
Malam itu, selesai acara kumpul keluarga sekaligus perayaan ulang tahun Khansa, Ibrahim pun kembali ke apartemennya. Namun sial, di tengah perjalanan, mobil yang dikendarainya mati mendadak. Bahkan mobil itu tidak bisa di starter. Berulang kali Ibrahim mencoba untuk menstarter mobil itu, namun hasilnya nihil. Mobil itu masih belum bisa menyala.
Ibrahim keluar dari mobil dan coba untuk memeriksa mesin mobil itu. Namun, Ibrahim yang tidak mengerti mengenai mesin mobil, tentu saja tidak bisa berbuat apapun. Ibrahim pun berusaha untuk menghubungi bengkel mobil langganannya.
“Oke, saya tunggu ya,” jawab Ibrahim, ketika montir dari bengkel tersebut berjanji untuk segera datang.
Di tengah Ibrahim sedang menunggu montir datang, sayup-sayup pria itu mendengar suara wanita meraung-raung. Karena penasaran, Ibrahim pun mencari asal suara.
Menyusuri lorong-lorong bangunan tua, Ibrahim mendapati seorang wanita dengan dua orang pria yang mengapitnya. Seorang pria bahkan kelihatannya sudah menuntaskan hasratnya pada wanita itu.
“Peraw*n memang enak sekali,” ujar pria yang baru saja mengeluarkan anggota tubuhnya dari wanita itu.
“Gantian Boss ... Ayo gantian,” ucap pria satunya. Namun, sepertinya, pria yang dipanggil Boss itu, masih ingin bermain-main dengan area sensitif wanita itu.
Ibrahim tak langsung menggerebeknya, terlebih daerah sekitar sangat sepi. Bahkan tidak ada terlihat orang berlalu lalang di sana. Ibrahim pun berusaha menghubungi Dimas, dan meminta sepupunya itu datang bersama polisi.
Ibrahim lantas mencari alat yang bisa dia gunakan untuk melawan kedua pemerk*sa itu.
Sementara itu, sang wanita semakin meraung. Karena saat ini, pria yang tadi telah mengambil kesuciannya, memainkan jemarinya di daerah sensitif wanita itu.
Begitu Ibrahim menemukan sebuah tongkat kayu, terdengar suara kedua pemerk*sa itu tertawa terbahak-bahak. Rupanya sang wanita memuntahkan laharnya akibat permainan jari pria pemerk*sa itu.
“Bagaimana sayang ... Nikmat kan?” ucapnya sembari mengecup pipi wanita itu. Sementara sang wanita merasa sangat lemas. Setelah hampir satu jam berusaha melepaskan diri hingga akhirnya kesuciannya berhasil direnggut, wanita itu sudah kehabisan tenaga. Hanya suara tangisan yang keluar dari bibirnya. Berharap ada seseorang yang bisa membantunya keluar dari ruangan itu.
“Dia sudah lemas tuh. Cepat kau tuntaskan!”
Pemerk*sa yang belum mendapatkan giliran itu pun membuka celananya dan langsung melesakkan senjatanya tanpa basa basi, karena sedari tadi dia memang sudah siap bertempur.
“Jahanam!” teriak Ibrahim, begitu memasuki ruangan pengap itu. Kedua pemerk*sa itu seketika menatap Ibrahim dengan tongkat yang sudah ada di tangannya.
“Kau lanjutkan saja, biar aku yang mengurus pria sok jagoan itu!”
“Siap Boss!” jawab pria itu senang. Dia pun lanjut bergerak maju mundur dengan cepat sembari mengerang, menikmati tubuh wanita yang kini terkulai lemas di bawahnya.
__ADS_1
“Hei ... bocah sok jagoan. Daripada kau capek-capek menghajar kita, namun akhirnya kalah. Lebih baik kau singkirkan tongkat itu. Kami mau kok berbagi wanita cantik itu. Nikmat sekali, Bro! masih peraw*n!”
Tanpa basa basi, Ibrahim langsung menghantam tongkat yang dipegangnya itu ke tubuh sang pemerk*sa. Terjadi sedikit perlawanan sebentar, sebelum akhirnya Ibrahim memukul kencang, tepat di kepala pria itu. Hingga pemerk*sa itu pun pingsan seketika.
Sementara pemerk*sa lainnya, masih sibuk menikmati wanita itu. Bahkan dia hampir mencapai puncaknya. Tapi, sebelum dia menyemburkan laharnya, tubuhnya pingsan seketika, karena Ibrahim dengan sekuat tenaga memukul kepala belakangnya. Pria itu pun jatuh terkulai ke atas tubuh sang wanita.
Dengan susah payah, Ibrahim mengangkat tubuh pemerk*sa itu. Di dapatinya lah seorang wanita yang menangis sesenggukan dengan baju acak-acakan.
“Ayo, kau juga mau menikmati tubuhku, kan?!” ucap wanita itu. “Ayo! Kau nikmati saja! Mumpung aku masih belum berpakaian!” teriaknya.
Ibrahim terperangah. Padahal dia mempunyai niat baik untuk menolong wanita itu. Namun tampaknya sang wanita begitu frustasi akan nasibnya, hingga menuduh Ibrahim menginginkan tubuhnya.
Ibrahim tak mengindahkan ucapan wanita itu. Matanya melirik ke sana kemari, hingga akhirnya dia menemukan pakaian dalam wanita itu dan memakaikannya dengan lembut.
Awalnya sang wanita kembali meraung, karena Ibrahim menyentuh kakinya. Dia pikir, Ibrahim benar-benar akan ikut menikmati tubuhnya. Namun, wanita itu seketika terdiam, saat Ibrahim berhasil memakaikan pakaian dalamnya.
“A' Ibra!” teriak Dimas. Sepupunya Ibrahim itu benar-benar datang dengan beberapa orang polisi. Melihat banyak pria yang masuk ke dalam ruangan pengap itu, seketika Ibrahim melepaskan kaos yang dia kenakan dan meminta gadis itu untuk memakainya.
“Mereka pelaku pemerk*saan, Pak. Tolong segera di proses!”
Polisi menghampiri Ibrahim dan wanita itu. “Silakan ibu melakukan visum dan menjadi saksi di kantor polisi.”
Dengan tangan gemetar, wanita itu memegang lengan Ibrahim. Pria itu pun menatapnya. Sang wanita lalu menggelengkan kepalanya. Dia takut. Dia benar-benar takut untuk pergi dengan pria manapun, termasuk polisi. Hanya satu pria yang dipercayai saat ini. Dia adalah Ibrahim Adi Putra. Pria yang telah membantunya.
“Biar dia berangkat bersama saya, Pak,” ujar Ibrahim. Wanita itu menangis sesenggukan saat Ibrahim mengulurkan tangannya. Dia menyambut tangan pria itu dan mencoba untuk berdiri.
Namun, wanita itu teramat lemas hingga tak mampu untuk berdiri dengan sempurna. Terlebih dirinya masih merasa nyeri di bagian sensitifnya.
“Kau bisa berdiri?” tanya Ibrahim.
Wanita itu ingin sekali mengungkapkan bahwa kakinya sangat lemas, dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Namun, dia berusaha tegar di hadapan Ibrahim. Dirinya tak mau lagi untuk merepotkan Ibrahim. Pria di hadapannya itu sudah banyak membantunya.
Dengan bantuan Ibrahim, akhirnya wanita itu berdiri. Namun, ketika kakinya baru saja melangkah, dia limbung. Dengan sigap, Ibrahim menangkapnya.
__ADS_1
“Maaf,” ucap Ibrahim. Ibrahim pun menggendong wanita itu. Melangkah dengan pasti, Ibrahim kini sudah berada di mobil milik Dimas.
“Dim, aku pinjam mobil kau, apa boleh?”
Tentu saja Dimas menyetujuinya. Lagian, mobil milik Ibrahim juga kini sedang ditangani oleh dua orang montir yang baru saja tiba.
Mengikuti saran dari pihak kepolisian, Ibrahim membawa wanita itu ke rumah sakit untuk melakukan visum.
“Apakah ada keluarga yang bisa aku hubungi?” tanya Ibrahim. Kini mereka tengah berada di ruang rawat inap.
“Aku tidak ingin, orang tuaku melihat kondisi ku yang menyedihkan seperti ini. Aku akan menghubungi mereka, setelah kondisiku benar-benar pulih.”
“Apa orang tua kau tidak khawatir, kalau malam ini kau tak pulang ke rumah?”
Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Ibu dan adikku tinggal di Tasik. Sedangkan aku bekerja di sini.” Ibrahim menganggukkan kepalanya.
“Kalau Bapak mau pulang, tidak apa-apa. Aku bisa mengurus diri sendiri.”
Ibrahim menatap lekat wanita berkulit putih itu. Seulas senyum pun terukir di wajah pria itu. Padahal dari wajah wanita itu, terlihat jelas jika dirinya sangat takut saat ini. “Kau yakin, tak apa jika aku tinggalkan seorang diri?”
Bukannya menjawab, wanita itu malah melempar wajah, berusaha menyembunyikan tangisnya dari Ibrahim.
“Siapa tau, anak dan istri Bapak sedang menunggu di rumah.”
“Saya duda. Dan tidak mempunyai anak.”
Seketika wanita itu kembali memalingkan wajahnya, menatap Ibrahim.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...