
“Maaf, kalian lama menunggu,” ujar Ibrahim. Pria itu menarik kursi dan mendudukkan dirinya di samping Khalid. Hidangan mereka bahkan baru saja tiba, bersamaan dengan hadirnya Ibrahim di sana.
Cacing-cacing yang sudah berdemo, membuat Kalila, Khalid dan Ibrahim, menyantap makan siang mereka dengan lahap. Bahkan tidak ada obrolan di tengah-tengah santap siang itu. Obrolan mereka baru dimulai, ketika Khalid sudah selesai dengan hidangannya.
Pria itu langsung menanyakan kesempatan Kalila untuk bergabung di perusahaan milik keluarga Adi Putra itu. Ibrahim tersenyum dan menatap Kalila, hingga membuat gadis itu sedikit salah tingkah.
“Sembilan puluh sembilan persen diterima.”
Bibir Khalid melengkung membentuk sebuah senyuman sumringah. Wajahnya begitu cerah, seperti langit kota Bogor, saat ini. Begitu juga dengan Kalila, gadis itu begitu sumringah. Usahanya tidak sia-sia. Kalila Berhasil tampil cemerlang saat wawancara. Bahkan, gadis itu mendapatkan bonus yang tak disangkanya.
Ibrahim terpesona padanya. Ibrahim kembali menatapnya.
Bolehkan aku kembali berharap, Bang? Berharap kau akan segera memintaku menjadi istrikau.
“Bagaimana dengan pekerjaan kau yang sekarang, Lila?” Pertanyaan Ibrahim membuyarkan lamunan indah Kalila.
“Lila akan mengajukan surat pengunduran diri, kau tenang saja Ba,” jawab Khalid. “Benar kan, La?”
“Astaghfirullah,” pekik Kalila. Kalila langsung merasa gusar.
“Kenapa La?”
“Lila lupa Bang. Harusnya selesai wawancara, Lila ke yayasan. Bertemu Kak Anne, memberikan surat pengunduran diri.”
Gadis itu terlihat mengambil ponselnya, berjalan menjauh dari Khalid dan Ibrahim, Kalila berusaha menghubungi Anneke.
“Tidak masalah, Lila. Kau juga masih akan bekerja satu bulan lagi, kan? Besok saja kau bawa surat pengunduran diri itu.”
Tutur bahasa Anneke yang lemah lembut, membuat Kalila semakin tidak enak hati. Namun, gadis itu sudah membuat pilihan. Meninggalkan yayasan dan bekerja di PT. Adi Putra Group, menjadi pilihan Kalila.
Menghela napas panjang terlebih dahulu, Kalila melangkah kembali menghampiri Khalid dan Ibrahim.
“Bagaimana?”
__ADS_1
“Kata Kak Anne, menyerahkan surat pengunduran dirinya, besok juga tidak masalah,” jawab Kalila. Khalid dan Ibrahim kompak mengembangkan sebuah senyuman, mendengar ucapan Kalila.
Mereka kembali berbincang hingga waktu ashar tiba. Ibrahim bahkan meninggalkan pekerjaannya, hanya untuk mengobrol dangan Kalila dan Khalid.
Rasa rindu yang menyeruak pada diri Kalila, membuat gadis itu begitu bahagia hari ini. Kalila bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali dirinya berbincang dengan Ibrahim.
“Bagaimana jika kita traveling ke Wonosobo?” usul Ibrahim. Kalila yang tidak pernah menjejakkan kaki ke salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah itu, begitu antusias mendengarkan usul dari Ibrahim.
“Di sana ada apa saja, Bang?!” tanya Kalila antusias.
“Kita bisa mendaki puncak Bukit Sikunir, melihat sunrise. Mengunjungi kawah Sikidang, Telaga Warna dan masih banyak lagi. Ada beberapa candi juga di sana,” jelas Ibrahim.
“Kawah?” tanya Kalila. Entah mengapa gadis itu begitu tertarik, ketika Ibrahim menyebutkan kawah Sikidang. Ibrahim mengangguk, “Iya, Kawah Sikidang, namanya,” jawabnya.
“Tempat wisata berupa lapangan perkawahan di Dataran Tinggi Dieng. Karena terletak di tanah datar, jadi wisatawan mudah untuk menikmati pemandangannya,” lanjut Ibrahim. Kalila mendengarnya dengan mata menyala. Gadis itu begitu antusias.
Lapangan perkawahan? Bukan kah itu sangat menarik?
Begitulah yang ada di benak Kalila. Bergegas membuka ponsel, Kalila mencari info mengenai kawah Sikidang.
“Terus ...Kapan kita berkunjung ke sana, Bang?”
“Bagaimana kalau pertengahan tahun depan?” Kalila terdiam. Pertengahan tahun depan? Sekarang bahkan masih awal tahun. Dan Ibrahim menjanjikan kepada gadis itu, pertengahan tahun depan mereka akan melakukan perjalanan wisata ke Jawa Tengah.
Melihat tatapan kecewa pada manik kehitaman Kalila, Ibrahim pun mengerti. Gadis itu pasti bertanya-tanya, mengapa butuh waktu selama itu untuk merencanakan sebuah perjalanan wisata? Bahkan butuh waktu lebih dari satu tahun.
“Sampai awal tahun depan, agendaku padat, La. Aku baru bisa berlibur di pertengahan tahun depan,” jelas Ibrahim. Kalila hanya mengucapkan huruf O sembari mengangguk.
“Ibra itu kan direktur perencanaan, pekerjaannya pasti banyak. Harusnya kau bisa memahami itu, Kalila,” ucap Khalid kemudian.
“Ada beberapa hal yang ingin aku capai, Bang,” jelas Ibrahim. Khalid menganggukkan kepalanya, dan menatap kagum pada Ibrahim. Pria itu memang selalu punya rencana jangka panjang. Dan apapun yang dikerjakan olehnya, selalu berhasil dengan baik. Khalid pun teramat bangga mempunyai seorang teman seperti Ibrahim. Apalagi jika pria itu akan menjadi adik iparnya kelak. Khalid tak sabar menantikannya.
***
__ADS_1
Seminggu berlalu ....
Kalila sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya. Namun, belum ada satu orang pun rekan kerjanya yang tau perihal itu. Hanya Anneke yang mengetahuinya. Dan kini, seluruh staff taman kanak-kanak itu, tengah membicarakan perihal acara kelulusan murid mereka, pada pertengahan tahun nanti.
Bukan hanya para guru, seluruh staff di sana, turut memberikan andil, bahkan ditunjuk sebagai penanggungjawab. Salah satunya Andri. Pria itu bertanggung jawab untuk mengurusi dekorasi panggung dan gedung— kebetulan acara kelulusan itu diadakan di aula yayasan.
Andri menghampiri meja kerja Kalila. Walaupun sudah mengetahui jika sudah ada lelaki yang disukai oleh Kalila, Andri nyatanya masih berusaha menjadi lebih dekat dengan Kalila.
“Lila, kau bisa membantuku kan?”
“Kalau aku bisa, insyaallah aku bantu, Ndri,” ucap Kalila. Gadis itu bahkan memberikan senyum terindahnya. Bukan untuk menarik perhatian Andri, melainkan sebagai bentuk rasa bersalahnya pada pria itu. Kalila ingin membantu Andri kali ini. Setidaknya sebelum dirinya meninggalkan yayasan.
Andri membalas senyuman indah Kalila, dengan tidak kalah indah. “Bantu aku mengurusi dekorasi panggung dan gedung untuk acara kelulusan anak-anak,” ucapnya.
“Kau tau kan, kalau aku yang jadi penanggung jawabnya tahun ini. Sepertinya aku butuh bantuan kau. Kau belum bergabung dengan tim manapun kan?”
Kalila terdiam. Memang belum ada yang meminta bantuannya. Tapi gadis itu benar-benar tidak bisa membantu kegiatan itu. Kegiatan yang akan dilaksanakan empat bulan ke depan.
Mungkin ini waktunya, teman-teman tau jika aku tidak akan bekerja lagi di sini, mulai bukan depan.
Kalila menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Sebenarnya, gadis itu tak enak hati menolak permintaan Andri. Kalila juga sangat ingin membantu pria itu. Namun, dirinya benar-benar tidak bisa melakukannya.
“Andri ... Maaf ya, sepertinya aku tidak bisa membantu untuk hal itu.”
“Apa sudah ada yang meminta bantuan kau?” Kalila menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Andri tersenyum tipis.
“Aku tidak akan meminta imbalan apapun. Kau tenang saja.”
“Bukan itu ... Aku ... Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri satu Minggu yang lalu. Dan tiga Minggu ke depan, aku sudah bekerja di perusahaan lain.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...