
Sore itu, sepulang bekerja, Kalila pulang ke kediamannya hanya untuk mandi dan mengemasi pakaian. Karena malam nanti, mereka akan melakukan perjalanan menuju salah satu daerah dataran tinggi di Jawa Barat—Ciwidey.
“Kau sudah izin sama Bang Alid, kan?” tanya Feni. Kalila menganggukkan kepalanya, “sudah tadi siang.”
Khalid tentu saja sudah tau, jika Kalila akan melakukan perjalanan ke Ciwidey, untuk survey lokasi proyek barunya. Kalila tidak mungkin jika tidak meminta izin kepada kakak lelakinya itu. Dan Khalid pun memberikan izin karena hal itu menyangkut pekerjaan. Apalagi ketika Khalid tau, jika proyek itu diberikan secara langsung oleh pendiri PT Adi Putra Group. Bahkan Kalila akan mendapatkan bonus sebesar sepuluh kali gaji.
Kalila memang menyeritakan tentang proyek itu kepada Khalid, melalui panggilan telepon saat istirahat makan, siang tadi. Walaupun Khalid merasa sedikit berat hati memberikan izin itu, karena adiknya akan pergi bersama Dimas. Namun, Khalid harus bersikap profesional. Karena melakukan survei itu, adalah bagian dari pekerjaan Kalila. Selain itu, sebenarnya Khalid juga merasa tenang, karena Dimas pasti akan menjaga Kalila dengan baik. Khalid tidak bisa memungkiri hal itu.
Setelah mengemasi barang-barang yang dianggap penting olehnya, Kalila memanggul ransel dan kembali menghampiri Dimas yang sudah hampir satu jam, menunggu gadis itu di teras.
“Kau lama sekali, La. Ini bahkan sudah hampir Maghrib,” ucap Dimas. Kalila hanya menunjukkan cengiran di wajahnya. Dimas dan Kalila pun berpamitan kepada Feni.
Dimas membawa gadis itu di kediamannya, karena Dimas harus mengemasi barang bawaannya juga. Pukul 19:00 WIB, Harry pun tiba di kediaman Dimas.
Bu Ghita dan Bu Asih sudah menyiapkan makan malam, untuk ketiga muda-mudi itu, sebelum mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dimas, Kalila dan Harry, menyantap masakan yang tersaji dengan lahap. Bu Asih bahkan menyiapkan bekal makanan untuk santap pagi, ketiga muda-mudi itu.
“Ini rantang elektrik. Nanti kalau mau dimakan, tinggal di colok ke listrik, makanannya akan hangat. Makanan ini baru selesai dimasak Bu Asih pukul enam tadi. Jadi masih fresh, tidak akan basi sampai besok pagi,” ucap ibu kandung Dimas. Kalila yang dititipkan rantang itu pun menganggukkan kepalanya.
Semua perlengkapan sudah berpindah ke mobil Dimas. Kini saatnya mereka berangkat. Pukul 20:00 WIB, Dimas yang berada di balik kemudi, membawa mereka semua menuju Ciwidey. Setelah tiga jam berkendara, akhirnya mereka pun tiba di sebuah penginapan yang tidak jauh dari lokasi yang mereka tuju.
Dimas hanya memesan sebuah kamar untuk mereka bertiga. Karena mereka hanya menggunakan kamar itu untuk beristirahat selama empat jam di sana. Sekedar untuk melepas lelah dan memejamkan mata sebentar.
Pukul tiga dini hari, mereka harus bangun dan bersiap menuju lokasi proyek. Namun, hanya Dimas yang terbangun saat itu. Padahal Dimas lah yang kurang tidur diantara ketiga muda-mudi itu. Karena Kalila dan Harry sudah tertidur dalam perjalanan tadi.
__ADS_1
Dimas melangkah menuju kamar mandi, membasuh wajah dan menyikat gigi. Setelah sebelumnya menyalakan rantang elektrik yang dibawakan oleh kedua ibunya tadi malam. Dimas kemudian menghampiri Harry yang malam tadi tidur di kasur tambahan yang berada di samping tempat tidur yang di tempati oleh Dimas.
Dimas menendang pelan kaki Harry berkali-kali hingga pria itu terbangun. “Iya iya,” jawab Harry malas.
Dimas kemudian melangkah menghampiri Kalila yang masih tidur dengan pulas. Pria itu ingin membangunkan Kalila. Namun, saat melihat wajah polos Kalila ketika tidur, rasanya Dimas tidak tega membangunkannya.
Dimas menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi sebagian wajah Kalila. Menyematkan rambut gadis itu ke balik telinganya. Dimas menatap lekat wajah Kalila. Mengamati setiap lekuk wajah gadis yang tengah lelap.
Mata gadis itu, bulu matanya, alis, hidung, kedua pipi yang chubby itu, bibir merah muda yang sedikit menganga. Ah ... Rasanya Dimas ingin sekali mengecup semua bagian wajah gadis itu. Namun, saat ini Dimas tidak bisa melakukannya. Dimas tidak mau menjadi pria brengsek seperti ayahnya. Dimas mencintai Kalila. Dia menghormati gadis itu. Dimas tidak akan pernah merusak Kalila. Dimas akan selalu menjaganya, menyayanginya, membahagiakannya. Dimas sudah berjanji, untuk selalu membuat Kalila tersenyum. Dimas tidak akan membuat gadis itu bersedih.
Untuk saat ini, Dimas harus puas, walau hanya bisa membelai rambut gadis itu.
Hampir sepuluh menit Dimas berada di sisi ranjang dan membelai lembut rambut Kalila. Hingga suara berdehem Harry mengejutkannya.
Mata Dimas melebar, mendengar teriakan Harry. Dimas langsung melempar rekan satu tim nya itu dengan bantal. Namun, Harry dengan sigap mengelak dan masuk ke kamar mandi.
Suara berisik dari dua pemuda itu, membangunkan Kalila.
“Hai calon makmumku, kau sudah bangun?” ucap Dimas seraya tersenyum lembut. Tangan pria itu bahkan masih berada di atas kepala Kalila. Dimas pun kembali mengelus rambut gadis itu. Sementara Kalila, hanya menjawab dengan anggukan kepala. Gadis itu masih merasa mengantuk.
“Aku sudah menghangatkan makanan. Yuk kita makan,” ajak Dimas. Kalila pun menuruti pria itu. “Kau duduk di sofa aja,” ucap Dimas. Kalila mengangguk dan melangkah gontai menuju sofa panjang, yang ada di kamar itu. Sementara Dimas, mengambil rantang yang telah hangat, kemudian membawanya ke meja yang berada di hadapan Kalila.
“Kau sikat gigi dan cuci muka dulu, nanti makanannya aku siapkan,” ujar Dimas, ketika melihat Harry sudah keluar dari kamar mandi. Lagi-lagi Kalila menuruti ucapan Dimas.
__ADS_1
Dan benar saja, setelah Kalila selesai mencuci muka dan menyikat giginya, makanan gadis itu sudah tersaji di piring. Kalila pun langsung menyantapnya. Udara Ciwidey yang dingin, membuat mereka makan begitu lahap. Beruntung rantang yang dibawakan oleh Bu Ghita, cukup besar. Sehingga muatan makanannya cukup banyak.
Tepat pukul empat pagi, mereka berangkat menuju lokasi proyek. Hanya butuh waktu setengah jam, untuk tiba di lokasi itu. Sudah ada beberapa warga yang memang menjaga lahan di lokasi proyek itu. Dimas memang sudah menghubungi ketua para warga itu, untuk menemani mereka melihat lokasi proyek.
Kini mereka telah menanti waktu matahari terbit. Menentukan di titik mana mereka akan membangun tenda glamping dengan spot paling indah.
Pukul 05:50 WIB, matahari mulai menampakkan sinarnya dengan malu-malu. Dimas, Harry dan Kalila, hanya duduk di sana, menikmati saat-saat matahari muncul dengan ditemani oleh teh hangat yang mereka buat di hotel, sebelum berangkat.
Saat matahari mulai tinggi, Dimas, kalila dan Harry mulai mengamati lahan itu dengan seksama. Sesekali mereka tampak berdiskusi.
Dan setelah tepat pukul sebelas, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel, makan siang kemudian di lanjutkan dengan tidur siang, sebelum sore nanti kembali ke lokasi proyek untuk melihat spot matahari tenggelam.
Ketiga muda-mudi itu baru kembali ke kota Bogor, tepat pukul 19:00 WIB. Dan tiba di kediaman Dimas, tepat pukul 23:00 WIB. Karena sudah diprediksi sebelumnya, Kalila dan Harry pun menginap di kediaman Dimas.
Malam ini, Kalila tidur bersama Bu Ghita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1