Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 27


__ADS_3

Kairav dan Ibrahim sudah menunggu di mobil selama lima menit. Namun Kalila masih kekeuh berdiri di sana. Mengamati Khalid dan Feni. Dirinya benar-benar masih mencerna dengan apa yang terjadi saat ini. Gadis itu penasaran. Alasan yang diberikan oleh Khalid, sama sekali tidak masuk dalam logikanya.


Mengantarkan Feni dengan sepeda motor, dengan alasan, agar sahabatnya Kalila itu tidak terlalu malam tiba di rumah. Sangat tidak masuk akal. Terlebih rumah mereka searah. Mengantarkan Feni dengan mobil, tidak akan membuat gadis itu pulang terlalu larut.


Kalila benar-benar dipenuhi banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada dua muda-mudi yang ada di hadapannya. Ada apa dengan kedua orang yang disayanginya itu— Khalid dan Feni?


“Woiii ... Kuntet! Ayo naik!” pekik Kairav. Pria itu bahkan menekan klakson tiga kali. Kalila berdecak kesal. Dengan berat hati, Kalila menyeret kakinya menuju tempat mobil mereka terparkir.


Melangkahkan kaki masuk ke mobil itu. Kalila masih terus menatap Khalid dan Feni yang kini sudah berlalu lebih dulu meninggalkan area itu. Gadis itu terus memerhatikan gerak-gerik Khalid dan Feni, hingga mereka tak terlihat lagi.


Kalila memukul lengan Kairav, “kapan Bang Alid meminjam kereta (sepeda motor) Abang?” tanya Kalila penasaran.


Pasalnya sedari tadi berjalan bersama, tak pernah sekalipun Kalila melihat Khalid berbicara kepada Kairav. Apalagi membicarakan perihal meminjam sepeda motor untuk mengantarkan Feni. Hingga tiba-tiba saja, ketika mereka hendak pulang, Kairav memberikan kunci sepeda motor miliknya kepada Khalid, dan Feni berjalan mengikuti Khalid menuju sepeda motor itu.


“Siang tadi,” jawab Kairav singkat.


Dahi Kalila semakin berkerut. “Siang tadi?!” pekik Kalila. Kairav yang terkejut dengan ucapan Kalila, hanya menatap gadis itu dengan heran.


“Aneh ...,” gumam Kalila.


“Tadi siang Bang Alid mengirimkan pesan, agar Abang datang menyusul kalian. Karena Bang Alid akan memakai kereta buat mengantarkan Feni pulang. Biar lebih cepat tiba di rumah,” jelas Kairav. Sengaja Kairav menjelaskan kepada Kalila, agar gadis itu bisa berpikir dengan wajar. Karena sepertinya, menurut Kairav, Kalila sudah terjangkit penyakit gila nomor 123.


“Tuh kan, aneh sekali...," gumam Kalila.


“Apanya yang aneh? Satu-satunya yang aneh di sini, itu adalah kau— Kalila Nasution!” cebik Kairav.


Kalila hanya diam dan tak menanggapi Kairav. Jiwanya terlalu dipenuhi oleh rasa penasaran. Kairav pun membiarkan adiknya tenggelam dengan lamunannya sendiri.


Jika Bang Alid sudah mengirimkan pesan kepada Bang Rav sejak siang tadi, bukan kah itu artinya Bang Alid sudah merencanakan ini semua sejak awal?

__ADS_1


Padahal, menurut pengakuan Feni kepada Kalila tadi siang, dia sudah mengantongi izin dari kedua orang tuanya, untuk pulang larut.


Tunggu dulu ....


Kapan Feni meminta izin kepada orang tuanya?


Apa ketika aku masih diboncengan Andre?


Bukannya Bang Alid baru mengatakan, jika kami akan berkunjung ke istana Maimoon dan masjid raya, ketika mobil baru bergerak meninggalkan sekolah?


Bukannya bertambah tenang, Kalila justru semakin penasaran. Terlebih kedua orang tua Feni, biasanya sangat sulit untuk memberikan izin. Jadi hampir tidak mungkin, Feni langsung diberikan izin jika gadis itu mengatakannya secara mendadak. Bahkan, untuk acara kegiatan OSIS sekalipun, Feni akan meminta bantuan Kalila untuk turut membantu, meminta izin kepada orang tuanya.


Kalila terus menerus menghela napas panjang, hingga menarik perhatian Kairav dan Ibrahim. Pria itu bahkan berulang kali menatap Kalila dari kaca spion, karena gadis itu tidak terlihat seperti biasanya.


“Sudah kena penyakit gila nomor 123 dia, Bro.”


“Penyakit gila nomor 123?” tanya Ibrahim bingung.


Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, Kalila terus diam. Bahkan gadis itu masih terus memikirkannya hingga keesokan hari di sekolah.


Gadis itu terus menerus menatap tajam Feni, hingga membuat sahabatnya itu menjadi tidak nyaman.


“Jika ada yang ingin kau tanyakan, silakan,” ucap Feni. Saat ini mereka hanya duduk berdua di dalam kelas, dengan kotak bekal makan siang masing-masing. Bukannya menanyakan hal yang membuatnya penasaran sejak tadi malam, Kalila justru menantang Feni untuk bercerita.


“Jika ada yang ingin kau ceritakan, silakan,” ucap Kalila. Mata Kalila bahkan menyipit. Gadis itu menatap tajam Feni. Feni hanya diam. Sahabat Kalila sejak SMP itu, bahkan mulai menyantap makan siangnya. Hal itu membuat Kalila berdecak kesal.


“Aku akan menjawab dengan jujur, apapun yang kau tanyakan, La. Tapi lebih baik, kita habiskan terlebih dahulu bekal makan siang ini.” Kalila mengangguk setuju. Dan dalam waktu hampir lima belas menit, kegiatan itu pun selesai. Feni dan Kalila langsung merapikan meja belajar mereka. Menyimpan kembali kotak makan siang yang mereka bawa tadi.


Kalila langsung menyerang Feni dengan pertanyaannya. “Kenapa kau harus diantar naik kereta (baca: sepeda motor) semalam?”

__ADS_1


“Aku juga tidak tau perihal itu. Kau bisa menanyakannya pada Bang Alid,” jawab Feni. Kalila berdecak kesal. Bukan kah Feni sudah berjanji, untuk menjawab setiap pertanyaan Kalila dengan jujur. Namun gadis itu sama sekali tidak menjawab rasa penasaran Kalila.


“Aku sudah menjawab dengan jujur, La. Aku benar-benar tidak tau, apa alasan Bang Alid mengantar aku pulang dengan kereta.”


Kalila menatap tajam Feni. Baru kali ini dia tidak memercayai ucapan sahabatnya itu. Sahabat yang selalu berucap jujur itu.


“Oke. Aku berusaha untuk percaya. Sekarang pertanyaan kedua!” tegas Kalila. “Kapan kau meminta izin dengan orang tuamu?”


Kali ini Feni tersenyum. Dia tau, Kalila pasti akan menyadari banyak keganjilan yang terjadi semalam. Kalila memang gadis yang cerdas. “Aku tau perihal rencana ke Istana Maimoon itu pagi harinya, sebelum berangkat ke sekolah. Tapi aku tidak meminta izin untuk ikut pergi bersama kalian. Bang Alid yang datang ke toko dan meminta izin kepada ayah dan bunda, sebelum menjemput kita ke sekolah.”


Mulut Kalila seketika menganga. Gadis itu benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan sahabatnya. Feni sudah mengetahui perihal perjalanan mereka sejak pagi, sedangkan dirinya baru tau mengenai hal itu, setelah sepulang sekolah. Bagaimana mungkin, dirinya yang tinggal satu atap dengan Khalid, sama sekali tidak tau menahu mengenai hal itu.


Kalila tak habis pikir dengan tindakan Khalid. Pria itu bahkan ke rumah Feni hanya untuk meminta izin? Yang benar saja.


“Kau yang meminta Bang Alid melakukannya?”


“Melakukan apa?”


“Datang ke rumahmu dan meminta izin pada ayah dan ibumu?”


Feni menggelengkan kepalanya, “Bang Alid sendiri yang mengatakan, dia akan ke toko dan meminta izin kepada orang tuaku secara langsung.” Lagi-lagi jawaban Feni membuat Kalila terperangah.


“Kalian pacaran?!”


“Kau tau kalau aku tidak diperbolehkan berpacaran kan, La?” tanya Feni. Kalila pun mengangguk. “Kalau begitu, kau boleh tanyakan dengan Bang Alid mengenai hubungan kami,” tegas Feni. Gadis itu pun berlalu meninggalkan Kalila yang masih terdiam dengan wajah bingungnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2