
“Anda datang ke hadapan suami saya, minta maaf padanya atas perbuatan anda selama ini. Dan, satu lagi, meminta tolonglah dengan layak. Kalau perlu memohon sambil berlutut di hadapan suami saya.”
Kalila menarik lengan Dimas dan meninggalkan ruang makan private itu. Meninggalkan Gilang dan Adi Putra. Tentu saja Adi Putra begitu kesal dengan ucapan Kalila.
Meminta maaf?
Memohon sambil berlutut?
“Memang pasangan yang cocok. Suaminya seorang anak haram, dan istrinya adalah seorang wanita brengs3k dan arogan!” umpat Adi Putra.
Gilang kembali bersitegang dengan sang ayah. Pria paruh baya itu tidak akan sudi, jika harus berlutut dan memohon kepada Dimas. Jangankan memohon, melihat wajah Dimas saja, Adi Putra sudah enggan.
“Kita ke apartemen Ibra. Kita paksa dia untuk kembali ke perusahaan. Aku yakin, cucuku itu lebih dari mampu untuk membantu perusahaan.”
“Mampu? Apa Papi lupa, perusahaan kita pailit karena siapa?!” ungkap Gilang.
Namun, Adi Putra tentu saja tidak memedulikannya. Bagi Adi Putra, Ibrahim adalah satu-satunya orang yang cerdas di jagat raya ini. Cinta Adi Putra kepada Ibrahim begitu besar. Cucunya itu hanya salah langkah hingga sedikit tersesat.
Dengan malas, Gilang meminta supir untuk mengantarkan mereka ke apartemen mewah milik Ibrahim.
Lagi-lagi mereka menemukan Ibrahim tergeletak di lantai, bahkan di sekitar pria itu terdapat banyak sekali tumpahan minuman keras.
Gilang benar-benar geram melihat tingkah sang anak kini. Dipandangnya wajah Ibrahim yang kini dipenuhi oleh banyak bulu-bulu halus di sekitar ujung pipi dan dagunya. Terbersit rasa sedih di hati Gilang saat melihat anaknya begitu tak terurus.
“Apa salahku ya Allah ... Mengapa anakku bisa menjadi manusia yang begitu jauh darimu. Padahal, dulu Ibra adalah anak yang begitu soleh,” benak Gilang. Pria paruh baya itu kini merasa gagal menjadi seorang ayah.
“Kita harus membantu Ibra lepas dari candunya akan alkohol,” ucap Gilang. Adi Putra bergeming. Pria lanjut usia itu sebenarnya sangat ingin melihat Ibrahim lepas dari jerat minuman keras. Namun, kalau kabar itu mencuat ke media, tentu itu akan mencoreng nama baik dirinya.
“Tidak boleh ada yang tau, jika cucu seorang Adi Putra, kecanduan alkohol. Itu akan membuatku sangat malu! Saham perusahaan juga akan semakin anjlok!”
Gilang menatap nanar pada sang ayah. Bukan kah selama ini Ibrahim adalah cucu kesayangannya? Lalu kenapa sang ayah lebih memikirkan rasa malunya, dibandingkan kesehatan fisik dan mental cucu kesayangannya itu?
“Kurung Ibra di kamar. Tugaskan dua orang asisten rumah tangga di rumah besar, untuk mengurusnya di sini. Tugaskan juga seorang satpam untuk menjaga keamanan,” titah Adi Putra.
“Pi, Ibra ini sudah kecanduan. Dia butuh bantuan medis, butuh penanganan dari profesional!”
__ADS_1
“Ya, tinggal kau cari seorang profesional. Minta dia untuk tinggal di sini sampai Ibra sembuh dari candunya. Tapi ingat, pastikan orang itu bisa dipercaya, dan tidak menyebarkan berita ini.”
Gilang hanya bisa mengikuti perintah sang ayah.
Akhirnya pria itu membawa dua orang asisten rumah tangga yang sudah mengabdi di rumahnya selama belasan tahun. Gilang juga membawa seorang security di hari yang sama.
Ketiga orang pekerja itu, langsung membersihkan seluruh rumah begitu tiba di sana. Dan, ketika Ibrahim tersadar, pria itu mendapati seluruh rumahnya sudah bersih.
Pria itu berjalan menuju rak penyimpanan minuman keras miliknya. Seperti biasa, saat tengah malam, Ibrahim mulai berpesta hingga pagi, seorang diri. Pria itu bahkan tidak menyadari jika ada orang lain di kediamannya. Ibrahim asik sendiri dengan minuman keras miliknya dan dentuman lagu yang memekakkan telinga.
Hingga tiga hari kemudian, Ibrahim berteriak histeris karena tidak mendapati minuman keras miliknya di tempat biasa. Seluruh penghuni kamar apartemen mewah itu terbangun. Tak terkecuali seorang psikiater dan seorang perawat yang baru saja tiba di sana pagi tadi.
“Anda mencari ini, Pak Ibra?”
Ibrahim menoleh ke sumber suara. Berdiri seorang pria muda yang cukup tampan. Ibrahim pun menghampiri pria itu dan hendak merampas botol minuman keras yang ada pada pria itu. Namun, pria yang berprofesi sebagai psikiater itu menahannya dengan erat.
“Perkenalkan, nama saya Arya. Mulai sekarang, jika anda ingin meminum minuman keras ini, anda harus menyeritakan kisah hidup anda. Satu kisah, satu gelas. Bagaimana?”
Bukannya menjawab tantangan yang diberikan oleh psikiater muda itu, Ibrahim malah memberikan kepalan tangan ke wajah psikiater tampan itu. Untung saja pria itu mempunyai ilmu bela diri yang mumpuni, hingga bisa menangkis serangan Ibrahim. Bahkan pria itu berhasil membuat Ibrahim seketika berlutut.
Psikiater muda itu, memberikan Ibrahim tiga buah gelas sloki yang berisi minuman keras.
Dan, sejak saat itu, mereka membuat sebuah perjanjian. Ibrahim harus bercerita tentang kisah hidupnya selama sepuluh menit, setiap kali pria itu ingin meminum minuman keras itu. Bahkan, itupun Ibrahim hanya boleh meminum satu sloki saja, atau setara dengan 30 ml.
Jika pria itu menginginkan lebih, dia harus bercerita lebih lama.
Ibrahim yang terbiasa menenggak sebotol minuman keras, merasa sakit di sekujur tubuhnya karena menenggak minuman itu hanya tiga sloki. Dengan kesal, Ibrahim menggedor pintu kamar Arya.
“Buka! Buka pintunya! Aku butuh minuman itu sekarang juga!”
Sama sekali tak ada suara dari balik pintu kamar itu. Ibrahim bahkan berusaha mendobrak pintu itu, namun nihil. Pria itu malah terjerembab dan merasa sakit di sekujur tubuhnya.
Berulang kali Ibrahim meminta minuman keras itu, berulang kali juga Arya dan asistennya bergeming dan tak menanggapi teriakan Ibrahim.
“Aku akan bercerita! Berikan minuman itu sekarang!”
__ADS_1
Terdengar suara pintu hendak dibuka. Ibrahim pun menegakkan badannya, bersiap menyambut minuman keras yang telah menjadi sahabatnya itu. Namun, apa yang diharapkan Ibrahim tak terjadi. Arya hanya keluar seorang diri tanpa membawa apapun di tangannya.
“Mana minuman itu!” teriak Ibrahim. Pria itu bahkan berusaha untuk masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Arya. Tapi tentu saja hal itu tidak berhasil. Karena dari segi kekuatan, Ibrahim kalah dengan Arya, terlebih pria itu tidak dalam kondisi yang bugar.
“Sekarang sudah jam dua dini hari. Saya mau istirahat. Jadi, saya tidak membuka sesi curhat di jam ini. Jika anda mau, anda boleh temui saya besok pagi, setelah anda menghabiskan sarapan yang dihidangkan.”
“Brengs*k!”
Ibrahim kembali melayangkan kepalan tangannya, dan Arya kembali berhasil menghindari, bahkan membuat Ibrahim kembali bertekuk lutut.
Arya pun kembali ke kamarnya, dan meninggalkan Ibrahim yang masih berlutut di sana.
Ibrahim terus berteriak. Pria itu bahkan menghancurkan beberapa perabotan di sana. Namun, Arya tetap bergeming dan tak menemui Ibrahim.
Pria itu baru keluar dari kamarnya, persis setelah mendapatkan kabar, jika sarapan telah siap. Arya membuka pintu kamarnya. Pria itu langsung melihat pemandangan yang membuatnya tersenyum.
Ibrahim duduk meringkuk dengan tubuh gemetar.
Diajaknya pria itu berdiri dan menuntunnya ke meja makan. Namun, Ibrahim tak mau membuka mulutnya.
“Kalau selembar roti itu tidak habis, saya tidak akan menerima cerita apapun. Itu artinya, anda tidak bisa menikmati minuman itu.”
Mau tak mau, Ibrahim menyantap roti itu dengan rakus. Dirinya sudah benar-benar merindukan sahabatnya—sang minuman keras.
Dan kini, mereka berada di kamar Ibrahim.
“Silakan anda bercerita apa saja tentang hidup anda.”
“Namaku Ibrahim Adi Putra. Cucu dari salah satu pengusaha yang sukses di Indonesia.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...