Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 47


__ADS_3

“Kau pikir, kalian akan ku beri izin traveling berdua saja! Jangan harap!” pekik Kairav.


“Tenang saja Bang. Aku berencana membawa mamak pada liburan kali ini. Jadi kami tidak hanya berdua saja,” ucap Dimas. Wajah Kalila langsung bersinar. Tidak ada alasan lagi bagi Kairav untuk melarang dirinya berlibur.


Kalila benar-benar merasa penat tahun-tahun belakangan. Dia butuh berlibur. Bukannya dia tidak pernah berlibur sama sekali ketika menginjak universitas. Tapi berlibur bersama Dimas dirasa berbeda. Pria itu selalu bisa menghibur dirinya.


“Aku akan memberitahukan kepada bang Alid. Kau pikir abangku yang galak itu akan setuju, jika adik kesayangannya ini, berlibur bersama kau!”


Entah mengapa, Kalila merasa sangat kecewa dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Kairav. Senyum sumringah gadis itu mendadak luntur.


Berbeda dengan Kalila, Dimas justru menganggap lelucon, ucapan Kairav. “Sekalian aku nikahi adiknya, saat berlibur nanti! Biar Bang Alid tidak bisa berkomentar lagi. Kami akan kawin lari! Bagaimana Kalila, kau setuju kan?”


Dimas terkekeh-kekeh. Dia tau, jika Kairav tidak akan pernah melaporkan hal itu pada Khalid. Karena Dimas tau, jika Kairav berada di pihaknya.


“Dasar kau ini! Aku iri sekali tidak bisa ikut traveling!”


Lagi-lagi Dimas tertawa terbahak-bahak. Kairav bahkan memberikan izin kepada Kalila dan Dimas untuk berlibur berdua saja. “Kalian pergilah berdua saja. Jika mamak ikut, mamak akan memberitahukan kepada bang Alid. Mamak juga harus bekerja besok,” ucap Kairav.


“Serius?!” pekik Dimas dan Kalila bersamaan. Kairav pun mengangguk, “iya. Tapi, ingat, kalian harus tidur di kamar terpisah. Jangan berbuat yang macam-macam. Jaga nama baik keluarga!”


“Aku mana berani macam-macam dengan Kalila. Bisa-bisa tanganku putus digigitnya!” celoteh Dimas.


“Pokoknya, aku percaya dengan kau!”


Dimas dan Kalila, sama-sama menampilkan senyum sumringah. Dipercaya oleh Kairav, membuat mereka bahagia. Tapi Dimas, kemudian menggelengkan kepalanya. “Aku tetap akan mengajak mamak, Bang.”


Kairav tersenyum, “oke ... kalau begitu aku akan membicarakan dengan mamak. Agar mamak merahasiakan perjalanan kalian. Setidak-tidaknya hingga perjalanan kalian selesai.”

__ADS_1


***


“Mak, biarkan Kalila menikmati hidupnya kali ini saja. Hanya tiga hari Mak.”


Begitulah Kairav membujuk sang ibunda, agar Bu Alinah, tidak memberi tau Khalid perihal liburan Kalila bersama Dimas.


“Memangnya Kalila tidak menikmati hidupnya selama ini? Apa mamak kurang dalam memberikan kebahagiaan buat kalian?”


Kairav menghela napas panjang. Dia sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan sang ibunda. Kairav pun menghampiri Bu Alinah. Memeluk tubuh ibunya.


“Apa menutut Mamak, berkuliah di dua jurusan yang berbeda, dalam waktu bersamaan, tidak menjadi beban buat Kalila? Bahkan setelah dia berhasil melewati perkuliahannya yang super padat itu, Kalila masih dicemooh karena tidak lulus tepat waktu di salah satunya.”


Bu Alinah terdiam. Dia sadar betul jika Kalila terlihat lelah beberapa tahun belakangan. Gadis itu juga terlihat lebih kurus dari biasanya. Bahkan, Bu Alinah jarang sekali mengobrol dengan Kalila. Terlebih sekarang mereka tidur di kamar yang terpisah. Karena sejak kematian Nek Laila, Kalila lah yang menempati kamar itu.


“Biarkan Kalila menikmati liburannya bersama Dimas, Mak. Tanpa ada tekanan dari Bang Alid. Mamak tau sendiri, jika Bang Alid kurang menyukai hubungan persahabatan antara Dimas dan Kalila.”


Bu Alinah terdiam, berusaha mencerna ucapan anak keduanya. Akhirnya, wanita paruh baya itu mengangguk, menyetujui permintaan Kairav.


“Nah ... ini buat menemani Bang Rav di rumah, sendirian selama tiga hari,” ucap Dimas. Kairav hanya menatap sinis pada Dimas yang tengah terkekeh.


“Tidak perlu repot-repot. Kalian bawa saja makanan itu, buat diperjalanan!”


“Tenang saja, buat di perjalanan kami, semua sudah aman,” ucap Dimas. Pria itu bahkan menaik-turunkan alisnya, hingga membuat Kairav bertambah kesal. Lagi-lagi Dimas tertawa geli melihat tingkah Kairav.


Memakai celana jeans dan kaos oblong lengan pendek berwarna hitam, Kalila menghampiri Dimas dengan wajah sumringah. Dimas tertegun, menatap gadis yang perlahan mendekat ke arahnya. Senyum Dimas semakin terkembang saat gadis itu semakin dekat padanya.


Dimas merentangkan tangannya, seolah memberi isyarat agar Kalila masuk dalam pelukannya. Namun tentu saja hal itu tidak pernah terjadi, karena Kairav menoyor kepala Dimas , seketika. Suara gelak tawa pun terdengar. Di tengah menyiapkan sarapan, Bu Alinah tersenyum, mendengar suara gelak tawa yang memenuhi rumahnya. Suara yang sudah lama tak terdengar di rumah itu.

__ADS_1


Bu Alinah menghampiri anak-anaknya. Berdiri di samping Kairav yang tengah bersantai di sofa. “Ayo kita sarapan dulu,” ajak Bu Alinah. Ketiga muda mudi itupun mengangguk.


“Iya, yuk sarapan Bang Rav. Biar kuat menghadapi kenyataan,” celetuk Dimas. Pria itu bahkan menepuk-nepuk pundak Kairav dengan senyum mengejek. Kairav hanya membalasnya dengan tatapan tajam.


Tidak makan di meja makan. Bu Alinah menyajikan nasi uduk buatannya, di ruang keluarga— tempat mereka biasa menonton televisi. Mengelilingi meja yang terdapat di tengah-tengah ruangan, Bu Alinah sengaja membuat mereka semua menyantap hidangan sembari duduk lesehan.


Mereka semua makan dengan lahap. Terlebih Dimas yang sangat merindukan masakan Bu Alinah. Mereka duduk di sana hampir satu jam. Cukup lama memang, karena mereka memutuskan untuk berbincang terlebih dulu. Sekedar melepaskan rasa rindu karena lama tak bertemu. Menyeritakan pengalaman Dimas di negari orang. Kalila juga bercerita, betapa hecticnya dia berkuliah dengan mengambil dua jurusan.


“Kau sungguh hebat, Lila,” ucap Dimas. Lagi-lagi pria itu membesarkan hati Kalila. Kalila menatap tidak suka, “hebat apanya?! Lila bahkan tidak lulus tepat—”


“Sudah ... sudah ... perbincangan mengenai perkuliahan kau, sudah selesai sampai di sini. Sekarang, ayo berkemas. Kita tinggalkan Bang Rav. Saatnya kita bersenang-senang!” pekik Dimas. Kali ini Kairav tidak lagi menatap Dimas dengan tajam. Anak kedua Bu Alinah itu, tersenyum lembut mendengar ucapan Dimas.


Dimas benar-benar melindungi Kalila. Bahkan dari rasa kecewanya. Beginilah seharusnya, pria yang mengaku cinta— setidaknya itu yang ada di pikiran Dimas.


Pukul 09:00 WIB, Dimas yang berada di balik kemudi, membawa Bu Alinah dan Kalila menuju kawasan tanah Karo. Mereka akan bereksplorasi selama tiga hari di sana. Kalila sudah memilih tempat-tempat apa saja yang akan mereka kunjungi.


Membelah jalanan yang cukup padat di hari Minggu, dalam waktu kurang lebih tiga jam, akhirnya mereka tiba di salah satu taman bermain yang cukup terkenal di sana. Mickey Holiday Funland.


“Akhirnya, sampaaiii,” pekik Dimas, ketika pria selesai memarkirkan kendaraannya. Menoleh pada Kalila, Dimas tersenyum tipis, menyaksikan ekspresi gadis itu.


Bibir Kalila merekah, matanya seolah memancarkan cahaya, ketika mereka tiba di sana.


Bersambung ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2