
Hari-hari berlalu. Demi memuaskan sang suami, Anneke selaku menggunakan pakaian minim saat Ibrahim tidak bekerja. Hingga pria itu bisa menyentuh Anneke kapan saja dengan mudah.
Seperti saat ini, saat Anneke tengah membereskan ruang tamu, terpaksa wanita itu menghentikan pekerjaannya dan membungkuk. Karena dua jemari Ibrahim telah bermain di area sensitifnya. Pria itu bahkan langsung melesakkan senjatanya saat dia merasa jarinya sudah basah di bawah sana.
Sembari menciumi punggung Anneke, Ibrahim memacu diri mencapai puncaknya. Hujaman keras pada tubuhnya, membuat Anneke yang tengah membungkuk hampir limbung.
Tak lama mereka melakukannya, karena Ibrahim sudah menyemburkan laharnya sembari mencengkram erat panggul wanita itu.
Ibrahim langsung meninggalkan Anneke begitu saja, setelah hasratnya terpenuhi. Namun, Anneke tak mempermasalahkannya. Karena bagi wanita itu, Ibrahim tak mengucapkan nama Kalila, itu sudah cukup. Itu artinya sang suami sudah mulai melupakan Kalila.
Biarlah tubuhnya remuk redam, asal sang suami terpuaskan hasratnya.
Enam bulan berlalu, Anneke masih terus melayani sang suami kapan pun pria itu menginginkannya.
Suatu ketika, Ibrahim bertemu dengan Kalila di salah satu pusat perbelanjaan. Ibrahim yang baru saja selesai makan siang dengan beberapa klien Adi Putra Group, menyaksikan Kalila yang tengah memberikan seorang bayi ke dalam gendongan Dimas. Wanita itu berjalan menuju toilet.
Ibrahim membuntutinya tanpa sepengetahuan Dimas. Ibrahim begitu tergoda saat menyaksikan tubuh Kalila yang semakin berisi.
Pria itu menghalangi jalan Kalila.
Kalila terkejut saat Ibrahim berdiri di hadapannya. Pengakuan Anneke mengenai Ibrahim yang terus menyebut nama dirinya saat permainan mereka, membuat Kalila bergidik.
“Baju kau basah,” ucap Ibrahim. Kalila pun mengikuti arah pandangan Ibrahim. Wanita itu gegas berbalik badan saat dirinya melihat ASI yang merembes.
Sial sekali Kalila lupa memakai breast pad, dan bertemu dengan Ibrahim.
Ibrahim mencekal tangan Kalila. Tubuh pria itu bahkan semakin dekat dengan Kalila.
“Lepasin Bang!” ucap Kalila panik. Terlebih pria itu terus melirik ke arah pakaian yang terkena rembesan ASI.
“Kalau Dimas tak bisa memberi kau kebahagiaan, datang padaku, La.”
Mata Kalila mendelik sempurna. “Bang Dim bukan pria brengsek seperti anda! Tak pernah sehari pun aku merasa tidak bahagia hidup bersamanya!”
Ibrahim menyeringai mendengar penuturan Kalila.
“Sekarang lepaskan tanganku atau aku akan berteriak!” ancam Kalila.
Kalila seketika berlari menjauh, saat Ibrahim melepaskan cengkramannya.
“Ayo Bang, pergi dari sini,” ucap Kalila panik.
“Kenapa Sayang?”
“Ayo Bang, kita pergi,” pinta Kalila. Dimas merasa heran dengan sang istri yang tiba-tiba mengajaknya pergi dari sana, terlebih wajah Kalila terlihat pucat.
__ADS_1
“Ayo Bang ...,” rengek Kalila.
“Tidak, jelaskan dulu ada apa? Mengapa kau ketakutan seperti ini? Wajah kau sampai pucat, sayang.”
“Ayo Bang .... Ada Bang Ibra di sana.” Kembali Kalila merengek. Alis Dimas bertaut.
Ibra? Laki-laki brengsek itu, apa yang dia perbuat?! Mengapa istrinya bisa ketakutan seperti ini?
Dimas berbalik arah dan hendak menghampiri Ibrahim. Namun, Kalila menahannya.
“Jangan Bang. Kita pergi saja dari sini,” bujuk Kalila.
Sebenarnya Dimas ingin sekali menghampiri Ibrahim. Namun, Kalila memohon hingga menangis. Dimas pun mengurungkan niatnya. Terlebih saat ini dirinya tengah menggendong Khansa Adila—putri pertama mereka.
Dimas sesekali melirik ke arah Kalila yang duduk di sampingnya. Wanita itu terus menyeka air matanya. Namun, Kalila masih belum bercerita mengenai apa yang terjadi padanya. Dimas pun tidak mau memaksa. Dirinya akan mencari tau sendiri.
Pria itu akan menghampiri Ibrahim di kantornya.
Namun, agaknya keinginan Dimas itu terpaksa ditunda. Karena Kalila masih ingin ditemani. Wanita itu bahkan meminta Dimas memeluknya, walau kini Kalila tengah menyusui Khansa.
***
Sementara itu, setelah melihat Kalila, Ibrahim merasa kesal setiap kali melihat Anneke. Obsesinya untuk memiliki Kalila, benar-benar membuat pria itu lepas kendali.
Terpaksa Anneke membiarkan pria itu menyatukan tubuh mereka. Anneke menangis sesenggukan, namun Ibrahim terus menghujam tanpa ampun. Hingga akhirnya Ibrahim terkulai lemas di atas tubuh Anneke.
Wanita itu mendorong sang suami dan berlari menuju kamar mandi. Anneke menangis di bawah pancuran air. Wanita itu menggosok tubuhnya dengan kasar.
Sudah cukup Ibrahim menyiksa batinnya hampir dua tahun mereka menikah. Anneke tak mau lagi tinggal di tempat yang sama dengan pria brengsek itu. Anneke tak mau lagi berbagi ranjang yang sama dengannya.
Sudah cukup selama ini pengorbanan dan perjuangan yang dia lakukan. Jika rumah tangga ini diteruskan, dirinya hanya akan terus tersakiti. Anneke sudah muak dengan tingkah Ibrahim.
Wanita itu sudah menetapkan hatinya.
Melangkah keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam di sana, Anneke kemudian mengambil koper dan membereskan beberapa pakaiannya.
“Mau ke mana kau?!” sergah Ibrahim. Namun, Anneke tak menggubrisnya. Wanita itu terus merapikan pakaiannya.
“Kau mau pergi dari sini? Kau akan meninggalkan aku?”
Anneke tetap bergeming. Ibrahim menyeringai.
“Pergi saja sana. Atau, perlukan aku menalak kau, agar kepergian kau ini tidak menjadi dosa?”
Lagi, Anneke bergeming. Wanita itu merasa tidak perlu menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh pria brengsek itu.
__ADS_1
Anneke memakai jilbabnya dan menggeret koper, keluar dari kamar.
“Pergi saja kau! Aku pastikan tak ada pria yang mau dengan kau, dasar wanita mandul!”
Langkah Anneke terhenti mendengar teriakan Ibrahim. Wanita itu membalikkan badannya dan menghampiri Ibrahim.
“Asal kau tau, aku sudah melakukan pemeriksaan lengkap dan rahimku baik-baik saja. Aku sehat dan tidak mandul. Lantas kau bagaimana? Kau sudah melakukan pemeriksaan? Apa kau yakin, bukan kau yang mandul?”
Bibir Anneke pecah. Darah segar mengalir dari sudut bibir wanita itu. Anneke menyeringai.
“Kenapa? Kau tiba-tiba takut menghadapi kenyataan yang ada?”
‘PLAKK!’
Lagi, pria itu menampar Anneke.
“Anneke Baskoro, detik ini juga, kau bukanlah istriku lagi!”
Anneke kembali menyeringai.
“Sejak dulu, kata-kata inilah yang aku tunggu. Akhirnya aku terbebas juga dari kau, Ibrahim Adi Putra. Sudah cukup dua puluh satu bulan ini aku menderita lahir batin. Aku jawab talak yang kau ucapkan itu dengan Alhamdulillah. Aku bersyukur. Aku benar-benar bersyukur kau menjatuhkan talak terhadapku.”
Gegas Anneke meninggalkan cinta pertamanya itu.
Dan, Ibrahim, terus terngiang pada ucapan Anneke.
“Asal kau tau, aku sudah melakukan pemeriksaan lengkap dan rahimku baik-baik saja. Aku sehat dan tidak mandul. Lantas kau bagaimana? Kau sudah melakukan pemeriksaan? Apa kau yakin, bukan kau yang mandul?”
Mungkinkah dirinya yang tidak bisa mempunyai keturunan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arti nama ank Dimas dan Kalila.
KHANSA : Wanita yang baik
ADILA : singkatan dari Anak Dimas dan Kalila
begitu kira-kira 🤭
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1