
“Nissa ...,” teriak Kalila. Gadis itu melangkah dengan laju, menghampiri seorang balita. Mendekap erat balita tersebut, Kalila pun menghadiahinya dengan kecupan bertubi-tubi. Balita itu menangis dan memberontak. Namun Kalila malah semakin erat memeluknya.
“Sudah Lilaa ... Dia tidak suka dengan perlakuan kau!” cebik Khalid yang kini berjalan sembari mendorong troli yang ditinggalkan oleh Kalila tadi. Namun, tentu saja Kalila tidak menghiraukan ucapan Khalid. Gadis itu terus saja memeluk keponakannya itu dengan erat, walau berulang kali wajahnya didorong, bahkan dipukul oleh Nissa— keponakannya.
Jika Bu Alinah tidak menjawil telinganya, Kalila tidak akan menghentikan kegiatan itu.
Kalila memang seperti itu, dia begitu mencintai anak kecil sejak dulu. Maka dari itu, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Kalila sudah berkeinginan menjadi seorang guru TK. Berkumpul dengan anak kecil, begitu menyenangkan baginya. Dulu, Kalila bahkan sering kali meminta seorang adik kepada Bu Alinah. Namun tentu saja, Bu Alinah tidak bisa mengabulkan permintaan Kalila yang satu itu.
Althafunnisa Nasution. Anak pertama dari pasangan Khalid dan Feni, yang sebentar lagi berusia dua tahun. Begitu Kalila melepaskan pelukan eratnya, gadis kecil itu berlari menghampiri sang ibunda, dan memutuskan untuk bersembunyi di balik tubuh ibunya.
“Takut dia dengan kau,” pekik Feni sembari tertawa geli. Namun Kalila menanggapinya dengan santai. Sejak kapan ada anak-anak yang takut dengannya. Sama halnya dengan Kalila yang mencintai anak-anak, anak-anak pun mencintai Kalila.
Kalila mengambil ransel miliknya. Gadis itu terlihat mengeluarkan sesuatu dari sana. Kalila kini melangkahkan kakinya menuju bangku yang terdapat di dekat mereka. Duduk di sana sembari membuka sebuah buku. Kalila berhasil menarik rasa ingin tau Nissa.
Nissa terus melirik ke arah tantenya. Aneka suara yang keluar dari buku itu, membuatnya penasaran. Kalila berpura-pura cuek kepada bocah itu. Hingga akhirnya, Nissa menghampirinya perlahan. Kalila melirik gadis kecil yang kini tengah berdiri di sampingnya, menatap soundbook yang kini tengah mengeluarkan berbagai macam suara hewan. Senyum di wajah Kalila terkembang.
Kalila sengaja menutup buku itu. Nissa pun menatapnya. “Nissa mau buku ini?” tanya Kalila. Gadis kecil itu pun mengangguk pelan. Kalila memberikan buku itu. Namun sebagai imbalan, gadis kecil itu harus duduk di pangkuannya. Nissa mengangguk setuju. Dan kini, Nissa tengah duduk di pangkuan Kalila, sembari melihat gambar hewan dan mendengarkan suara yang muncul dari buku itu.
“Siapa yang bilang Nissa takut denganku,” ucap Kalila angkuh. Bu Alinah hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum. Setidaknya Kalila pasti bergembira karena ada Nissa. Begitulah pikir Bu Alinah. Sebenarnya wanita paruh baya itu juga merasa khawatir, jika Kalila tinggal bersama Khalid. Khawatir jika anak perempuan satu-satunya itu, akan merasa tertekan dengan tuntutan Khalid. Tapi dengan hadirnya Nissa, Bu Alinah yakin, jika Kalila pasti akan selalu bergembira.
***
Sudah hampir tengah hari, kini, Khalid memutuskan untuk membawa seluruh keluarganya, menikmati makan siang di Restoran yang tak jauh dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Sengaja Khalid melakukan hal itu, karena perjalanan menuju kediamannya— Kota Bogor, cukup jauh. Keluarganya pasti akan merasa sangat lapar, jika menunggu tiba di kota Bogor untuk makan siang. Terlebih istrinya— Feni. Wanita yang kini tengah mengandung anak keduanya itu, mudah sekali merasa lapar.
__ADS_1
Hampir dua jam mereka habiskan di restoran itu, sebelum akhirnya kembali menyusuri jalan, menuju kota Bogor.
Sejak dari bandara tadi, Nissa terus menempel dengan Kalila. Bahkan gadis kecil itu, makan siang dengan disuapi oleh Kalila. Kalila harus menahan rasa laparnya. Karena gadis itu harus menyuapi Nissa terlebih dulu.
Perut Kalila terus bersenandung, sementara Nissa masih belum menyelesaikan makan siangnya. Gadis kecil itu mengunyah makanannya dengan lambat.
“Sabar ya La,” ucap Feni. Kalila hanya membalasnya dengan menatap tajam sahabatnya itu. Bisa-bisanya wanita berbadan dua itu, makan dengan santainya, sedangkan dirinya harus menyuapi Nissa terlebih dulu.
Sebenarnya ini bukan kesalahan Feni. Karena Nissa sendirilah yang minta disuapi Kalila. Gadis kecil itu terhipnotis oleh buku yang diberikan Kalila, sewaktu di bandara. Dan sejak saat itu, hingga sekarang, Nissa terus menempel pada Kalila.
Butuh waktu tiga puluh menit, untuk Nissa menghabiskan makan siangnya. Kini giliran Kalila yang menikmati hidangannya. Namun, bibir gadis itu mengerucut seketika, ketika melihat lauk pauk di atas meja, hanya tersisa sedikit.
“Memang kejam kalian semua!” pekik Kalila, sembari mengisi piringnya, dengan lauk pauk yang tersisa. Hanya ada sedikit cah kangkung dan sisa bumbu ikan goreng asam manis. Kalila menghela napas kasar.
Jahat sekali mereka. Bisa-bisanya hanya menyisakan tumis kangkung! Itupun hanya satu sendok makan. Coba lihat ikan goreng asam manis yang tadi begitu menggugah selera, bahkan hanya tersisa satu potong nenas!
Kalila geram. Wajah gadis itu terlipat. Khalid, Feni dan Bu Alinah, hanya bisa menahan tawa, melihat ekspresi gadis itu.
Namun, beberapa saat setelah Kalila mengisi mulutnya dengan sekepal nasi yang berisikan sepotong nenas dan bumbu asam manis, seorang pramusaji menghampiri meja mereka.
“Kepiting telur asinnya, satu ya Pak,” ucap pramusaji itu.
__ADS_1
Seporsi kepiting dengan saos telur asin, tersaji di hadapan Kalila. Mata gadis itu seketika berbinar. Seekor kepiting yang cukup besar, dengan lelehan saos telur asin di sekitarnya, membuat gadis itu menelan ludah dengan susah payah.
“Tahu kipasnya, seporsi ya Pak,” ucap pramusaji itu lagi.
Satu porsi tahu dengan aneka sayuran dan udang sebagai isian, kini ada di hadapan Kalila. Bahkan kini, satu porsi es cendol pun memenuhi meja itu.
Nah ... kau santap lah itu semua. Awas saja kalau tidak kau habiskan!” ucap Khalid. Kalila menganggukkan kepalanya dengan cepat. Kedua mata gadis itu begitu berbinar, menyaksikan jejeran makanan di hadapannya. Dirinya pun menyesal, jika tadi mengumpat pada kakak sulungnya— walaupun Kalila mengumpat dalam hati.
Sebenarnya Khalid telah memesan makanan itu, setelah dirinya selesai dengan makan siangnya. Melihat Kalila yang dengan telaten menyuapi Nissa— anaknya, terbersit keinginan untuk menjahili adiknya itu. Sudah lama rasanya, Khalid tidak berbuat iseng kepada Kalila. Dan kini, melihat Kalila yang tersenyum sumringah— karena kepiting itu tentu saja, membuat Khalid ikut sumringah.
Kini Kalila menyantap hidangan itu dengan lahap. Gadis itu bahkan mengisi kembali piringnya yang telah kosong dalam sekejap. Menyantap nasi ditambah kepiting dan tahu kipas, gadis itu merasa perutnya sebentar lagi akan meledak.
Kalila terkapar. Langsung menyandarkan tubuhnya. “Mau meletus nih, perut Tante,” ucapnya pada Nissa yang sudah kembali menghampiri gadis itu. Nissa hanya menatap heran, dan menunjukkan buku pemberian Kalila. Gadis kecil itu, ingin kembali bermain dengan Kalila.
“Tante sudah tidak bisa bergerak, Nissa. Kau main dulu dengan mamakmu,” ucap Kalila kemudian. Namun Nissa menggelengkan kepalanya.
“Ante ja (Tante saja). Main ma ante aja (main bersama Tante saja),” ucap Nissa. Kalila menghela napas panjang. Hal itu sontak mengundang gelak tawa keluarganya.
“Kau rasakan itu!” ucap Khalid kemudian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...