
Akhir pekan ini, Dimas bersama ibunya berkunjung ke rumah kakeknya— Adi Putra. Sebenarnya Dimas sangat malas berkunjung ke rumah besar itu. Rumah di mana dirinya selalu merasa teracuhkan.
“Kau tidak boleh seperti itu, bagaimanapun kakek sudah membiayai pendidikan kau,” ucap Bu Ghita. Ibunya Dimas itu, sebenarnya juga tidak ingin berkunjung ke rumah orang tuanya. Orang tua yang telah mengusirnya. Orang tua yang memintanya untuk membunuh anak yang dikandungnya. Orang tua yang tidak pernah hadir dalam masa-masa terpuruknya.
Namun, undangan makan siang yang disampaikan oleh kakak kandungnya— Gilang Adi Putra— membuatnya mau tak mau, suka tak suka, harus berkunjung ke sana. Sebenarnya Bu Ghita tau, siapa yang menggagas acara makan siang itu. Tentu saja itu bukan kehendak sang ayah ataupun juga ibunya. Sudah pasti itu semua rencana Gilang Adi Putra— kakak kandungnya.
Kakak lelaki Bu Ghita, yang juga merupakan Uwa dari Dimas, memang selalu membantu Bu Ghita, tanpa sepengetahuan ayah mereka— Adi Putra. Sejak Bu Ghita diusir, Gilang lah yang membantu Bu Ghita membeli barang-barang untuk perlengkapan tinggal Bu Ghita yang saat itu tengah mengandung Dimas.
Pak Gilang yang membelikan tempat tidur, lemari baju, lemari makan, serta perlengkapan rumah lainnya, untuk adiknya itu tinggal. Pak Gilang juga mencari seorang asisten rumah tangga— bernama Asih— untuk membantu Ghita mengurus rumah.
Wanita yang bernama Asih itu, bahkan sudah dianggap seperti kakak sendiri oleh Bu Ghita. Dimas juga sudah menganggap wanita itu sebagai ibu angkatnya. Dimas juga memanggil Bu Asih dengan sebutan Ibu.
Bu Asih tadinya adalah seorang janda yang ditinggal oleh suaminya karena tidak bisa memiliki keturunan. Dipertemukan dengan Bu Ghita yang tengah mengandung tentu membuatnya senang. Apalagi harus membantu Bu Ghita merawat Dimas, wanita itu merasa bahagia. Terlebih ketika Dimas beranjak besar dan memanggilnya dengan sebutan ibu. Sungguh tak terkira kebahagiaan yang dirasa oleh Bu Asih, karena akhirnya, dia memiliki seorang anak, walaupun itu anak majikannya.
Bu Asih lah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Dimas dan ibunya selama ini. Mereka bertiga menghadapi masa-masa sulit bersama, begitupun dengan masa-masa indah.
***
Cuaca kota Bogor yang sendu siang itu, membuat Dimas tambah malas untuk menghadiri acara makan siang bersama dengan keluarga ibunya. Jika bukan karena paksaan sang ibu kandung, tentu saja Dimas tidak akan menginjakkan kaki ke rumah itu. Biasanya mereka menginjakkan kaki di rumah itu, hanya tiga kali dalam satu tahun. Saat perayaan hari raya idul fitri dan saat hari ulang tahun kedua orang tua Bu Ghita, yang tak lain adalah ulang tahun kakek dan neneknya Dimas.
“Sebenarnya, Bunda juga malas kan, pergi ke rumah itu?” tanya Dimas. Mata pria itu bahkan menyipit, seakan menyelidiki sang ibunda. Bu Ghita tersenyum melihat tingkah anak kesayangannya itu. Anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Anak yang tidak pernah mendapatkan perhatian dari kakek dan neneknya. Bu Ghita mengelus pundak Dimas.
__ADS_1
“Kita tetap harus ke sana. Kata Uwa Gilang, hari Senin, kau sudah mulai bekerja di perusahaan kakek.”
Dimas mengembuskan napas berat. Sebenarnya dirinya sama sekali tak tertarik dengan perusahaan itu. Membantu mengelola butik sang ibu, lebih disukainya. Tapi Bu Ghita tidak mau anaknya hanya mengurus butik miliknya. Bu Ghita ingin anaknya menjadi pria hebat, yang tidak hanya mengurus butik miliknya saja. Bu Ghita ingin Dimas belajar banyak dari perusahaan kakeknya.
“Ada hak kau dan Dimas di perusahaan itu. Apa kau tidak ingin Dimas hidup nyaman dengan istri dan anaknya, nanti?”
Karena ucapan kakak sulungnya itulah, Bu Ghita mendatangi kedua orang tuanya, dan memohon agar Dimas juga disekolahkan di sekolah yang sama dengan Ibrahim.
Diiringi rintik hujan, Dimas mengemudikan kendaraannya. Jalanan kota Bogor cukup padat siang itu. Awan gelap yang menyelimuti kota Bogor, tak menghalangi orang-orang untuk menghabiskan waktu liburan mereka di kota hujan itu.
Butuh waktu selama empat puluh menit, untuk mereka tiba di kediaman kakek dan neneknya Dimas.
Dan kini, Dimas dan ibunya telah berada di sana. Dimas terdiam, kendaraan yang dikemudikannya kini tepat berada di depan gerbang rumah besar itu.
“Dimas benar-benar malas masuk ke rumah itu, Bun,” ucap pria itu. “Kalau dulu hanya kakek dan nenek yang membuat Dimas enggan, sekarang bertambah satu orang lagi. Dimas malas bertemu A' Ibra,” lanjutnya lagi.
Bu Ghita memahami perasaan putranya. Wanita yang telah melahirkan Dimas itu, kembali mengusap pundak anaknya. “Kita tetap harus masuk ke rumah itu. Ini semua demi masa depan kau.”
“Bun, selama ini kita juga bisa hidup layak tanpa bantuan mereka!”
“Tanpa bantuan mereka? Apa kau lupa, siapa yang telah membiayai sekolah kau, sejak taman kanak-kanak hingga meraih gelas master?!”
__ADS_1
Lagi-lagi Dimas menghela napas berat. Dengan berat hati, pria itu menekan klakson kendaraannya. Bu Ghita pun tersenyum lembut kepada putranya itu.
Sementara itu, seorang penjaga keamanan rumah besar Adi Putra itu, menatap layar yang ada di pos jaga mereka. Memerhatikan kendaraan siapa yang tadi membunyikan klakson di depan gerbang rumah mewah itu. Setelah melihat mobil yang mereka kenali sebagai mobil milik cucu Adi Putra, pria itu pun menekan sebuah tombol, hingga gerbang itu terbuka.
Dimas yang melihat pintu gerbang terbuka, membawa kendaraannya melewati pintu gerbang itu. “Welcome to the hell, Bun,” ucap Dimas. Bu Ghita lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi ocehan Dimas. Sejak Dimas beranjak remaja, selalu saja ada drama, ketika mengajaknya ke rumah besar Adi Putra. Perbedaan perlakuan kakek dan neneknya terhadap Dimas dan Ibrahim, membuat pria itu enggan menginjakkan kaki di rumah itu. Ibrahim selalu mendapatkan perhatian dari kakek dan neneknya. Dan sekarang, Ibrahim juga mendapatkan cinta Kalila. Bertambahlah alasan Dimas, enggan untuk menginjakkan kaki di rumah besar Adi Putra.
“Hey jagoan,” sapa Pak Gilang, sembari memeluk Dimas dan menepuk-nepuk punggung keponakannya itu. Dimas tersenyum. Dimas mengambil telapak tangan ayah kandung Ibrahim itu, dan mengecupnya dengan takzim, setelah pria paruh baya itu melepaskan pelukannya.
“Apa kabar Wa?” sapa Dimas.
“Uwa sehat. Ayo ... ayo ... masuk.”
Bu Ghita dan Dimas pun melangkah masuk ke rumah besar itu. Hawa dingin seketika menyapa tubuh Dimas, begitu kakinya melangkah lebih jauh ke dalam rumah. Sudah berkumpul kakek, nenek, tante dan sepupunya, ketika Dimas tiba di ruang keluarga.
Hawa dingin semakin menyengat tubuh Dimas, ketika setiap orang yang ada di sana, menatap tajam dirinya. Ingatan Dimas pun kembali ke masa kecilnya. Saat dirinya berusaha terlihat di mata kakek dan neneknya, namun tetap diacuhkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...