
Hari hampir beranjak senja, ketika Kalila tiba di kediaman Khalid. Ini kali pertama baginya, menginjakkan kaki di kediaman Khalid. Pria itu dan keluarga kecilnya, memang baru saja pindah rumah satu tahun belakangan.
Membeli sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari kantor Adi Putra Grup, Khalid memang sengaja melakukannya. Pria itu sudah merancang semua. Adiknya harus bekerja di salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia. Hingga Kalila tidak perlu menempuh perjalanan jauh ketika bekerja di sana.
Semua sudah dirancang dengan sangat apik oleh Khalid. Walaupun dia bekerja di Jakarta, pria itu lebih memilih untuk membeli rumah di kawasan kota Bogor. Semua dia lakukan demi kebahagiaan adik kesayangannya— menurut dirinya sendiri.
“Nah Lila, ini kamar kau. Persis di sebelah kamar Nissa,” ucap Khalid. Kalila menatap takjub dengan kamar yang disiapkan oleh kakak sulungnya itu. Pasalnya kamar itu benar-benar terlihat begitu nyaman. Dihiasi dengan warna lavender kesukaannya, kamar itu bahkan dilengkapi dengan air conditioner dan smart tv berukuran tiga puluh dua inch tergantung di tembok kamar.
Nuansa kamar berwarna lavender itu membuat Kalila seketika merasa nyaman. Bahkan kamar itu pun beraroma lavender. Kalila langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, duduk di tepi ranjang.
“Bagaimana? kau suka? Sengaja Abang mengecatnya dengan warna kesukaan kau,” tanya Khalid. Seharusnya pria itu tidak perlu menanyakannya lagi. Karena terlihat jelas jika Kalila sangat menyukai kamar barunya. Kamar yang akan dia tempati sejak hari ini.
Kalila mengangguk cepat, “suka sekali, Bang. Abang masih ingat saja kalau Lila menyukai warna lavender.”
“Lavender? Ungu maksud kau?”
“Beda bang. Ini tuh warna lavender bukan ungu. Tapi ya, lavender itu turunan ungu sih. Anaknya warna ungu lah,” jelas Kalila.
“Ah ... terserahlah. Yang jelas warna ungu,” cebik Khalid. Pria itu tak mau ambil pusing mengenai warna dan keturunannya.
“Kalau aku tak memberikan saran jenis warna, Abang kau ini akan mengecat kamar ini dengan warna lilac,” seru Feni yang baru saja ikut hadir di sana, setelah selesai memandikan Nissa— anak sulungnya.
__ADS_1
“Untung saja bukan lilac. Aku tak terlalu menyukai lilac, kau tau kan Fen?” Feni menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia tau betul, warna ungu jenis apa yang disukai Kalila. Persahabatan yang terjalin sejak mereka remaja, tentu membuat Feni dan Kalila saling mengerti kesukaan satu sama lain.
“Ya terserah lah mau ungu, mau lavender atau apa tadi, lilac? Yang penting kau suka dengan kamar ini kan?” Kalila mengangguk cepat, gadis itu bahkan tersenyum sumringah. Bagaimana tidak, selain dihias dengan warna dan ornamen kesukaannya, kamar ini dilengkapi oleh televisi. Gadis itu bisa bersantai 24 jam di kamar. Kalila bahkan sudah menyusun rencana untuk menonton banyak film dan serial drama.
Senyum Kalila terus terkembang. Ada banyak drama baru yang akan di tontonnya.
Bu Alinah pun merasa lega. Sepertinya kekhawatirannya tidak akan menjadi kenyataan. Khalid benar-benar memberikan kenyamanan untuk adik kesayangannya— begitulah pikir Bu Alinah. Wanita yang kini telah memiliki cucu itu, ikut duduk di samping Kalila.
“Bagus, kamar kau, La. Ada televisinya juga,” ungkap Bu Alinah. Kalila menoleh, menatap sang ibunda yang kini ada di sampingnya. “Iya, Mak,” jawab gadis itu. Kalila pun memeluk Bu Alinah. “Mamak tinggal di sini saja, bersama Lila,” pintanya.
Bu Alinah hanya tersenyum dan mengelus lembut rambut anak bungsunya itu.
“Iya Mak, tinggal di sini sajalah. Rav juga sudah dewasa. Masa tidak bisa mengurus diri sendiri. Kalau di sini kan, Mamak bisa bermain bersama cucu-cucu nantinya,” ucap Khalid. Lagi-lagi Bu Alinah hanya menampilkan sebuah senyuman. Wanita paruh baya itu, tidak mungkin meninggalkan Kairav seorang diri di kota Medan, sementara dirinya berkumpul dengan ketiga anak serta cucu-cucunya.
“Anak lelaki itu, sudah seharusnya mandiri. Masa masih mau diurus sama orang tua!”
Entah mengapa, sejak Kalila tidak lulus masuk di perguruan tinggi negeri, hubungan Khalid dan Kairav sedikit renggang. Khalid menganggap Kairav tumbuh menjadi pria pembangkang karena selalu menentang apapun keputusan Khalid.
Sementara Kairav, menganggap Khalid, semakin lama semakin otoriter. Terlebih sejak sang kakak sulung bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup. Hidup berkecukupan, dan membiayai pendidikan kedua adiknya, membuat Khalid merasa berhak menentukan jalan hidup adik-adiknya— begitulah pikir Kairav.
Mereka bahkan tidak berkomunikasi sama sekali. Jika Khalid melakukan panggilan video dengan ibunya, Kairav selalu menjauh. Namun pria itu akan bergabung, jika pada layar ponsel Bu Alinah, menampilkan sosok Nissa— keponakannya.
__ADS_1
Kairav bahkan sering menyaksikan video-video lucu Nissa di laman sosial media milik Feni— kakak iparnya.
***
Malam pertama tinggal di kota Bogor, membuat Kalila resah. Kamar yang sepintas tampak nyaman itu, tidak bisa membuatnya tidur nyenyak malam ini. Bahkan panggilan video dari Dimas, sebelum dirinya beranjak tidur tadi, tidak mampu menghilangkan gundah di hatinya. Terlebih kehadiran Bu Alinah di sana, membuat Kalila tidak leluasa mengobrol dengan Dimas.
Banyak sekali yang terlintas di pikiran Kalila. Apakah dirinya mampu, masuk ke perusahan semegah Adi Putra Group? Jika dirinya diterima di perusahaan itu, apakah Ibrahim akan merasa senang? Apakah keluarga Ibrahim akan menyukainya, atau hanya memandangnya sebelah mata, karena hanya karyawan biasa di perusahaan itu?
Jika Kalila tidak berhasil lolos menjadi karyawan Adi Putra Group, apakah Khalid akan kembali mencecarnya karena sudah membuat malu? Akan kah dirinya akan kembali dipulangkan ke kota Medan, jika tidak berhasil menjadi karyawan di perusahaan milik keluarga Ibrahim itu?
Banyak sekali pertanyaan di benak gadis itu. Kalila pun sudah menyiapkan skenario terburuk dari pertanyaan-pertanyaan itu. Kalila sudah menyiapkan diri, jika keluarga Ibrahim tidak menerima keadaan dirinya. Kalila akan tetap bertahan di sisi pria itu, jika Ibrahim juga memperjuangkan dirinya.
Kalila juga sudah siap, akan setiap makian yang dilontarkan oleh Khalid, jika dirinya tidak lulus menjadi karyawan Adi Putra Group. Kalila juga sudah siap, kembali ke Medan.
Menoleh pada jam yang menempel di tembok kamarnya, Kalila menghela napas berat. Waktu sudah menunjukkan pukul 03:00 dini hari. Namun, gadis itu masih belum bisa terlelap. Padahal sedari tadi, Kalila terus menguap. Gadis itu masih terus terjaga hingga azan subuh berkumandang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...