
“Dasar anak durhaka! Bisa-bisanya kau membohongi Mamak, subuh-subuh begini!”
Kairav menatap sang ibunda dengan tatapan bingung. Pria itu tidak mengerti maksud ucapan ibunya. Kairav menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Bohong apa sih, Mak?”
“Kau katakan tadi, Dimas mau melamar Kalila?!”
“Dimas mau melamar Kalila? Kapan Mak?”
Bantal guling kembali mendarat di wajah Kairav. Bu Alinah semakin kesal pada putranya itu. “Tadi, kau yang katakan kalau Dimas mau melamar Kalila!”
“Kapan Rav bilang begitu, Mak?”
Untuk ketiga kalinya, guling kembali mendarat di wajah Kairav. Namun pria itu tetap pasrah dengan amukan sang ibunda.
“Tadi, sewaktu di kamar Mamak!”
Kairav pun kembali mengingat kejadian sebelum dia kembali tertidur. Kejadian yang membuatnya sangat kesal. Kejadian yang membuatnya merasa menjadi butiran debu. Rab menghela napas panjang. Pria itu menatap Bu Alinah.
“Rav mana pernah mengatakan kalau Dimas akan melamar Lila. Rav tadi mengatakan, kalau mamak, sebentar lagi akan mendapatkan menantu baru!”
“Ya siapa lagi anak Mamak yang akan segera menikah kalau bukan Kalila. Yang mau melamarnya juga ada. Ada Ibra dan Dimas. Tadi kau katakan bukan Ibra. Berarti Dimas, Kan? Apa Kalila punya teman lelaki lain?”
“Mak, coba Mamak jujur. Rav ini, anak pungut ya?”
Lagi, lagi, lagi, dan lagi, bantal guling itu, kembali mendarat di wajah Kairav. Pria itu kembali menghela napas berat.
“Mamak bertaruh hidup dan mati saat melahirkan kau! Bisa-bisanya kau berpikiran kalau kau anak pungut!”
“Mamak sendiri yang bilang!”
“Kapan Mamak bilang, kalau kau anak pungut! Kapan? Hah?!”
“Siapa lagi anak Mamak yang akan segera menikah kalau bukan Kalila. Tadi Mamak berbicara seperti itu. Seperti anak Mamak hanya Bang Alid dan Kalila saja! Mamak tidak ingat, punya anak satu lagi. Anak yang bernama Kairav Nasution?!”
“Ya Mamak ingatlah degan kau. Tidak mungkin Mamak tidak ingat kau. Tapi kan kau tidak mungkin akan segera menikah. Wong pacar saja tidak punya! Mamak bahkan berpikir kau sudah pindah haluan, jadi menyukai sesama jenis.”
“Astaghfirullah Mak. Bisa-bisanya Mamak berpikir seperti itu. Rav normal, Mak. Rav bahkan punya banyak teman wanita, asal Mamak tau! Tapi Rav pemilih, gak sembarangan wanita Rav dekati!”
__ADS_1
“Habisnya, sejak kuliah, kau tidak pernah terlihat dekat dengan teman wanita. Bahkan setiap malam Minggu, kau selalu di rumah,” ucap Bu Alinah, yang kini sudah duduk di ranjang Kairav.
“Jadi, kau yang mau menikah?”
Bibir Kairav melengkung membentuk sebuah senyuman lebar. Pria itu menganggukkan kepalanya. Kairav segera mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas kasur.
“Siapa wanita yang tidak beruntung itu?”
Mendengar pertanyaan sang ibunda, Kairav kembali merebahkan badannya. Pria itu bahkan memejamkan matanya, berpura-pura tidur sembari memunggungi ibunya. Bu Alinah terkekeh-kekeh melihat tingkah anaknya itu.
“Yang mana gadis kau. Tunjukkan sama Mamak,” ucap Bu Alinah kemudian. Namun Kairav bergeming. “Jadi kau tidak butuh restu dan do'a dari Mamak?”
Kairav segera beranjak dari tidurnya. Do'a sang ibunda, adalah hal yang paling ditunggu-tunggunya. Do'a paling mujarab seantero jagad raya. Do'a ibu.
Kairav kembali mengambil ponsel miliknya. Pria itu membuka laman sosial media milik Anneke, kemudian menunjukkan foto-foto Anneke pada sang ibunda.
“Maa Syaa Allah ... Kok bisa kau punya kekasih cantik begini. Kau tidak pergi ke dukun kan?”
Kairav menatap tajam ibunya. Wanita paruh baya itu pun terkekeh melihat anak lelakinya. “Tinggal di mana dia? Kapan kau mau melamarnya? Ayo kita segerakan. Mamak takut,” ucap Bu Alinah.
“Takut? Takut kenapa Mak?”
“Sejak pensiun, Mamak belajar melawak dari siapa? Garing!” ucap Kairav kesal. Bu Alinah terus terkekeh-kekeh melihat tingkah putranya.
“Kapan kau mau melamar. Biar Mamak hubungi Bang Alid. Mereka kan butuh persiapan dulu, sebelum ke Medan.”
“Anneke tinggal di Bogor, kok,” ucap Dimas. Bu Alinah terperangah mendengar ucapan Kairav. Wanita paruh baya itu pun menanyakan cara Kairav bisa bertemu dengan gadis pujaannya yang bernama Anneke.
“Dia anak pemilik yayasan, tempat Kalila bekerja, Mak.” Bu Alinah semakin terperangah. Bagaimana bisa, anaknya menjalin hubungan dengan seorang anak pemilik yayasan, tempat Kalila bekerja. Padahal anak perempuannya itu, baru bekerja beberapa Minggu di sana. Apa Kairav lebih dulu mengenal Anneke?
Namun, pernyataan Kairav selanjutnya, membuat Bu Alinah kesal— tapi, kali ini Bu Alinah tidak menghempaskan guling kenwajah Kairav. Wanita paruh baya itu, hanya menatap sang anak dengan tatapan tajam, setajam silet.
“Rav belum berpacaran Mak. Baru saja berkenalan tadi malam.”
Kairav kembali menampilkan cengirannya. “Tapi Rav yakin, Mak. Rav yakin kalau dia jodoh Rav. Bidadari surganya Rav.”
Bu Alinah tidak bereaksi. Wanita paruh baya itu, masih menatap Kairav dengan tajam.
__ADS_1
“Terserah kau saja Rav.”
“Kok Mamak tidak mendoakan Rav!”
“Mamak selalu mendoakan kau, Rav. Semoga kau mendapatkan jodoh yang baik. Yang mencintai kau, juga menyayangi Mamak. Semoga kau selalu bahagia dengan gadis impian kau.”
Kairav langsung memeluk sang ibunda. Mengucapkan terimakasih dan semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah mendapatkan ucapan semangat dari sang ibunda, Kairav merasa, jalannya untuk mendekati Anneke akan berjalan mulus dan lancar.
Tapi kenyataannya, setelah saling membalas pesan perkenalan tempo hari, Kairav tidak tau lagi, apa yang harus dia lakukan. Pria itu kehabisan gagasan, kehabisan kata-kata, untuk kembali mengirimkan pesan kepada gadis cantik nan anggun itu. Kepada bidadari surganya itu.
“Bukannya Abang sejak SD sudah jadi player ya? Kemana perginya jurus-jurus playboy Abang itu?” cebik Kalila. Sedangkan Dimas hanya terkekeh mendengar pembicaraan kakak beradik itu.
“Aku tidak pernah berhadapan dengan wanita secantik bidadari seperti Anne. Dia cerdas. Lulusan luar negeri. Anak orang berada, pula. Abang bingung, cara untuk mendekatinya. Mobil saja, Abang tidak mampu beli!” cebik Kairav.
Mata Kalila terbelalak. Baru kali ini Kalila melihat Kairav begitu tidak percaya diri. Kemana perginya jiwa narsis kakak lelakinya itu. Pria yang terbiasa angkuh itu, mendadak menjadi tak percaya diri. Sungguh cinta benar-benar bisa merubah segalanya.
“Kau percaya diri seperti biasanya saja Bang. Dekati, tembak, kalau diterima ya bersyukur,” ucap Dimas menyemangati.
“Kalau tidak diterima?”
“Yaa ... Sukurin!” ucap Kalila dan Dimas kompak. Kedua manusia. itu pun kembali menertawakan Kairav. Hingga pria itu memutuskan sepihak, panggilan video mereka. Kalila dan Dimas pun saling tatap melalui layar ponsel milik mereka masing-masing.
“Bang Rav, ngambek,” ujar Kalila. Dimas yang masih terkekeh, kemudian menganggukkan kepalanya.
“Biar suaminya ini yang membujuk,” ucap Dimas. Kalila tersenyum geli mendengar penuturan pria itu. “Kau jangan cemburu ya, istri mudaku. Cintaku lebih besar padamu, kok,” ucap Dimas. Kalila terkekeh-kekeh sekarang.
“Sampai bertemu besok, istriku. I love you.”
“I love you too, suamiku.”
Dimas terdiam. Tubuhnya kaku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Dimas bahkan lupa caranya bernapas. Pria itu mematung, menatap Kalila pada layar ponselnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...