Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 24


__ADS_3

Ibrahim Adi Putra Point of View


Menyandang nama belakang Adi Putra, sedikit banyak menjadi beban buat ku. Terlebih aku cucu tertua di keluarga itu. Kakek dan nenek hanya mempunyai dua orang anak kandung. Ayahku— Gilang Adi Putra, dan ibunya Dimas— Ghita Adi Putra.


Dan sekarang, sebagai cucu di keluarga Adi Putra, aku dan Dimas yang akan meneruskan usaha keluarga besar kami. Mau tidak mau, berlangsungnya perusahaan berada di pundak kami berdua. Dan sialnya lagi, baik aku maupun Dimas, merupakan anak tunggal dari kedua orang tua kami.


Mimpiku untuk mengabdikan diri menjadi pengajar di daerah tertinggal, terpaksa harus ku kubur dalam-dalam.


Sampai suatu saat, aku mencoba melamar menjadi seorang guru di salah pusat bimbingan belajar yang cukup ternama. Kala itu aku baru berusia 16 tahun. Dan aku menjadi tutor termuda.


Sejak saat itu, hari-hari yang aku lalui, hanya penuh dengan belajar dan mengajar. Aku sangat menyukainya— belajar dan mengajar.


Lima tahun sudah berlalu ... Sejak hari pertamaku menjadi seorang tutor.


Kini, aku harus meninggalkan pekerjaan yang ku cintai itu, karena harus melanjutkan pendidikan magister ke luar negeri. Sesuai tradisi keluarga, sama seperti ayahku yang mengambil gelar magister di luar negeri, aku pun demikian.


Berada dalam jajaran 10 universitas arsitek terbaik di dunia, Universitas Nasional Singapura (NUS), menjadi tujuanku. Ayahku juga menimba ilmu di tempat yang sama, kala itu.


Aku bahkan mengambil dua program magister. Arsitektur dan Bisnis. Bisa kalian bayangkan? Hari-hariku pasti hanya akan ku habiskan dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya di negeri singa itu.


Ya ... sejak dulu aku memang sangat suka belajar. Belajar apapun itu. Menimba ilmu sungguh mengasyikkan. Belajar sungguh menyenangkan bagiku, sejak dulu. Hingga hari-hariku hanya selalu dikelilingi oleh buku.


Wanita?


Aku tidak pernah memiliki teman dekat seorang wanita, hingga sekarang— di usiaku yang ke dua puluh. Sepertinya mereka tidak terlalu menyukaiku. Begitu juga denganku. Aku tidak terlalu tertarik dengan wanita-wanita itu. Bahkan beberapa wanita yang dikenalkan oleh keluargaku.


Sampai ada seorang gadis yang mengulurkan tangannya padaku, sembari mengenalkan dirinya.


“Kalila Nasution, calon makmumnya Abang kelak.”


Entah mengapa, ucapan dan tingkah lakunya mencuri atensi ku.


Kalila Nasution.


Adik dari mentor sekaligus sahabatku— Khalid Nasution. Sering aku melihat wajah Kalila terpampang di setiap unggahan sosial media Bang Khalid. Akhirnya aku bertemu dengannya. Adik kebanggaan, dari orang yang sudah aku anggap sebagai abangku sendiri. Aku pun selalu menganggap Kalila sebagai adikku kala itu.


Tapi tidak setelah bertemu dengannya. Setelah berjabatan tangan dengannya. Kalila sungguh menarik perhatianku. Namun sepertinya bukan hanya aku yang merasa tertarik padanya. Dimas pun demikian.

__ADS_1


Sepupuku itu, bahkan sudah sangat dekat dengannya. Tidak heran, karena Dimas seseorang yang mudah bergaul. Tidak seperti ku. Dimas adalah pria yang menyenangkan. Memiliki banyak teman, baik pria maupun wanita. Hidupnya sempurna. Kecuali satu. Kakek dan nenek kurang menyukainya, karena Dimas terlahir tanpa seorang ayah. Tante Ghita menikahi pria yang menghamilinya, kemudian ditinggalkan begitu saja. Bahkan Tante Ghita tidak menikah lagi setelahnya.


Aku terdiam cukup lama, ketika Dimas dengan menggebu-gebunya menyeritakan perihal Kalila. Dia bahkan merencanakan liburan dengan keluarga Kalila di Puncak. Aku memutuskan untuk mengalah saat itu.


Tapi, sejak perpisahan aku dan Kalila di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Ketika gadis itu kembali ke kota asalnya, ada rasa yang mengganjal, saat tau Kalila akan pergi. Aku merasa kehilangan.


Sampai suatu ketika, aku mendengar kabar jika Bang Khalid hendak kembali ke kota Medan. Aku pun meminta izin kepada ayah dan kakek untuk menunda keberangkatan ku ke Singapura.


“Kau benar-benar mau ikut ke Medan, Ba?” Tampaknya Bang Khalid benar-benar terkejut dengan keinginan ku ikut ke kampung halamannya.


“Aku ingin berlibur sebelum jadwalku padat dengan dua program magister itu Bang. Danau Toba ... katanya sangat indah. Pasti menyenangkan jika berlibur bersama keluarga Abang.”


“Ya ... aku akan mengajak mu menikmati keindahan Danau Toba. Danau vulkanik terbesar di dunia. Kalila juga sangat menyukai Danau Toba.”


Bang Khalid tersenyum sumringah. Begitu juga denganku. Aku dan Bang Khalid merencanakan kegiatan yang akan kami di lakukan di sana— di kota Medan dan sekitarnya.


“Aku juga akan mengajakmu berkeliling tempat bersejarah di Kota Medan. Istana Maimoon dan Mesjid Raya Al-Mashun. Kau pasti akan senang. Jika aku tak sempat mengantarkan, akan ku suruh Kalila yang menemani kau. Biar dia belajar menjadi tour guide,” ucap Bang Khalid.


Syukurlah Bang Khalid terdengar bersemangat. Aku sempat tidak enak hati karena akan menumpang selama satu Minggu di kediaman keluarga Nasution itu. Namun, ternyata itulah yang diharapkan oleh Bang Khalid.


“Kau sudah aku anggap seperti adik sendiri, Ba. Jangan sungkan. Seluruh keluarga kami juga pasti akan senang. Terutama Kalila.” Aku tertawa kecil mendengar pernyataan Bang Khalid.


Aku tau mereka sudah cukup dekat sekarang. Aku sering menyaksikan Dimas berbicara dengan Kalila melalui panggilan telepon. Aku bahkan pernah melihat Dimas melakukan panggilan video dengan gadis itu.


Jika Dimas pernah menghabiskan waktu selama dua hari bersama Kalila dan keluarganya. Kali ini aku akan menghabiskan waktu satu Minggu bersamanya. Bersama gadis bersinar itu. Aku sangat bersemangat.


Maaf Dimas. Aku juga ingin mencoba dekat dengan gadis itu.


***


Ku atur ulang jadwal keberangkatan ku ke negeri singa. Mengemasi barang-barang yang aku butuhkan selama berlibur di Kota Medan. Memilah-milah pakaian mana yang pantas aku kenakan di sana. Mencoba terlihat keren di hadapan gadis yang kau sukai, bukankah itu lazim?


Ketika aku tengah sibuk perihal pakaian, Dimas masuk tanpa permisi. “A' ... Aa' beneran mau liburan ke Medan?!”


Aku menoleh, menatap sepupuku. Aku hanya mengangguk, menjawab pertanyaannya. “Kok bisa? Aa' tidak jadi ke Singapura? Dimas ikut ya A'. Kapan berangkat A? Bareng Bang Alid, ya?”


“Pertanyaan maneh (kamu) terlalu banyak.”

__ADS_1


Ku lirik Dimas. Tercetak jelas, raut kegelisahan di wajahnya. “Kapan Aa' berangkat ke Medan. Dimas sudah sangat merindukan Kalila. Dimas boleh ikut kan?” Dia terus saja memberikan bertubi-tubi pertanyaan.


“Ba'da subuh sudah berangkat,” jawab ku singkat. Ku dengar helaan napas Dimas. Dia pasti kecewa. Dia juga pasti ingin bertemu kembali dengan Kalila.


Kami saling diam. Ku lanjutkan kembali kegiatanku. Kali ini aku tinggal merapikan barang-barang ke dalam tas ranselku. Dimas menghampiri. Sepupuku itu turut membantu.


“Andai itu Minggu depan, aku pasti bisa ikut. Minggu ini jadwal ujian semester. Kakek pasti tidak akan memberikan izin.”


“Maneh cukup belajar yang benar.”


Dimas tersenyum tipis, kemudian mengangguk pelan, “sampaikan salam ku untuk Nek Laila, Mamak, Bang Rav, dan ... untuk Kalila— calon makmum ku.” Aku hanya mengangguk dan melirik Dimas sekilas.


Dia masih memanggil gadis itu dengan sebutan ‘calon makmum.’


Dimas langsung berlalu setelahnya. Aku pun kembali mengemasi barang-barang ku. Berharap waktu cepat berlalu hari ini. Aku sudah tidak sabar memulai perjalanan ke Kota Medan. Bukan hanya untuk bertemu Kalila, tapi juga mengeksplorasi provinsi Sumatera Utara.


Subuh itu, selesai beribadah, aku langsung menghambur. Melangkahkan kaki dengan sedikit berlari kecil, menuju halaman depan.


Dan, aku mendapati Dimas tengah menunggu, tepat di depan mobil yang akan aku gunakan untuk menjemput Bang Khalid dan berangkat ke bandara. Dia terlihat membawa satu buah tas jinjing.


“Tolong titip buat Kalila dan keluarganya ya A.”


***


Sore itu aku tiba di kediaman Bang Khalid. Tidak ada Kalila di sana. Ternyata dia masih belum pulang sekolah. Dan aku baru bertemu dengannya, ketika aku baru saja menyelesaikan ibadah sholat Maghrib. Dia mematung di sana. Menatapku. Aku langsung menyapanya.


“Assalamualaikum, Kalila. Baru pulang sekolah?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jejak 👣 :


Aa' : Panggilan saudara laki-laki dalam suku Sunda.


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2