Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 16


__ADS_3

“Masih jauh gak sih Bang? Dari tadi kita terus berjalan tapi tidak sampai juga,” keluh Kalila. Gadis itu rupanya sudah merasa sedikit lelah karena mereka memang telah berjalan lebih dari lima belas menit.


Menatap Kalila dengan wajah berbinar, Dimas menggelengkan kepalanya. Pria itu menunjuk ke sebuah bukit. “Di atas sana. Bunga bangkai raksasa itu ada di sana.”


Kalila mengikuti arah jemari Dimas. Mata gadis itu kembali menyala. Kalila bahkan berlari kecil menuju tempat yang di tunjukkan oleh Dimas tadi. Senyum Dimas semakin sumringah dibuatnya. Dimas pun ikut berlari mengejar Kalila.


Ketika meeka hendak menaiki bukit, Dimas mendahului Kalila. Pria itu mengulurkan tangan untuk membantu Kalila menanjak bukit itu. “Aku bisa sendiri, Bang.”


“Bukit ini licin, Lila. Abang tidak mau kau terpleset dan kemudian terguling ke bawah sana.”


“Kalila sudah terbiasa camping sejak tahun lalu, asal Abang tau!” Kalila terus menolak menggenggam tangan pria itu. Rasanya akan canggung sekali jika mereka saling menggenggam dan jalan berdampingan. Kalila bersikeras.


“Saat ini kau tanggung jawab aku, Kalila. Aku tidak mau disalahkan, jika ada goresan di tubuh kau nantinya.”


Menghela napas berat, Kalila terpaksa menyambut uluran tangan Dimas. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Dimas langsung menggenggam erat jemari Kalila. Degupan jantung Dimas semakin tak beraturan. Ini bukan kali pertama dirinya dekat dengan seorang gadis. Dimas sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bahkan sejak SMP pun, pria itu sudah beberapa kali berpacaran.


Namun Kalila berbeda. Baru kali ini dia merasa tertarik. Karena biasanya, teman wanita yang lebih dulu mendekati Dimas, sebelum akhirnya mereka menjalin hubungan. Kalila memang gadis pertama yang membuatnya tertarik. Membuatnya terusik sejak pertama kali mereka bertemu.


Kalila langsung melepaskan jemarinya dari genggaman Dimas, begitu sudah berada di atas bukit kecil itu. Gadis itu sudah mendapati bunga bangkai raksasa yang diceritakan oleh Dimas.


Kalila bergegas menghampiri bunga itu dengan wajah sumringah. Dimas pun mengikuti gerak langkah Kalila.


“Eeehh ....”


Hampir saja Kalila tergelincir. Untung Dimas dengan sigap memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Kalila menatap dalam, mata pria yang menangkap tubuhnya itu. Mereka saling tatap beberapa detik, sebelum akhirnya Kalila menyeimbangkan kembali tubuhnya.


“Thanks,” ucap Kalila singkat. Bukan menjawab ungkapan rasa terimakasih yang disampaikan oleh Kalila, Dimas malah mengulurkan kembali tangannya.


“Jangan lepaskan jemariku, Kalila.”


Karena takut akan kembali tergelincir, Kalila pun menyambut uluran tangan Dimas. Dan kini mereka berjalan bersama menghampiri bunga bangkai raksasa itu.


Dimas beberapa kali memotret kebersamaan Kalila dengan bunga bangkai raksasa itu. Mereka bahkan berswafoto.


“Pohonnya tinggi sekali ya, Bang,” ujar Kalila. Dimas tersenyum dan mengangguk, “iya. Bahkan ada yang tingginya mencapai 3,5M.”


Kalila semakin takjub setelah mendengar penuturan Dimas. “Mau aku tunjukkan bunga raflesia arnoldii? Biar kau tau perbedaannya.”


Kalila mengangguk dengan semangat. Dimas kembali mengulurkan tangannya. Kali ini gadis itu langsung menyambut uluran tangan Dimas. Mereka pun kembali menyusuri jalan setapak yang terasa cukup licin, karena memang pagi tadi, kota Bogor diguyur hujan.


__ADS_1


[yang tinggi menjulang bunga bangkai raksasa. Sedangkan yang melebar, bunga raflesia arnoldii]


“Ini dia Kalila. Ini dia bunga raflesia arnoldii. Bunga yang sering diucapkan orang-orang sebagai nama lain dari bunga bangkai raksasa. Padahal mereka jenis bunga yang berbeda.”


Kalila menatap kagum. Matanya berbinar mendengar penjelasan Dimas. “Kau bisa lihat sendiri perbedaannya, bukan begitu, Kalila?”


“Iya Bang. Mereka berbeda. Tapi kenapa sejak dulu orang-orang mengatakan, jika nama lain dari bunga bangkai adalah bunga raflesia arnoldii?”


“Karena ketika mekar, mereka sama-sama mengeluarkan bau busuk. Makanya orang-orang sering salah menafsirkan.”


Kalila tersenyum. Wajahnya berbinar. Gadis itu sangat antusias mendengarkan penjelasan Dimas.


Begitu juga dengan Dimas. Pria itu begitu sumringah. Terlebih melihat wajah bahagia Kalila. Pria itu merasa sangat luar biasa, karena bisa menyenangkan hati gadisnya.


Setelah puas menyaksikan kedua bunga raksasa itu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke tempat Bu Alinah dan Nek Laila. Karena mereka sudah lebih dari 30 menit beranjak dari sana.


***


Memang tak salah, jika kota Bogor dijuluki sebagai kota hujan. Rintik hujan berulang kali membasahi kebun botani itu. Jika tadi mereka tidak terlalu terkena percikan air hujan. Tapi kali ini rintik itu langsung mengenai tubuh Kalila dan Dimas. Hanya rintik hujan kecil memang. Tidak membuat mereka kebasahan sama sekali.


Namun Dimas menghentikan langkahnya. Pria itu membuka jaket hoodie yang dikenakannya. Pria itu memberikan kepada Kalila. “Kau pakai ini, Lila.”


“Tidak perlu, Bang. Ini kan hanya gerimis kecil.”


Setelah mengaitkan resleting hingga ke bawah dagu Kalila, Dimas menutupi kepala Kalila dengan hoodie nya. “Aku tidak mau kau kenapa-kenapa,” ucapnya, setelah Kalila memakai jaket kebesaran miliknya.


Lagi-lagi Dimas mengulurkan tangannya. “Kita sekarang bersahabat, bukan?” tanya Dimas. Kalila terdiam beberapa saat. Gadis itu pun mengangguk pelan. Dia senang mendapatkan sahabat seperti Dimas.


“Mau bermain hujan bersama ku, sahabatku— Kalila Nasution?” Kalila tersenyum geli. Pertanyaan yang diungkapkan oleh Dimas, sungguh menggelitik. Masih dengan senyuman yang terkembang, Kalila menganggukkan kepalanya dengan cepat.


“Ayo,” ajak Dimas yang kembali mengulurkan tangannya. Kalila pun menyambutnya dengan antusias.


Kini, kedua remaja yang beranjak dewasa itu, berlari sambil saling menggenggam di bawah rintik hujan, di Kebun Raya Bogor.


Romantis. Sungguh romantis.


Kalian pernah melihat adegan di film India? Seperti itulah potongan adegan antara Kalila dan Dimas saat ini. Seperti menari dibawah rintik hujan, melewati pepohonan besar. Dengan musik yang mengalun dari pengeras suara di area kebun botani itu.


Ketika sudah hampir sampai di tempat tujuan, Kalila melepaskan genggaman tangannya. Gadis itu menoleh, menatap Dimas.


“Bang ... itu Bang Ibra sudah datang!” pekiknya senang. Kalila pun berlari kecil menghampiri Ibra yang kini tengah duduk bersantai, bersama Bu Alinah, Nek Laila, dan Kairav.

__ADS_1


Menghela napas berat. Dimas kecewa. Padahal tadi dia sudah merasa sangat senang bisa menikmati waktu bersama Kalila. Tapi kini, pria yang dikagumi gadis itu ada di sana. Dan Kalila meninggalkan Dimas. Dimas yang masih berdiri dengan rasa kecewa, sembari menatap punggung Kalila yang semakin menjauh.


“Aku langsung tidak terlihat di mata kau— Kalila.”


Dengan langkah gontai, Dimas pun menghampiri Kalila dan keluarganya.


“Bagaimana bunga bangkainya? Apakah bau?” tanya Kairav begitu Kalila tiba disana. Kalila menggelengkan kepalanya.


“Bukannya bunga bangkai itu bau, makanya diberi nama bunga bangkai?!”


“Dia tidak sedang mekar, makanya tidak mengeluarkan bau. Benar begitu kan, Bang?”


Dimas mengangguk sembari tersenyum tipis. Kalila pun menunjuk potret dirinya dengan kedua bunga yang bisa mengeluarkan bau busuk itu.


***


Karena hari telah beranjak siang, mereka pun makan siang bersama dengan bekal yang sudah dipersiapkan oleh Bu Alinah dan Nek Laila sejak subuh tadi.


“Masakan Mamak dan Nenek enak kan, Bang?” tanya Kalila. Ibrahim mengangguk dan tersenyum. “Iya, enak sekali.”


“Masakan mamak dan nenek memang yang terbaik, Bang!” pekik Kalila bangga.


“Nanti Kalila akan belajar memasak makanan ini, jika Bang Ibra menyukainya.”


“Yakin mau belajar masak?”


“Jelas dong. Sebagai calon makmum yang baik, harus bisa memasak makanan kesukaan calon imamnya. Iya gak, Bang Ibra?” Ibrahim terbatuk-batuk mendengar celotehan Kalila. Gadis yang duduk di sebelahnya memang benar-benar tak bisa diprediksi. Gadis itu sangat lucu dan unik.


Kalila menyodorkan satu cup air mineral kepada Ibrahim. Pria itu pun menyambutnya. “Terimakasih Lila,” ucap Ibrahim dengan tersenyum. Pria itu bahkan menatap Kalila dengan lembut, hingga membuat jantung gadis itu ingin melompat keluar. Rasanya Kalila ingin berjingkrak saat itu juga.


Sementara Dimas, hanya bisa mengelus dada mendengar Kalila yang terus menggoda Ibrahim di depan matanya.


Bersambung ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan...


...BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2