
KHALID NASUTION POINT OF VIEW
Hari ini adalah hari kelulusanku. Kini aku sudah resmi menjadi sarjana arsitektur. Khalid Nasution S.Ars.L. Ku lihat raut bahagia di wajah mamak, nenek dan kedua adikku. Jika saja kakek masih hidup, aku tentu bisa melihat wajah bahagianya juga.
Empat tahun hidup terpisah dari keluarga benar-benar membuatku mandiri. Aku bahkan kuliah sembari bekerja paruh waktu agar mamak tidak perlu mengirimkan terlalu banyak uang untukku setiap bulannya. Biarlah mamak fokus untuk membiayai Kairav dan Kalila. Sudah terlalu banyak beban yang ditanggungnya sejak dulu.
Setiap pagi hingga sore hari, aku sibuk dengan perkuliahan. Dan setelah Maghrib, aku menjadi mentor di salah satu pusat bimbingan belajar.
Di sanalah aku bertemu dengannya. Satu-satunya mentor berusia tujuh belas tahun dan masih berstatus sebagai seorang pelajar. Bocah jenius itu bernama Ibrahim Adi Putra.
Di usianya yang masih tujuh belas tahun, Ibrahim sudah punya pemikiran yang sangat dewasa. Terlahir di keluarga kaya raya, tidak menjadikannya angkuh. Justru pria itu mencari uang dengan usahanya sendiri. Aku benar-benar terpukau dibuatnya.
Bukan kaleng-kaleng, kakeknya Ibrahim— Adi Putra, memiliki perusahan properti. Bahkan masuk di dalam jajaran 20 perusahaan properti terbesar di Indonesia. PT. Adi Putra Properti. Dan Ibrahim merupakan salah satu penerusnya. Namun bocah jenius itu masih saja mencari uang dengan menjadi mentor. Penghasilan yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan uang sakunya sebagai penerus PT. Adi Putra Properti.
Usianya terpaut dua tahun di bawahku. Sedangkan untuk tingkat pendidikan, aku dan Ibrahim hanya terpaut satu tahun. Karena bocah cerdas itu ikut kelas akselerasi, hingga bisa melompat satu tingkat, semasa dia SMA.
Ibrahim juga rajin beribadah dan suaranya sangat merdu. Aku sering mendengarnya mengaji. Dia juga pria yang lembut dan selalu bertutur kata sopan.
Ah ... pasti akan tenang jika melepaskan Kalila dengan pria seperti Ibrahim. Sudah pasti Kalila akan sangat bahagia memiliki suami dengan tutur bahasa yang lembut seperti Ibrahim. Kalila juga akan dibimbing dengan sangat baik.
Dan, siapa yang mengira, jika kami berkuliah di jurusan yang sama kini.
Statusnya sebagai salah satu penerus perusahaan keluarga, membuat bocah jenius itu mengambil jurusan yang sama denganku. Arsitektur lansekap. Padahal keinginan terbesarnya adalah menjadi guru dan mengabdi pada negara, dengan mengajar masyarakat yang ada di pelosok Nusantara. Sungguh cita-cita yang sangat mulia. Aku pun semakin terpesona dengan bocah jenius itu.
Aku saja tidak bisa menghindari pesona seorang Ibrahim Adi Putra. Aku pastikan Kalila juga pasti menyukainya. Jenius, tampan, soleh dan kaya raya. Siapa yang tidak akan terpesona.
Kami bertukar nomor ponsel. Aku berharap dia sering melihat foto Kalila yang sering aku unggah di laman sosial mediaku. Namun Ibrahim sama sekali tidak pernah berkomentar jika aku menampilkan foto Kalila di status WhatsApp ku.
Tapi hari ini aku benar-benar lega, karena akhirnya Kalila dan Ibrahim bertemu. Dan yang membuat ku senang adalah, semuanya sesuai dengan ekspektasi ku. Kalila terpesona dengan Ibrahim. Begitu juga dengan mamak dan nenek.
Sesuai janjiku pada Kalila, aku meminta bantuan Ibra untuk menemani keluarga ku berkunjung ke Kebun Raya Bogor.
^^^Ibrahim : Insyaallah bisa Bang.^^^
__ADS_1
Begitulah isi balasan pesan yang dikirimkan oleh Ibra. Aku mengulurkan ponsel kepada Kalila yang duduk tepat di belakangku. Ku lihat wajah Kalila berbinar ketika membaca isi ponselku.
Kalila mengguncang lenganku dengan kencang. “Abang memang yang terbaik!” pekiknya.
“Woaah ... Jelas dong.”
Wajah sumringah Kalila mendadak hilang ketika mendengar ucapan Kairav. “Dani mau bagaimana?”
Ku lihat adik kesayangannya ku itu menoleh cepat ke arah Kairav. Bahkan matanya melebar dan melirik ke arahku. Sepertinya dia takut ketahuan.
“Oh ... Jadi Dani, nama pacar kau?”
Terlihat Kalila memukul lengan Kairav karena kesal. Entah apa yang dipikirkan oleh Kairav, hingga dia membongkar rahasia mereka. Apa mungkin dia tidak menyukai Ibrahim?
Pasalnya sedari tadi aku membicarakan bocah jenius itu, Kairav menatapku terus menerus. Tapi nanti kau akan melihat betapa sempurnanya Ibrahim, Rav. Kau pasti akan berpikir sama dengan Abang. Berpikir jika pria itu— Ibrahim Adi Putra, bisa memberi banyak kebahagiaan untuk Kalila— adik kesayangannya kita.
“Abang tau kok, kalau kamu punya pacar.”
“Kairav tidak pernah memberi tau apa-apa, seperti biasanya. Kalian berdua kan partner in crime!”
“Oh iya ... Lila melupakan sesuatu. Mata-mata Abang kan ada banyak,” ucapnya kesal. Aku terkekeh mendengarnya. Aku memang sengaja menggali informasi tentang keseharian Kalila dari beberapa orang, termasuk mamak.
“Ya ... kau tinggal memilih Dek. Pacar kau yang pastinya tidak ada apa-apanya itu, atau Ibrahim.”
“Lila kan Cuma ngefans dengan Bang Ibra. Lagian, Bang Ibra juga sepertinya biasa saja melihat Kalila yang cantik jelita ini.”
Ya ... biarlah jika Kalila mengatakan jika dia hanya sekedar mengagumi. Aku berharap suatu saat bisa melihat Kalila bersama Ibrahim. Seharian berlibur bersama di Kebun Raya Bogor, pasti akan membuat mereka saling mengenal satu sama lain.
***
AUTHOR POINT OF VIEW
Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil berwarna silver berhenti persis di depan kontrakan yang ditinggali oleh Khalid, dua tahun belakangan. Tak lama seorang pria keluar dari sana dan melangkahkan kakinya menuju kontrakan bercat biru itu.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum,” ucap pria itu sembari mengetuk pintu. Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari dalam sana.
Kalila yang sudah menunggu kehadiran Ibrahim sedari tadi, berlari ke arah pintu dan membuka pintu itu dengan wajah sumringah. Gadis itu ingin wajahnya lah yang pertama kali dilihat oleh Ibrahim. Dia juga sudah membayangkan akan menatap senyum Ibrahim yang menyejukkan hati dan pandangannya.
Bukankah sungguh indah, mengawali hari dengan saling tersenyum dan menatap dengan orang yang kita kagumi?
Ah ... sungguh bahagia hati Kalila membayangkannya.
Maka kini, dengan tersenyum lebar, Kalila membuka pintu. Tangannya dengan cekatan menekan handle hingga pintu itu terbuka.
“Selamat pagi, calon makmum ku....”
Memang ada pria yang menunggu Kalila di depan pintu sembari tersenyum. Saat ini, gadis itu benar-benar mengawali paginya dengan saling melemparkan senyuman dengan seorang pria. Namun, pria itu bukan sosok yang diharapkannya. Bukan pria yang dikaguminya. Bahkan, sosok pria yang kini ada di depannya, sangat tidak di sukai oleh Kalila.
Pria yang menyambar jarinya ketika hendak berkenalan dengan Ibrahim tempo hari— saat di acara perayaan kelulusan Khalid. Dia adalah Dimas Adi Putra. Senyum Kalila tiba-tiba surut.
Kenapa pria itu yang kini ada di hadapannya? Ke mana sang pujaan hati yang sudah dinantinya?
Kalila mengedarkan pandangan, menatap halaman rumah. Tetapi dia masih tidak menemukan sang pria pujaan hati. Bahkan mata gadis itu memicing dan meneliti mobil yang terparkir, tepat di halaman rumah. Tetap saja bayangan Ibrahim pun tak nampak di sana.
Dimas memutar wajahnya, mengikuti arah pandangan Kalila. “Cari siapa sih, calon makmum ku? Ada calon imam di depan mata, malah celingak-celinguk.”
Apa sih maunya orang ini?! Calon makmum? Siapa yang dia maksud dengan calon makmum? Aku? Cih! Jangan mimpi kau, pria gila!
Tidak mengucapkan sepatah katapun. Kalila malah menatap Dimas dengan tatapan tidak suka. Namun, Dimas tetap membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman, hingga suara Khalid terdengar dari belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....
__ADS_1