Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 153


__ADS_3

Ibrahim Adi Putra Point of View


Namaku Ibrahim Adi Putra. Cucu dari salah satu pengusaha yang sukses di Indonesia. Sejak kecil, Papi selalu mengatakan jika aku mempunyai seorang sepupu, bernama Dimas Adi Putra.


Kami bertemu di rumah kakek, saat usiaku enam tahun. Menyandang nama belakang yang sama, aku harus menunjukkan jika aku adalah cucu kakek yang terbaik. Terlebih, kami bersekolah di sekolah yang sama. Aku tidak boleh kalah darinya.


Dan itu terbukti, karena aku selalu mendapatkan juara umum di setiap tingkat pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Bahkan aku lulus dengan predikat cumlaude saat meraih gelar sarjana dan magister.


Cita-cita ku yang menjadi seorang guru di daerah terpencil, pun terpaksa aku abaikan. Karena aku ingin menunjukkan jika akulah cucu paling bisa dibanggakan. Dan Dimas selamanya akan menjadi yang nomor dua, karena akulah pemeran utamanya.


Dimas, sepupuku itu adalah seorang anak yang terlahir tanpa ayah. Namun, banyak orang di sisinya. Dimas mempunyai banyak teman. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, sepupuku itu aktif di berbagai organisasi. Bahkan sejak sekolah dasar, Dimas aktif di kegiatan Pramuka. Sangat jauh berbeda denganku. Maka dari itu, dia selalu menjadi yang kedua, karena belajar bukan prioritasnya.


Dimas memang anak yang tidak tau diri. Padahal kakek sudah mengeluarkan banyak biaya untuk sekolahnya.


Pantas saja jika kakek tidak memberikan posisi direktur padanya. Sebenarnya aku sangat senang akan hal itu. Aku tidak perlu menganggap Dimas sebagai saingan. Karena dia adalah bawahan dan akan selalu berada di bawahku! Bahkan untuk berdiri sejajar denganku saja dia tak layak!


Kemenangan terbesar darinya atasku adalah Kalila.


Dimas memiliki Kalila di sisinya.


Sebenarnya wanita itu sejak dulu mencintaiku. Dan baru ku sadari, jika aku pun merasakan hal yang sama. Namun, pencapaian Kalila di pendidikan tidak terlalu baik, hingga membuatku kesal.


Andai saja dirinya lulus tes masuk perguruan tinggi yang sama dengan almamaterku, tentu aku tak akan terpikat dengan Anneke. Wanita yang berhasil mengalahkanku.


Andai Kalila tidak terlalu sibuk bercengkrama dengan Dimas melalui sosial media, tentu wanita itu akan dengan mudah untuk masuk di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.


Semua ini memang selalu tentang Dimas. Anak itu selalu menjadi penghalang bagi kebahagiaanku.


Jika Kalila tak berteman dekat dengan Dimas, dia pasti akan sukses dalam pendidikannya, dan aku tak perlu terjerat dalam pesona kecerdasan Anneke.

__ADS_1


Tadinya aku pikir, jika aku bersanding dengan Anneke, aku akan menjadi pria paling beruntung karena memilik seorang istri yang sangat cantik dan cerdas.


Tadinya aku berpikir, jika Dimas tak akan mungkin bisa menggapai apa yang telah aku capai. Memiliki istri sesempurna Anneke.


Namun, nyatanya, Dimas malah memiliki Kalila.


Hatiku begitu terkoyak saat melihat mereka bersanding di pelaminan. Wanita itu harusnya menjadi milikku. Harusnya Kalila yang menjadi istriku. Karena aku sangat yakin, jika di hati Kalila hanya tertulis namaku.


Bukankah dia rela hijrah dari Medan ke Bogor, hanya demi bekerja di perusahaan yang sama denganku?


Bukankah dia selama ini menunggu aku menyatakan cinta dan mengajaknya menikah?


Lantas, kenapa dia menikah dengan Dimas? Sepupuku yang terlahir tanpa seorang ayah?


Itu benar-benar membuat harga diriku tercabik. Aku tak rela jika harus kalah dengan anak haram itu!


Senyum bahagia yang terpancar dari wajah Kalila di hari pernikahannya, benar-benar membuat dadaku terasa nyeri. Membuat aku merasa, jika keputusanku meninggalkannya dan memilih Anneke adalah hal yang salah.


Andai dia tak hadir dalam hidupku, mungkin aku tidak akan memasang standard yang tinggi kepada wanita yang kelak menjadi istriku. Tentu aku akan terus bersama Kalila dan membina rumah tangga bersamanya. Harusnya aku yang mengucapkan janji suci pernikahan atas nama Kalila, bukan Dimas.


Diriku meradang, saat datang ke syukuran apartemen milik Kalila dan Dimas. Aku mendengar penuturan Dimas, jika Kalila cukup agresif di ranjang. Harusnya aku yang merasakan kenikmatan itu, bukannya Dimas!


Aku pun terus membanding-bandingkan Anneke dengan Kalila. Aku merutuki nasib sialku.


Ah ... Andai aku yang menikah dengan Kalila.


Aku semakin meradang, saat Kalila memutuskan untuk keluar dari perusahaan. Lagi dan lagi Dimas berulah. Aku sangat yakin jika anak haram itu yang menyuruh Kalila untuk keluar dari perusahaan. Dia pasti tak ingin jika Kalila kembali terpikat padaku dan meninggalkan dirinya.


Dasar brengs3k!

__ADS_1


***


Pernikahan yang ku jalani Anneke begitu hampa. Aku pun semakin jauh dari Tuhan. Ibadah wajib tak ada yang ku jalani. Jika kalian berpikir aku mulai meminum minuman keras setelah berpisah dengan Anneke, kalian salah!


Aku sudah mulai mencicipi minuman beralkohol sejak Kalila memutuskan untuk keluar dari perusahaan. Tak bisa melihat wajah Kalila setiap hari, membuatku frustasi.


Rasa rinduku pada Kalila semakin hari semakin membuncah. Hingga akhirnya kami kembali bertemu saat wanita pujaan ku itu sudah berbadan dua. Melihat tubuhnya yang kini padat berisi, membuatku semakin menginginkan gadis itu. Membayangkan tubuh sintalnya bergoyang liar di atas tubuhku.


Ah ... Kalila, aku harus memilikimu seutuhnya!


Ku dekati wanita itu, ku bawakan camilan untuk dirinya. Saat itu dia sepertinya terkejut. Tapi aku tau, jika dia juga merasakan rindu yang sama sepertiku. Ku elus perutnya yang membuncit. Agar ia tau, jika aku juga menerima kehadiran anak yang tengah dikandungnya.


Saat ku hendak mencium calon bayi itu, Dimas menghalangi. Dasar brengs3k!


Dan setelah kejadian itu, papi dan mami begitu marah padaku. Namun, akibat kejadian itu, Anneke menjadi lebih agresif. Wanita itu mulai memakai pakaian sexy. Tentu saja aku sangat puas dengan pelayanan yang dia berikan. Aku bisa menikmatinya kapan saja aku butuhkan. Asalkan aku tak menyebutkan nama Kalila, dia sudah merasa senang. Padahal bayangan tubuh Kalila lah yang menjadi fantasiku saat memasuki tubuhnya.


Namun, aku tak lagi bisa menahan bibir ini untuk tidak menggaungkan nama Kalila. Di tengah kerinduanku akan wanita itu, aku bertemu dengannya di sebuah pusat perbelanjaan. Pemandangan yang disajikannya di hadapanku begitu menggoda. Dadanya yang yang penuh itu terlihat basah. Mungkin ASI yang terkumpul di dalam begitu banyak hingga dua benda sintal itu tak lagi mampu menampungnya


Dan setelah itu, aku mendatangi Anneke, memaksanya melayaniku yang dipenuhi dengan bayangan Kalila. Aku bahkan meraung-raung memanggil nama wanita pujaanku itu.


Kalila ... Kau benar-benar membuatku gila!


Dan karena hal itu, Anneke hendak meninggalkan ku. Katanya dia berucap syukur karena akhirnya aku menjatuhkan talak padanya.


Andai dia tau, sudah sejak lama aku muak padanya. Sudah berulangkali aku ingin menalaknya. Karena dia sama sekali tak mampu menarik perhatianku, seperti Kalila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2