 20 tahun, sedangkan Bapak 37 tahun, persis sama seperti paman saya.”
Mata Dhea seketika membulat. Wanita itu pun melambaikan kedua telapak tangannya. “Jangan Pak ... Eh ... Kang. Saya ... saya tidak akan memanggil Pak, lagi,” ucapnya.
Ibrahim tersenyum lebar. Pria itu pun memberi tahukan pekerjaan apa saja yang harus dilakukan oleh Dhea. Wanita itu pun mengangguk setuju.
Setiap hari, Dhea datang setelah Ibrahim berangkat bekerja. Jika hari kerja, tak banyak pekerjaan yang dilakukan oleh Dhea. Malah, bisa dikatakan, wanita itu lebih banyak bersantai sembari menonton televisi. Karena tugasnya hanya membersihkan apartemen yang tidak kotor itu, dan mencuci pakaian kotor, serta membuatkan makan malam untuk Ibrahim.
Wanita itu baru keluar dari apartemen milik Ibrahim itu, setelah si empunya kembali dari kantor. Karena Dhea harus menyuguhkan teh hangat ketika pria itu tiba.
“Silakan Kang, tehnya,” ucap Dhea, saat Ibrahim yang baru saja pulang bekerja, merebahkan dirinya di sofa.
Dhea pun berpamitan setelahnya.
Namun, ketika akhir pekan tiba, Ibrahim biasanya mengajak Dhea untuk membeli bahan masakan. Daging, ikan, telur, sayuran dan berbagai macam bumbu dapur, untuk stok masakan satu Minggu.
Dan sekarang, Dhea sudah satu bulan bekerja di apartemen milik Ibrahim. Rencananya, hari ini mereka akan pergi ke supermarket untuk berbelanja bahan masakan. Namun, saat Dhea baru saja selesai membersihkan apartemen itu. Tubuhnya limbung.
__ADS_1
Ibrahim yang melihatnya, berlari kecil menghampiri Dhea.
“Kau kenapa?”
“Sudah tiga hari ini, kepala saya suka pusing. Saya juga agak mual, Kang. Mungkin masuk angin,” jawab Dhea.
“Kalau begitu kau istirahat saja di kamar tamu. Biar aku yang ke supermarket.”
Dhea mengangguk. Dengan di papah oleh Ibrahim, wanita itu melangkah menuju kamar tamu dan segera merebahkan badannya. Ibrahim pun bergegas ke supermarket.
Sebelum kembali ke apartemen, Ibrahim singgah ke rumah Kalila dan Dimas. Meminta sang Tante untuk membuatkan air jahe untuk Dhea.
“Dhe ... Aku sudah pulang. Nih aku bawakan air jahe buatan tanteku. Supaya masuk angin kau cepat reda. Biasanya, jika aku masuk angin, Tante itu membuatkan air jahe, dan setelahnya badanku terasa lebih segar,” ucap Ibrahim.
Tak ada jawaban dari Dhea, Ibrahim pun mengecek wanita itu ke kamar. Ternyata Dhea sedang tergeletak di lantai. Gegas Ibrahim membawa Dhea ke rumah sakit.
“Selamat ya Pak. Dari hasil pemeriksaan. Istri Bapak, positif hamil.”
Kata-kata itu membuat Dhea bagai tersambar petir. Wanita itu shock. Karena sepenuhnya Dhea sadar, jika itu adalah akibat pemerk*saan dua bulan lalu.
“Kami sudah mendaftarkan ke spesialis kandungan, biar di cek lebih lengkap, sekalian bisa berkonsultasi.”
“Usia kandungannya sudah sembilan Minggu, dan ini kantong janinnya.”
***
Saat ini, Ibrahim hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kamar tamu, apartemennya. Karena sejak pulang dari rumah sakit, Dhea terus menangis dan meraung di dalam sana.
Hingga tiga jam kemudian, Dhea keluar dari kamar dan menghampiri Ibrahim.
“Besok saya akan balik ke Tasik, Kang.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...