Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 83


__ADS_3

Begitu tiba di masjid, Ibrahim langsung mengambil wudhu, karena waktu Zuhur hanya tinggal beberapa menit lagi. Pria itu menanti Zuhur sembari mengecek email di ponselnya. Hingga beberapa saat kemudian beberapa orang mulai memenuhi masjid.


Begitu juga dengan Anneke dan Kalila yang juga sudah tiba di masjid.


Kalila langsung mengirimkan pesan singkat, begitu sholat berjamaah itu selesai.


[Kalila : Bang, Lila duduk di teras masjid ya.]


Begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan oleh Kalila. Rencananya mereka memang akan bertemu di masjid selesai sholat berjamaah. Ibrahim yang memberikan usul itu. Kalila sudah membayangkan adegan dirinya berjalan berdampingan dengan Ibrahim. Sepanjang perjalanan pasti akan banyak pasang mata yang iri menyaksikan dirinya jalan dengan pria yang begitu tampan.


Kalila pun duduk di teras masjid dan menunggu Ibrahim di sana. Pria itu pun hendak menghampiri Kalila. Namun langkahnya terhenti, kala melihat gadis yang datang menghampiri Kalila.


“Tumben kau duduk di sini? Biasanya langsung buru-buru pulang, biar bisa bertemu Nissa segera,” ucap Anneke. Kalila menoleh, menatap pada wanita anggun yang kini ikut duduk di sampingnya.


“Lila sedang menunggu teman Kak. Kak Anne ingat kan, tadi pagi Lila katakan, kalau surat pengantar pemeriksaan kesehatan milik Lila, sudah diambil teman? Nah ... Lila sekarang sedang menunggu dia Kak.” Anneke menganggukkan kepalanya.


“Iya ... Aku ingat betul. Tadi pagi kau mengatakannya dengan wajah suram. Seperti habis dikejar-kejar rentenir.” Anneke terkekeh saat menyeritakannya. Begitu juga dengan Kalila. Gadis itu pun ikut terkekeh-kekeh mendengar penuturan Anneke.


Kalila teringat kembali akan dirinya yang mencemaskan Dimas. Mencemaskan apakah pria itu tidak akan memaafkannya. Untung Dimas segera menghubunginya dan memaafkan semua kesalahannya. Jika tidak, Kalila tidak yakin apakah dirinya ingin menemui Ibrahim atau tidak. Karena secara tidak langsung, Dimas marah karena dirinya sibuk dengan Ibrahim dan melupakan pria itu.


“Tapi sekarang, wajah kau sudah tidak muram lagi. Apakah karena teman kau ini? Jangan-jangan itu pacar kau ya?”


Kalila tertawa kecil dari menggelengkan kepalanya, “bukan Kak,” jawabnya. Kalila pun terus berbincang dengan Anneke. Karena gadis anggun itu memutuskan untuk menemani Kalila menunggu temannya. Namun, setelah hampir sepuluh menit berbincang, Ibrahim belum juga muncul.


Kalila pun kembali mengirimkan pesan singkat kepada pria itu. Kalila menanyakan keadaan Ibrahim. Bahkan Kalila sempat ragu, jika Ibrahim sudah tiba di tempat kerjanya, seperti yang diakui oleh pria itu. Pasalnya, Kalila sudah memeriksa ke seluruh mesjid, namun tak mendapati pria itu di sana.


Tak lama, balasan pesan dari Ibrahim diterima oleh Kalila. Ternyata pria itu tengah menunggunya di mobil yang berada di lapangan parkir yayasan tempat Kalila bekerja. Gadis itu pun mengatakannya kepada Anneke.


“Maaf ya Kak Anne. Kakak padahal sudah menemani Lila menunggu teman di masjid. Tapi ternyata teman Lila sudah di dalam mobil.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Yasudah yuk, aku juga sekalian mau ke parkiran,” ujar Anneke dengan senyum lembutnya.


Kedua gadis itu pun melangkah menuju lapangan parkir. Kalila yang sudah mengetahui mobil milik Ibrahim, langsung memberitahukannya kepada Anneke, “itu mobil temannya Lila, Kak.” Anneke mengangguk. Kedua gadis itu pun saling melambaikan tangan setelah saling menempelkan pipi kiri dan pipi kanan mereka.


Sementara itu, seorang pria terus menatap lekat kedua gadis cantik itu.


“Ternyata Kalila akrab dengan Anne.”


***


Ibrahim mengirimkan pesan kepada Kalila, agar gadis itu segera masuk ke mobilnya. Padahal Kalila ingin sekali mengenalkan Ibrahim kepada Anneke, gadis yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Sementara Ibrahim, pria itu masih belum berani untuk menampakkan diri pada Anneke.


Kalila berpamitan kepada Anneke dan bergegas menghampiri Ibrahim.


“Maaf ya Lila, aku tidak bisa berlama-lama, ada pekerjaan yang harus aku urus. Jadi, nanti aku hanya akan mengantar ke laboratorium. Kau bisa kan pulang sendiri?”


“Atau kalau kau sudah selesai melakukan pemeriksaan lengkap, kau bisa mengirimkan pesan, nanti aku akan memesankan taksi untuk mengantarkan kau pulang.”


Kalila menggelengkan kepalanya, “tidak perlu Bang. Lila bisa kok pulang sendiri. Lila nanti pesan ojek online saja,” jawab Kalila.


Tidak ada obrolan lagi di antara Kalila dan Ibrahim setelahnya.


Butuh waktu tiga puluh menit untuk mereka tiba di laboratorium itu. Dan kini, mereka sudah hampir sampai. Ibrahim merasa perjalanannya bersama Kalila ini akan sia-sia jika dia tidak menanyakan mengenai Anneke kepada gadis yang kini duduk di sampingnya itu.


“Oh iya, tadi yang berdiri bersama kau itu siapa? Pegawai tata usaha juga? atau guru?”


Ibrahim berpura-pura tidak mengetahuinya. Padahal di sudah mengenal Anneke, jauh sebelum Kalila mengenal gadis itu. Kalila menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


“Dia itu anak pemilik yayasan Bang. Dia juga kepala sekolah di taman kanak-kanak itu. Abang tau, yayasan tempat Lila bekerja mempunyai sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak hingga SMA. Hanya saja letak gedungnya terpisah-pisah. Dan Kak Anne juga mengajar di SMA itu, mengajar Bahasa Inggris.”

__ADS_1


Ibrahim menganggukkan kepalanya sembari tersenyum sumringah. Ternyata anak pemilik yayasan dan juga kepala sekolah di sana. Aku pikir dia hanya sekedar guru TK.


“Kau terlihat akrab sekali dengan kepala sekolah itu,” ungkap Ibrahim. Pria itu merasa heran, mengapa Kalila yang hanya seorang pegawai tata usaha bisa seakrab itu dengan Anneke. Kalila pun menyeritakan awal mula dirinya bertemu dengan Anneke, hingga kemudian gadis itu sudah menganggap Anneke sebagai kakaknya sendiri.


“Baik sekali Anne,” ujar Ibrahim. Sebuah senyum sumringah pun menghiasai wajah pria itu. Kalila pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Gadis itu malah menyeritakan semua kebaikan Anneke. Senyum Ibrahim pun bertambah sumringah mendengarnya.


Sepanjang perjalanan menuju laboratorium, Kalila terus menyeritakan mengenai kedekatannya dengan Anneke. Ibrahim pun semakin kagum dengan gadis cerdas nan anggun itu.


“Bang Rav bahkan terus berangan kalau Kak Anne itu calon bidadari surganya,” cebik Kalila. Gadis itu bahkan terkekeh saat menyeritakannya. “Mimpi apa Kak Anne, kalau mendapatkan Bang Rav yang gila itu sebagai suaminya,” lanjut Kalila. Lagi-lagi gadis itu terkekeh.


“Rav dan Anne saling kenal?”


Kalila menggelengkan kepalanya, namun beberapa detik kemudian gadis itu mengangguk, hingga membuat Ibrahim bingung.


“Mereka sih belum pernah bertemu sebelumnya.”


“Berarti tidak saling mengenal kan?”


“Tidak juga sih, Bang. Mereka sudah saling mengikuti dan saling menyapa melalui sosial media,” jelas Kalila.


“Sosial media?!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2