
“Assalamualaikum, Kalila. Baru pulang sekolah?”
Kalila masih terdiam. Tidak tau apakah dia mendengar ucapan salam itu atau tidak. Gadis itu masih terpaku di sana. Menatap takjub sekaligus tak percaya. Hingga sebuah tepukan di pundak, membuatnya tersentak.
“Kalila Nasution, kalau ada orang mengucap salam, kau harus menjawab,” ucap Khalid. Kalila menoleh. Tepat di sebelahnya, berdiri seorang pria yang telah menjaganya sejak dia dilahirkan— Khalid Nasution.
Kalila yang baru saja tersadar, langsung menghambur ke pelukan Khalid. Membalas pelukan Kalila dengan tidak kalah erat, Khalid kembali mengingatkan adik kesayangannya itu, untuk membalas ucapan salam yang dilontarkan pria yang menghipnotis Kalila dengan suara merdunya.
Kalila perlahan memundurkan tubuhnya, hingga ia sudah terlepas dari dekapan Khalid. Kembali menoleh ke arah pria tadi. “Wa'alaikumussalam Bang Ibra,” jawabnya lembut. Gadis itu tersenyum. Senyum Ibrahim pun bertambah lebar.
“Sudah sana mandi, ganti seragam kau itu. Jangan lupa sholat, sudah mau masuk waktu isya. Setelah itu kita makan malam bersama,” ucap Khalid memeringati. Kalila mengangguk cepat. Gadis itu berpamitan dengan Ibrahim, kemudian mengayunkan kaki dengan laju ke kamarnya.
Butuh waktu setengah jam, hingga Kalila selesai dengan kegiatannya. Mereka pun makan malam bersama. Bu Alinah menghidangkan masakan khas Melayu. Makanan kesukaan putra sulungnya— Khalid Nasution.
“Ini namanya anyang, Ba. Makanan kesukaanku.” Ibrahim mengangguk dan tersenyum mendengar penuturan Khalid. Sembari memerhatikan sayuran yang terhidang itu.
“Nama makanan ini, anyang. Ada sayur pakis dan tauge yang sudah direbus, irisan bawang merah dan cabe segar. Disajikan dengan kelapa yang sudah disangrai. Mantap kali pokoknya,” jelas Khalid bersemangat.
“Jangan lupa dengan perasaan air jeruk nipis nya, Bang,” sahut Kalila. Khalid pun mengangguk dan membenarkan ucapan Kalila. Tanpa diminta, gadis itu langsung mengucuri sayuran itu dengan sedikit perasan air jeruk nipis.
“Tumben rajin,” sindir Kairav. Kalila langsung melirik tajam, hingga membuat Kairav terkikik geli. Tidak mau terjadi keributan pada hari pertama di kampung halamannya— terlebih ada Ibrahim di sana, Khalid langsung menengahi.
“Sudah, sudah. Ayo kita makan. Ini ada ikan asin goreng tepung, tempe goreng dan telur rebus sebagai pelengkapnya. Terserah kau mau ambil yang mana Ba. Semua juga boleh,” seru Khalid.
Mereka pun makan malam bersama kala itu. Ibrahim makan tidak terlalu banyak. Rasa anyang tidak terlalu familiar di lidahnya. Pria itu tidak terlalu menyukai sayur yang terbuat dari tanaman paku-pakuan itu. Untung saja dia hanya mengambil sedikit sajian malam ini.
“Kau makan sedikit sekali Bro,” seru Kairav. Ibrahim hanya tersenyum mendengar penuturan Kairav. Kairav kemudian melirik Kalila yang tengah makan dengan anggunnya.
__ADS_1
Anak ini ... tidak biasanya dia makan anggun begitu, biasa bar-bar. Pria yang kau sukai, harus menyukaimu apa adanya Kalila. Bukan seperti ini.
Kairav menggelengkan kepalanya pelan, menyaksikan Kalila yang tengah menjaga perilakunya di depan Ibrahim.
***
Pagi ini, Kalila berangkat lebih awal ke sekolah. Begitu tiba, gadis itu langsung menghampiri kantin. “Nasi gurih satu setengah porsi ya Kak,” ucap Kalila. “Pakai telur ceplok dan perkedel,” ucapnya lagi.
Kalila pun membawa satu piring penuh nasi uduk dan menyantapnya dengan lahap. Piring itu terlihat sangat penuh, karena Kalila memesan satu setengah porsi nasi untuk sarapannya kali ini. Terlebih gadis itu juga memesan dua lauk, telur mata sapi dan juga perkedel sebagai pelengkapnya. Padahal dalam satu porsi nasi uduk itu, sudah terdapat aneka lauk, seperti bihun goreng, tauco tempe dan tahu serta telur iris.
“La, tumben kau sarapan di sekolah. Mamak tidak masak?” tanya Feni yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan Kalila. Bahkan mereka berada di kelas yang sama. Kini Feni juga duduk di meja yang sama dengan Kalila. Gadis itu juga hendak sarapan. Berbeda dengan Kalila, lontong sayur menjadi pilihan Feni, untuk menu sarapannya.
“Masak kok. Tadi pagi mamak buat nasi goreng. Tapi aku hanya makan sedikit.”
“Memang kau bisa?” Kalila menghentikan kegiatannya, bahkan meletakkan sendok nya dengan rapi. Menatap sinis pada sahabatnya itu. Feni hanya tersenyum geli melihatnya. Karena Feni benar-benar tau seberapa besar porsi makan Kalila. Walaupun Kalila mempunyai badan kecil, tapi selera makan gadis itu benar-benar besar.
“Dari tadi malam aku menahan lapar, kau tau?!” Alis Feni berkerut. Kalila kembali lanjut menyuapi mulutnya dengan satu sendok penuh nasi uduk. “Bang Alid lagi pulang,” serunya lagi.
“Tapi dia membawa Bang Ibra bersamanya! Kau ingat, pria tampan teman Bang Alid, yang aku ceritakan sewaktu aku baru kembali dari Bogor tempo hari. Dia berlibur di sini selama satu Minggu!” Seru Kalila. Gadis itu benar-benar semangat kali ini. Bukan hanya bersemangat menyeritakan perihal kedatangan Ibrahim, tapi juga bersemangat menghabiskan sarapannya.
“Wah ... pasti kau senang sekali Kalila,” jawab Feni menanggapi. Kalila mengangguk dengan antusias. Gadis itu menyeruput teh manis hangat di depannya. “Aku harus menjaga image sebagai gadis keren di depannya.”
“Gadis keren?”
Lagi-lagi Kalila menganggukkan kepalanya. Kali ini dengan mulut yang penuh dengan nasi. “Mana boleh aku terlihat seperti gadis bar-bar. Aku harus menunjukkan sisi diri ku yang lain.”
Seketika Kalila menghentikan kegiatannya. Gadis itu mengangkat sedikit dagunya, lalu berujar dengan lembut, “wanita yang lemah lembut.” Kalila berpose sejenak, kemudian melirik sahabatnya itu sembari menaik-turunkan alisnya.
“Kau itu sudah keren, seperti kau apa adanya. Bahkan kau sangat keren.”
__ADS_1
“Aku tau itu. Aku memang keren. Tapi aku mau terlihat lebih keren lagi.”
“Kau itu sudah super keren. Coba kau lihat, mana ada siswi SMA yang sarapan dua kali, dengan nasi sebanyak itu. Bahkan kau tetap langsing. Kau keren sekali Kalila. Banyak wanita yang menginginkan menjadi seperti kau!”
Wajah Kalila seketika memberengut. Sebuah tatapan tajam pun dia layangkan kepada sahabatnya. Sementara Feni berusaha menahan tawanya. Namun gadis itu ternyata serius dengan ucapannya kepada Kalila.
“Tidak perlu menjadi orang lain agar kau disukai, Lila. Jadilah dirimu apa adanya. Kau gadis yang baik, cerdas, dan ... cantik tentu saja.”
“Ah ... Feniii,” ucap Kalila manja. Seketika gadis itu bergelayut manja di lengan sahabatnya. “Tidak perlu memuji seperti itu. Aku sudah tau kalau aku itu baik, cerdas dan cantik,” lanjutnya. Feni tertawa kecil dan mengusap-usap rambut Kalila— sahabatnya tersayang.
“Sudah ... jangan manja. Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Ayo habiskan nasi sebakul mu itu,” ucap Feni. Kalila pun menegakkan badannya. Mereka kembali menyantap sarapan yang tersaji.
Akhirnya, sejak malam tadi, Kalila baru merasakan kenyang yang sesungguhnya.
Dan ...
Siang ini, sepulang sekolah, Kalila kembali dikejutkan oleh Khalid. Kakak sulungnya itu, menjemput dirinya ke sekolah tanpa kabar. Kalila langsung menyembunyikan diri di balik tas sekolah miliknya, saat sepeda motor yang dia tumpangi bersama kekasihnya, membawa Kalila melewati Khalid yang tengah berdiri di depan mobil berwarna hitam— di depan gerbang sekolahnya. Bersama sesosok pria tampan. Ibrahim Adi Putra.
“Duh ... matilah awak, nih!”
Bersambung ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jejak 👣 :
Kalau di Medan, kita menyebut nasi uduk dengan sebutan nasi gurih ataupun nasi lemak. Kalau di daerah kalian, biasa disebut apa? 🤭
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....