Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 69


__ADS_3

Hari ini Kalila memakai pakaian kerja terbaiknya. Karena rencananya, gadis itu akan pergi makan siang bersama Andri. Kalila masih merahasiakannya dari Dimas. Hanya Feni yang mengetahuinya. Itupun karena Andri berkunjung ke kediaman mereka, siang tadi.


Terpaksa Kalila menyeritakannya kepada Feni. Menyeritakan mengenai rencananya mencari pelarian cinta, untuk melupakan Ibrahim.


KALILA NASUTION POINT OF VIEW


Aku masih ingat betul, ekspresi keterkejutan di wajah Feni, saat aku mengatakan jika aku akan melupakan Bang Ibra. Aku akan menjalin hubungan dengan pria lain, sebagai pelarian cintaku, untuk melupakan Bang Ibra.


“Kenapa bukan Dimas? Pria itu terlihat begitu menyayangi kau, Kalila?”


Seperti itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh Feni, ketika aku menyeritakan perihal Andri padanya.


Aku tau, semua orang terdekatku— kecuali Bang Khalid tentunya— pasti akan menanyakan hal yang sama.


Kenapa bukan Dimas?


Sama seperti mereka yang salah mengartikan rasa sayangku terhadap Bang Dim. Mereka juga salah mengartikan setiap perhatian yang Bang Dim berikan padaku. Tidak bisa dipungkiri jika kami saling menyayangi satu sama lain. Semua orang bisa melihatnya. Namun, rasa itu hanya sebatas rasa sayang terhadap sahabat. Tidak lebih dari itu.


Dan alasan yang lebih penting, dari pernyataan,


mengapa bukan Bang Dim yang aku jadikan pelarian?


Itu karena aku tidak mau memanfaatkan sahabat kesayanganku itu. Bang Dimas, tidak pantas diperlakukan seperti itu.


Feni bahkan terus meyakinkan aku, jika Dimas menyimpan rasa sayang yang lebih dari sekedar sahabat terhadapku. Namun aku hanya tersenyum menanggapinya. Feni tidak tau, jika kami— aku dan Bang Dim— sudah mendeklarasikan untuk menjadi sahabat selama lamanya. Kami sudah berjanji untuk itu.


Dan di sinilah aku sekarang. Berjalan beriringan bersama sesosok pria yang baru aku kenal, tepat satu bulan yang lalu. Sebenarnya, sejak lama dia berkeinginan mengantarkan aku setiap pulang bekerja. Namun aku selalu menolaknya. Itu semua karena aku masih terus berharap Bang Ibra menghubungiku. Aku masih tidak menerima kehadiran pria manapun di hatiku. Aku masih mengunci pintu hati ini rapat-rapat.


Tapi sekarang, aku memutuskan untuk melupakan Bang Ibra. Aku mulai berusaha membuka pintu hatiku untuk pria lain.


“Kau mau makan steak, Kalila?” tanya Andri.


Saat itu kamu berhenti tepat di depan restoran yang menjual aneka steak. Aku menggelengkan kepalaku, bukannya karena aku tidak suka. Tentu saja aku menyukainya. Aku bahkan belum pernah mencicipi steak, seperti yang aku saksikan ketika aku menonton drama di televisi. Daging tebal yang dipanggang dengan rempah-rempah pilihan, dan dimakan menggunakan pisau dan garpu. Aku belum pernah mencicipinya.


Tapi karena aku tau, jika menu makanan di sana cukup mahal. Daging sapi seberat dua ratus gram, di tambah saus spesial, serta disajikan dengan salad serta mashed potato, sudah pasti dibandrol dengan harga mahal per porsinya. Dan aku tau— tentu saja aku tau— berapa gaji yang diterima oleh Andri setiap bulannya. Tidak etis rasanya, jika aku menerima ajakan Andri untuk makan di restoran yang menyajikan hidangan steak itu, terlebih, Andri hanyalah pria yang aku manfaatkan sebagai pelarian.

__ADS_1


Aku teringat, ketika berkunjung ke mall ini. Feni membawaku ke salah satu restoran dengan menu masakan Indonesia, dan harga terjangkau.


“Aku ingin makan tongseng,” ucapku. Setidaknya steak dan tongseng sama-sama berasal dari daging sapi, namun perbedaan harga antara steak dan tongseng sapi, hampir sepuluh kali lipat.


“Di ujung sana ada restoran yang menjual tongseng enak, aku sudah pernah mencobanya. Apakah boleh, jika kita makan di sana saja?”


“Kau menyukai tongseng?” tanya Andri.


Aku tersenyum, tentu saja aku menyukai tongseng. Aku bahkan menyukai makanan apa saja, selama itu halal, dan enak. Apalagi makanan gratis seperti ini.


Ku anganggukkan kepalaku, “di Medan tidak ada yang menjual tongseng,” jawabku. Andri pun tersenyum. Kami lantas melangkahkan kaki menuju restoran itu. Restoran yang menjual tongseng enak itu. Walaupun nama restoran itu mengandung kata bakso, namun, menu masakan di sana sangat beragam. Bahkan kau dapat menjumpai menu cah kangkung di sana.


Memesan dua porsi tongseng sapi, kami makan siang dengan duduk berhadapan. “Bagaimana? lezat kan tongsengnya?” tanyaku. Andri menjawabnya dengan tersenyum sumringah.


Bagaimana mungkin dia tidak sumringah, selain karena rasa tongseng ini begitu enak, total pesanan aku dan Andri, bahkan lebih murah dibandingkan dengan harga seporsi steak tadi.


“Hari ini, kau, aku culik sampai malam. Tidak apa-apa kan?” tanyanya. Aku tersenyum dan menjawabnya, “tidak apa-apa kok. Asal jangan sampai isya. Karena Abangku sudah pulang bekerja.” Aku tidak mau Bang Alid berceloteh dari A sampai Z dan kembali lagi ke A, jika aku mengenalkan seorang pria padanya. Untungnya, Andri menyanggupi syarat dariku.


***


Memasuki gedung bioskop, Kalila melangkah sembari membawa popcorn ditangan kiri dan lychee tea di tangan kanannya.


Begitu juga dengan Andri, pria itu juga membawa popcorn dan minuman di kedua tangannya. Hanya saja, pria itu memilih minuman bersoda untuk menghilangkan dahaganya ketika menonton, nanti.


Seratus tiga puluh tiga menit mereka di dalam sana, menonton film yang menampilkan salah satu pahlawan super wanita dari studio Marvel. Andri dan Kalila memang menyukai pahlawan-pahlawan dari studio Marvel itu. Sehingga mereka begitu menikmati film itu.


Mereka bahkan masih menyeritakan mengenai film yang mereka tonton tadi, setelah keluar dari gedung bioskop.


Saat ini, tepat pukul 17:20 WIB. Andri kembali mengajak Kalila untuk makan malam bersama. Kalila terdiam, sebenarnya gadis itu tidak mau terlalu lama berada di mall itu.


“Ayolah, La. Aku berjanji, sebelum pukul delapan malam, kau sudah berada di rumah.”


Andri benar-benar menaruh harap. Rencananya, pria itu akan menyatakan perasaannya kepada Kalila, setelah makan malam bersama.


Kalila menghela napas kasar. Gadis itu pun menyetujui permintaan rekan kerjanya itu.

__ADS_1


Tidak mau kembali berkeliling mall dan membuat mereka lelah, Andri dan Kalila, memutuskan untuk menyantap makan malam mereka di kafe bioskop. Kebetulan setiap sore, ada pertunjukan musik di kafe bioskop itu. Andri dan Kalila terlihat sangat menikmati santap makan malam mereka. Terlebih, lagu-lagu bertemakan cinta, menggema, menemani santap makan malam Andri dan Kalila.


Suasana malam ini sangat mendukung untuk saling mengungkapkan cinta. Andri sudah membayangkannya. Pria itu akan memesan sebuah lagu romantis kepada grup band kafe itu, dan akan menyatakan perasaannya pada Kalila, sembari lagu pesanannya itu didendangkan.


Saat Kalila menyelesaikan santap makan malamnya, Andre pun sudah memesan sebuah lagu kepada grup band itu.


^^^Rambut warna warni bagai gulali^^^


^^^Imut lucu walau tak terlalu tinggi^^^


^^^Pipi chubby dan kulit putih^^^


^^^Senyum manis gigi kelinci^^^


^^^Membuatku tersadar^^^


^^^Bentuk cinta itu^^^


^^^Ya kamu^^^


“Kalila ...,” panggil Andri. Kalila menengadahkan pandangannya, menatap pria yang duduk di hadapannya. Pria itu ingin mengungkapkan perasaannya sekarang.


“Ada yang ingin aku sampaikan,” lanjut Andri. Dengan wajah yang dihiasi oleh senyuman, Kalila menatap pria itu, siap untuk mendengarkan.


“Sebenarnya—”


Dering ponsel Kalila, membuat Andri menghentikan ucapannya. Sementara Kalila, dirinya membeku, menyaksikan ponselnya yang kini tengah berdering dan menampilkan satu nama.


Ibrahim Adi Putra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2