
Dan sekarang di sinilah Kalila. Terdaftar sebagai mahasiswi dengan program diploma tiga, jurusan teknik sipil, di salah satu universitas negeri di kota Medan. Kalila juga terdaftar sebagai mahasiswi di salah satu universitas swasta terkemuka di kota Medan, untuk jurusan manajemen bisnis.
Dari pagi hingga malam, Kalila disibukkan dengan urusan pendidikan. Gadis itu bahkan selalu tidur larut dan bangun pagi-pagi sekali. Setiap hari dia selalu tertidur sembari memeluk Kairav yang mengantarkannya ke kampus.
Hari-hari melelahkan itu, dijalani Kalila selama empat tahun. Menyandang dua gelar sekaligus di tahun ke empatnya berkuliah, Khalid masih belum puas dengan pencapaian sang adik. Pasalnya, Kalila membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan program studi teknik sipil, yang seharusnya bisa selesai dalam jangka waktu tiga tahun.
Lagi-lagi Kalila merasa gagal. Merasa menjadi anak paling tidak bisa dibanggakan. Merasa pantas, jika sang ayah meninggalkan dirinya sejak dari dalam kandungan ibunya.
“Lila, kau hebat. Kau sungguh hebat. Menyelesaikan dua perkuliahan sekaligus, bukan perkara mudah. Terlebih teknik sipil. Wajar jika kau menempuhnya lebih lama.”
Dimas berusaha membesarkan hati Kalila yang tengah bersedih. Dibandingkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, Dimas lebih merasa terluka, ketika mendapati Kalila bersedih dan kecewa dengan dirinya sendiri seperti sekarang.
“Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, Kalila. Yang penting kau sudah berusaha dengan maksimal. Bahkan kau lulus dengan nilai yang sangat bagus, di dua jurusan itu. Jurusan yang bahkan tidak kau inginkan. Kau hebat, Kalila.” Berulang kali Dimas meyakinkan Kalila. Berusaha mengembalikan rasa percaya diri gadis itu. Bahkan pada foto kelulusannya, Kalila terlihat redup. Tidak ada senyum sumringah, hanya senyum tipis yang menghiasi wajah gadis itu. Itupun karena arahan sang fotografer.
Lagi-lagi Kalila hanya menampilkan senyum tipisnya. Sudah lama Dimas tak melihat senyum sumringah Kalila. Terlebih pada dua tahun akhir perkuliahannya. Ketika sang nenek dipanggil sang pencipta. Gadis itu berubah. Benar-benar berubah. Karena sejak Nek Laila meninggalkan dunia ini, Khalid semakin menekan Kalila. Sementara Bu Alinah, selalu saja menganggap tindakan yang dilakukan anak sulungnya itu, adalah sesuatu hal yang baik— demi masa depan Kalila.
Beruntung masih ada Kairav di sisi Kalila. Dan juga, Dimas yang selalu menemani hari-hari Kalila, walau hanya secara virtual. Karena pria itu, kini tengah mengenyam pendidikan di magisternya di Singapura— tempat yang sama dengan Ibrahim tempo hari.
“Kau mau hadiah apa? Ini kelulusan kedua kau, dan aku belum ada memberikan apapun. Padahal kau mengirimkan satu kardus mie instan rasa soto Medan, ketika aku lulus dari IPB, dua tahun lalu.”
“Tidak perlu Bang. Video call dari Bang Dim setiap malam, sudah lebih dari cukup,” ungkap Kalila.
Ya, setiap malam, sebelum beranjak tidur, Kalila dan Dimas selalu melakukan panggilan video. Walau hanya sepuluh hingga lima belas menit, tapi rutin mereka lakukan. Dan itu selalu menghibur. Menghilangkan sedikit beban di pundak Kalila.
__ADS_1
“Aku tidak tau, jika aku sebegitu berartinya buat seorang Kalila,” ungkap Dimas. “Bagaimana kalau kita menikah saja. Sepertinya kau sudah melupakan sepupuku yang sempurna itu,” ledek Dimas. Kalila pun terkekeh mendengar ucapan pria itu.
Lelucon menikah, sudah sering dilontarkan oleh Dimas. Dan Kalila selalu menanggapinya dengan terkekeh-kekeh. Dia tau, jika Dimas hanya bercanda. Dan, laginya, Kalila msih menunggu Ibrahim. Menunggu janji pria itu untuk melamar dirinya. Walau komunikasi Kalila dengan Ibrahim, tidak seintens komunikasinya dengan Dimas.
Ibrahim tidak pernah menghubungi Kalila lebih dulu. Bahkan walau hanya mengirimkan pesan singkat. Hanya Kalila yang sesekali memberikan komentar pada status yang ditampilkan Ibrahim di salah satu sosial media pria itu. Itupun, Ibrahim hanya memberikan balasan sekedarnya.
Ibrahim bahkan tidak mengucapkan selamat atas kelulusan Kalila. Walau gadis itu sudah memasang potret dirinya memakai toga, di laman sosial media.
Kalila cukup mengerti, karena dua tahun belakangan, Ibrahim sudah mulai mengurusi perusahaan milik keluarganya. Di dapuk sebagai Direktur perencanaan, Ibrahim tentu saja memimpin dengan sangat baik. Pria itu selalu sempurna dalam segala hal. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan mereka bahkan meraup cukup banyak keuntungan, berkat strategi yang dilancarkan oleh Ibrahim.
“Apa keinginan kau, Kalila?” tanya Dimas. Pria itu benar-benar ingin menghapus luka Kalila. Mungkin dengan mengabulkan satu permintaan Kalila, bisa membuat gadis itu kembali bersinar seperti dulu— sebelum Kalila disibukkan dengan segudang tugas perkuliahan, sebelum Nek Laila pergi meninggalkan mereka semua, sebelum Khalid menekan agar Kalila lulus dengan predikat cumlaude.
Kalila memang lulus dengan predikat cumlaude, untuk program studi manajemen bisnis. Namun, untuk program studi teknik sipil, Kalila bahkan terlambat. Jika program diploma tiga dijalankan selama 3 tahun, Kalila menempuhnya dalam kurun waktu hampir empat tahun.
“Kau ingin kita libur bertiga lagi?”
“Iya, seperti dulu. Seru sekali, kan?” ungkap Kalila antusias.
Namun sayang, Dimas tidak dapat mengabulkan permintaan Kalila tersebut. Pasalnya, pria itu tengah menyusun tesis, agar bisa menyelesaikan pendidikan magisternya tiga bulan mendatang. Dimas pun meminta maaf akan hal itu.
Terlebih sekarang, Kairav juga sudah bekerja di salah satu bank swasta. Sehingga, untuk mengatur waktu berlibur bersama seperti yang pernah mereka lakukan dulu, agak sulit untuk dilaksanakan.
“Iya, Lila paham Bang. Lila kan hanya berandai-andai,” ungkap gadis itu. Panggilan telepon dari Khalid, membuat Kalila harus memutuskan panggilan videonya bersama Dimas.
__ADS_1
“Nanti malam jangan lupa hubungi aku, ya,” ucap Dimas sebelum mereka memutuskan panggilan video pagi itu. Kalila pun mengangguk setuju. Panggilan video mereka lagi-lagi terputus karena panggilan masuk dari Khalid.
Kalila terpaksa mengakhiri panggilan videonya dengan Dimas saat itu juga, dan menjawab panggilan telepon dari kakak sulungnya— setelah panggilan telepon pertama dari Khalid tadi, ditolaknya.
“Kok telepon Abang di reject sih tadi?” tanya Khalid begitu panggilan telepon itu tersambung.
“Iya Bang. Tadi Lila sedang video call dengan teman,” jawab Kalila. Khalid yang sudah tau teman yang dimaksud dengan Kalila, hanya bisa melengos kecewa.
“Kau ini sebenarnya menyukai Ibrahim atau Dimas sih?! Makin hari, kau makin lengket saja dengan anak itu?” ungkap Khalid kesal.
“Jangan marah-marah terus Bang. Nanti adiknya Nissa mirip denganku, bagaimana?”
“Habisnya kau selalu saja menguji kesabaran Abang. Sudah lulus D3, empat tahun, setiap hari kau sibuk video call-an dengan Dimas. Karena kau sering bermain-main dan melakukan video call dengan Dimas, makanya kau tidak bisa menjadi mahasiswa terbaik. Padahal Abang di sini, sibuk memikirkan masa depan kau?! Apa kau sama sekali tidak memikirkan masa depan? Hah?!”
“Abang ini, semakin tua, semakin galak saja! Awas darah tinggi loh. Usia Abang kan hampir tiga puluh tahun tuh,” lagi-lagi Kalila hanya menanggapinya dengan bercanda. Padahal gadis itu cukup tertekan dengan setiap kata yang keluar dari mulut kakak lelakinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....
__ADS_1