
Seorang pria memakai kaos bergambar Spongebob Squarepants berlari di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai. Pria itu bergegas mengejar penerbangan tercepat yang akan take off tiga puluh menit lagi.
Check-in di detik-detik terkahir, akhirnya Dimas berada di pesawat yang akan membawanya pada gadis yang sangat dicintainya.
Siang tadi, saat Harry memberikan kabar mengenai Kalila yang jatuh pingsan, Dimas langsung memesan tiket pesawat ke Jakarta. Hingga sore itu juga, Dimas langsung terbang menuju ibukota.
Tepat pukul delapan malam, Dimas tiba di bandar udara internasional Soekarno-Hatta. Memesan taksi, Dimas tak langsung menuju rumah sakit tempat Kalila dirawat.
Membelah jalanan ibukota pada malam hari, akhirnya Dimas berada di sebuah apartemen. Gegas, pria itu menaiki elevator hingga dirinya tiba di depan pintu sebuah kamar apartemen mewah.
Dimas menekan sebuah tombol beberapa kali, hingga sesosok pria membuka pintu. Jemari Dimas yang sedari tadi sudah mengepal, langsung dilayangkannya, pada seorang pria yang baru saja membukakan pintu untuknya. Pria itu pun tersungkur
“Kau sudah gila!” teriak Ibrahim.
Dimas berjongkok dan menarik kerah baju yang dikenakan sepupunya itu. “Aku minta kau jaga Kalila, tapi kenapa kau sakiti dia lagi!”
Suara teriakan Dimas begitu memekakkan. Mata pria itu seakan menyala. Rahangnya mengeras. Ibrahim sempat takut melihat sosok Dimas. Sosok yang tak pernah dilihatnya. Pria ceria itu kini terlihat menakutkan. Ibrahim terpaku.
“Kenapa kau memberi harapan pada Lila, kemudian kau bertunangan dengan gadis lain!”
“Aku tidak pernah merasa memberi harapan pada Lila. Jika dia mencintaiku, itu bukan kesalahanku!” jawab Ibrahim. Jawaban pria itu membuat Dimas semakin geram. Dimas pun kembali melayangkan tinjunya ke wajah sepupunya itu.
“Aku tidak menyangka jika kau itu pria brengs3k!”
Dimas pun melepaskan pria itu dan hendak berlalu dari apartemen itu.
“Kau sendiri apa? Dasar pria pengecut! Pecundang! Kalau kau cinta dia, kenapa tidak menyatakan?!”
Dimas tak mengindahkan ucapan sepupunya itu. Kakinya perlahan melangkah meninggalkan Ibrahim yang masih terduduk di depan pintu.
“Kau ambil sana, Kalila. Aku tidak membutuhkannya!”
Dimas berusaha meredam emosinya. Dirinya tidak mau kembali mengotori tangannya. Ibrahim yang selalu dibanggakan keluarga Adi Putra, tak lebih dari seorang pria brengsek. Pria brengsek yang bersembunyi di balik kecerdasan dan kesalehannya.
Dimas kembali menghampiri taksi yang tadi membawanya dari bandara. “Ke Bogor Medical Center, Pak,” ucap Dimas. Supir taksi itupun menyalakan peta digitalnya dan membawa Dimas ke tempat tujuannya.
Rumah Sakit Bogor Medical Center.
__ADS_1
Jam besuk sudah habis ketika Dimas tiba di sana. Namun, Dimas yang sudah tau kamar tempat Kalila dirawat, segera menuju ke sana.
Pria itu mengetuk pintu, Khalid yang tengah menyuapi Kalila, seketika menoleh ketika pintu itu terbuka. “Dimas,” gumam Khalid.
Mendengar Khalid memanggil nama Dimas, Kalila menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah pintu. Mata gadis itu seketika mengembun, melihat pria yang begitu dia rindukan berjalan mendekatinya.
“Bang,” sapa Dimas pada Khalid yang masih memegang mangkuk yang berisikan bubur ayam buatan Feni. Khalid tersenyum kecut. Dirinya mengharap Ibrahim yang menjenguk Kalila. Nyatanya, Dimas yang kini ada di hadapannya. Khalid masih tidak mau memercayai ucapan Harry siang tadi, yang mengatakan jika Kalila pingsan beberapa saat setelah melihat undangan pertunangan Ibrahim dan Anneke.
Namun, melihat wajah sendu Kalila saat menatap Dimas, Khalid menggeser tubuhnya, agar Dimas lebih dekat pada adiknya itu. Khalid tau, jika saat ini Kalila membutuhkan Dimas—sahabatnya.
Dimas beringsut, berdiri di samping ranjang Kalila. Seketika gadis itu memeluknya. Khalid terkejut dengan sikap adiknya yang langsung memeluk pinggang Dimas. Begitu pun dengan Dimas. Dirinya tak menyangka jika Kalila akan memeluknya erat. Wajah Kalila yang terbenam di perutnya, membuat Dimas tidak dapat mengontrol detak jantungnya yang bertalu. Kalila bahkan tidak peduli jika darah dari tangannya mengalir naik ke selang infus. Gadis itu menangis sesenggukan ketika Dimas mulai membalas pelukannya dengan mengelus rambutnya.
“Dimas, tolong kau suapi Lila. Dari siang tadi, dia belum makan. Bahkan mungkin dari pagi,” ujar Khalid. Dimas berupaya melepaskan pelukan Kalila, namun gadis itu menggelengkan kepalanya. Kalila malah makin mengeratkan pelukannya.
“Lila gak mau bang Dim pergi lagi. Lila kesepian,” ucap gadis itu. Kalila benar-benar takut jika Dimas akan kembali meninggalkannya.
“Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan menginap di sini, menemani kau.”
Kalila mendongakkan kepalanya, menatap Dimas. “Bang Dim gak berbohong kan?”
“Kau lihat, darah kau naik ke selang infus!” ucap Dimas panik. “Kita harus panggil dokter!” ucapnya lagi.
Saat Dimas hendak menekan tombol pada sisi kanan ranjang, Khalid mencegahnya.
“Tidak perlu memanggil perawat, apalagi dokter. Ini kan hanya naik sedikit saja. Lila cukup memperbaiki posisi tangan supaya jangan terlalu tinggi dan terlalu jauh dari infus,” ucap Khalid.
“Sekarang kau suapi Lila,” ucapnya pada Dimas. Pria itu pun mengambil mangkuk yang berisikan bubur ayam dari tangan Khalid.
“Kau mau ditemani Abang atau Dimas?”
“Bang Dim,” jawab Kalila. Khalid menganggukkan kepalanya. Pria itu mengemasi barang bawaannya. Kemudian berpamitan kepada Kalila dan Dimas.
Jika Ibrahim akan bertunangan dengan gadis lain, membiarkan Kalila bersama Dimas, mungkin adalah jalan terbaik. Kebetulan Bu Alinah dan Kairav juga baru tiba di kediamannya.
Khalid pun mengendarai mobilnya hingga tiba di rumah. Khalid mencium telapak tangan ibunya yang langsung menanyakan kondisi Kalila, dan alasan dirinya meninggalkan Kalila.
“Lila memilih dijaga oleh Dimas, Mak. Mungkin, memang Dimas yang dibutuhkan Kalila saat ini,” ucap Khalid.
__ADS_1
“Kau lihat kan, Bang. Pria yang selama ini kau bangga-banggakan. Yang selalu kau jodohkan dengan Kalila. Pria yang kau bilang begitu sempurna. Sekarang pria itu yang paling menyakiti Kalila!” ujar Kairav sinis.
Khalid hanya menghela napas panjang. Dirinya benar-benar tidak menyangka dengan tingkah Ibrahim. Padahal, masih di bulan yang sama, Ibrahim yang selalu mengantar dan menjemput Kalila bekerja.
“Harusnya kau menyadarkan Lila akan perasaannya pada Dimas. Bukan malah menjerumuskan Lila pada obsesinya pada pria yang bahkan tidak menginginkan adik kita, Bang!”
“Sudahlah, ini sudah malam. Lebih baik kita beristirahat. Besok pagi, Mamak mau menjenguk Lila.”
***
Sementara itu, di RS Bogor Medical Center, Dimas tengah menyuapi Kalila. Gadis itu pun makan dengan sangat lahap. Sejak pagi dirinya memang belum ada mengonsumsi makanan apapun.
“Bang Dim tidak akan pergi lagi kan?” tanya Kalila. Dimas tersenyum dan duduk di tepi ranjang, di samping Kalila yang duduk bersandar. Pria itu tersenyum.
“Apa kau begitu takut aku tinggalkan?”
Kalila menganggukkan kepalanya. Melihat anggukan kepala gadis itu, Dimas pun membelai wajah Kalila. Menyampirkan rambut gadis itu ke belakang telinga.
“Apa kau mau, bersamaku selamanya?”
Walaupun tidak mengerti sepenuhnya dengan maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Dimas, Kalila tetap menganggukkan kepalanya. Gadis itu benar-benar tidak mau kehilangan Dimas, lagi. Dirinya memang menginginkan terus bersama Dimas.
“Lila ma—”
Belum selesai Kalila menjawab pertanyaan yang diberikannya, Dimas sudah mendaratkan bibirnya pada bibir mungil gadis itu.
***
AUTHOR MAU HIATUS DULU SATU BULAN YA 😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1