Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 95


__ADS_3

GHITA ADI PUTRA POINT OF VIEW


“Kau gugurkan kandungan itu! Atau kau tidak lagi aku anggap sebagai anak!”


Aku ingat betul kalimat itu. Kalimat yang dilontarkan oleh papi di ruang keluarga rumah ini. Saat itu aku meraung, memohon ampun kepada kedua orang tuaku. Namun, papi dan mami tetap mengusirku dari istana ini.


Aku tau jika aku telah salah jalan. Pergaulanku telah melewati batas, hingga aku bisa hamil tanpa adanya pernikahan.


Kekasihku saat itu tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Alasannya hanya satu, dia tidak yakin jika anak yang aku kandung adalah darah dagingnya. Padahal hanya dia lelaki yang pernah menyentuhku.


Saat itu aku bersikukuh tidak mau menggugurkan kandungan ini. Aku telah berbuat dosa, dan aku tidak mau menambah dosa dengan membunuh darah dagingku. Aku akan merawatnya. Aku akan bertanggung jawab atas dosa yang ku perbuat.


Aku memohon dan berlutut kepada kekasihku untuk mau bertanggung jawab, setidaknya sampai ijab qabul, agar anak yang aku kandung memiliki ayah pada akta kelahirannya. Dia pun bersedia dengan syarat, dirinya akan pergi setelah proses ijab qabul selesai.


Pria itu benar-benar meninggalkan kami— aku dan anak yang ada dalam kandunganku— setelah prosesi ijab qabul selesai. Hendak terjadi pertikaian antara A' Gilang dengan kekasihku saat itu, namun aku memeluk erat A' Gilang yang telah menjadi wali nikahku.


Aku masih tinggal bersama A' Gilang dan Teh Aynoor, saat itu. Namun, satu hari setelah hari pernikahan nelangsa itu, papi dan mami datang. Mereka memberikan ultimatum kepada A' Gilang. Jika kakak sulungku itu, masih menampungku tinggal di sana, namanya juga akan dicoret dari daftar pewaris. Bahkan Ibrahim, akan diambil paksa dan dipisahkan dari A' Gilang dan Teh Aynoor.


Sejak saat itu, aku keluar dari kediaman A' Gilang. Papi memberikan aku sebuah ruko tiga lantai, yang sudah menjelma menjadi sebuah butik. Dan aku pun tinggal di sana. Sendirian. Di lantai dua butik itu, dan hanya beralaskan sebuah karpet, yang di bawa A' Gilang dari kediamannya.


Aku baru kembali ke kediaman itu, saat A' Gilang mengingatkan jika ada hak Dimas di perusahaan itu. Aku memohon kepada papi dan mami untuk menyekolahkan anakku, di sekolah yang sama dengan anaknya A' Gilang— Ibrahim Adi Putra.


Jika Ibrahim pergi ke sekolah dengan diantar oleh sebuah mobil mewah, Dimas aku antar ke sekolah dengan sepeda motor bekas yang berhasil aku beli dari penghasilan butik. Namun, setelah Dimas masuk di sekolah dasar yang sama dengan Ibrahim, mereka berangkat sekolah bersama. Aku dengar dari A Gilang, jika itu adalah keinginan Ibrahim. Keponakanku itu memang mewarisi sifat baik hati kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sejak saat itu— sejak biaya pendidikan Dimas, dibiayai papi dan mami— aku kembali menginjakkan kaki di rumah besar itu, setiap idul fitri. Aku melakukan hal itu, hanya untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada papi dan mami, karena mereka sudah membiayai sekolah Dimas. Aku mengenalkan Dimas kepada keluarga besar.


Aku masih ingat sorot mata Dimas, ketika memasuki rumah megah milik orang tuaku itu. Dimas sangat senang bertemu dengan saudaranya— Ibrahim. Dimas juga sangat senang sekali bertemu kakek dan neneknya. Akhirnya dia mempunyai kakek dan nenek. Selama ini Dimas hanya tau, dirinya hanya memiliki aku dan juga Teh Asih—asisten rumah tangga yang sudah aku anggap sebagai kakak sendiri.


Dimas yang suka berceloteh, terus mengoceh di hari idul fitri itu. Bahkan saat kami makan bersama, Dimas terus berceloteh.


“Diam!”


Itu adalah kata pertama yang diucapkan papi kepada Dimas.


***


Sejak kehadiranku saat itu, A' Gilang dengan berbagai cara, memintaku untuk datang ke rumah papi dan mami. Akupun tidak bisa menolaknya. Apalagi Dimas terlihat sangat bahagia, jika kami akan berkunjung ke rumah kakek dan neneknya.


Aku ingat betul, setelah idul fitri, kami kembali ke sana ketika papi berulang tahun. Ulang tahun papi, tidak jauh dari kenaikan kelas Dimas dan Ibrahim. Ibrahim yang mendapatkan nilai A+ pada semua mata pelajarannya, membuat papi teramat bangga. Papi memberikan sebuah hadiah untuk keponakanku itu. Dimas menatapnya dengan berbinar.


Namun, tentu saja anakku diabaikan. Papi bahkan tidak menoleh kepada Dimas sedikitpun. Dan itu berlangsung bertahun-tahun, hingga membuat Dimas trauma. Trauma dengan sikap abai kakek dan neneknya.


Bertahun-tahun kami hadir di sana, tapi dianggap tak ada. Jika bukan demi masa depan Dimas, akupun tak mau mengajak anakku ke rumah ini. Aku ingin Dimas mendapatkan pendidikan yang setara dengan Ibrahim.


Untuk itu aku perlu membawa Dimas kembali ke rumah ini. Untuk mengucapkan terima kasih karena telah membiayai pendidikannya. Juga untuk menunjukkan jika anak yang dulu ingin mereka hilangkan nyawanya, juga memiliki kemampuan untuk meraih gelas master di universitas yang sama dengan A' Gilang dan Ibrahim.


Bahkan kini Dimas juga akan ikut mengelola perusahaan mereka. Walaupun Dimas hanya diberikan kedudukan sebagai manager. Aku pikir itu sudah cukup, untuk menunjukkan kepada mereka semua, jika anak yang selama ini diabaikan, bisa berkontribusi untuk kemajuan perusahaan mereka.

__ADS_1


Sejujurnya aku hanya ingin Dimas belajar di perusahaan itu. Aku menginginkan Dimas mampu, untuk membuat perusahaan seperti itu nantinya. Namun, aku tidak mengatakan niatku itu kepada Dimas. Biarlah dia yang memutuskan, apakah ingin terus mengabdi di perusahaan itu, atau merintis usahanya sendiri, kelak.


Ku pandang anak semata wayangku, yang kini tengah mengecup telapak tangan papi, mami dan teh Aynoor. Hanya ibunya Ibrahim yang tersenyum pada anakku. Sedangkan papi dan mami masih bersikap cuek.


Padahal sudah berlalu dua puluh empat tahun, namun mereka masih terus membenci Dimas. Padahal sikap mereka padaku sudah tidak sedingin dulu— walau masih saja dingin— namun dengan Dimas, mereka tetap begitu membenci putra semata wayangku.


Tidakkah ada rasa sayang sedikit saja terhadap anakku?


Bukankah di dalam tubuh Dimas, mengalir darah mereka?


“Akhirnya mampu juga kau menyandang gelar magister!” Papi langsung menghardik Dimas dengan senyum mengejek, begitu anakku duduk di sofa mahal miliknya. Ku perhatikan raut anak semata wayangku, dia hanya tersenyum tipis menatap kakeknya.


“Dimas lulus sesuai jadwal, Pi,” ujarku. Aku harus memberi pembelaan kepada anakku. “Sidang Dimas tertunda, karena dia sakit.”


Lagi-lagi papi hanya tersenyum mengejek. Memandang rendah pada anakku.


A' Gilang langsung mengalihkan pembicaraan. Kebetulan sudah waktunya makan siang. Kami pun makan siang bersama. Aku dan Dimas hanya mendengarkan papi, A' Gilang, dan Ibrahim bercerita mengenai perusahaan.


“Hei ... Jangan sampai kau berbuat keonaran di perusahaanku. Bekerja yang benar!” hardik Papi kepada Dimas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2