
“Boleh, tapi dengan satu syarat,” ucap Anneke. Tapi gadis cantik nan anggun itu mengatakannya dengan mimik serius. Kalila merasa sedikit tegang. Tidak pernah Kalila melihat ekspresi Anneke seperti itu.
“Syarat apa Kak?”
Anneke diam sesaat. Menatap lekat manik kehitaman Kalila hingga gadis yang ditatapnya itu bertambah tegang. Anneke sekuat tenaga menahan rasa menggelitik di perutnya. Sungguh menggemaskan sekali mengerjai gadis ini. Begitulah yang ada di benak Anneke.
“Syaratnya ....” Anneke sengaja menggantung ucapannya. Gadis itu juga terus menatap lekat Kalila. Sementara gadis yang di tatap itu semakin merasa gelisah.
“Kau harus mentraktir aku,” ucap Anneke.
Kalila tercengang.
Menatap tak percaya dengan apa yang didengarnya, Kalila hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Anneke sampai terkekeh-kekeh melihatnya. Namun tentu saja, walau terkekeh-kekeh, Anneke terkekeh dengan anggun.
Bagaimana terkekeh dengan anggun? Entahlah ....
Yang jelas, semua sikap gadis itu selalu terlihat anggun dan berkelas.
“Kau pelit sekali Kalila,” ucap Anneke kemudian, karena Kalila hanya terdiam dan menatapnya dengan wajah yang bingung.
“Kau tidak mau mentraktir aku, setelah kau mendapatkan gaji pertama di perusahaan itu. Kau sungguh pelit!” cebik Anneke.
“Tapi ... Apa besok, Lila boleh izin tidak masuk?”
Anneke kembali terkekeh. “Tentu saja boleh, Kalila.”
Anneke bahkan mencubit gemas pipi kiri Kalila. “Kau menggemaskan sekali Kalila. Apa kau tau itu?” ucap Anneke dan kembali terkekeh.
“Lila tau, Kak. Bang Dim juga pernah bilang seperti itu. Bilang kalau Lila itu menggemaskan. Dan Lila juga menyadari hal itu!”
Kali ini, Kalila yang berpura-pura marah dengan sikap Anneke. Kalila bahkan berucap ketua pada Anneke. Namun gadis cantik Ann anggun itu malah terkekeh melihat sikap Kalila.
“Pokoknya, gaji pertama jangan lupa dengan kakak kau ini ya,” ucap Anneke. Kalila tersenyum dan mengangguk cepat. “Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Kak Anne. Kakak sudah berbuat banyak untukku. Berkat Kak Anne, Lila bisa menjadi guru TK. Lila bisa mewujudkan impian masa kecil lila.”
__ADS_1
Setelah saling berpelukan sejenak, Kalila dan Anneke kembali ke ruang mereka masing-masing, menunggu waktu sholat Zuhur berjamaah, kemudian kembali ke kediaman masing-masing.
***
Malam itu, untuk pertama kalinya Kalila tidak melakukan panggilan video dengan Dimas. Karena malam itu, Ibrahim yang menghubungi gadis itu. Mereka berbincang hampir tiga puluh menit. Menyeritakan tentang perjalanan wisata yang mereka lakukan ketika Ibrahim berlibur di kota Medan.
“Rasanya aku rindu sekali makan kari bihun,” ungkap Ibrahim. Bahkan pada kunjungan kali keduanya ke kota Medan, pria itu kembali ingin menyantap kari bihun yang melegenda itu.
“Coba kalau kau bisa membuatnya. Aku pasti akan langsung berkunjung ke sana dan menyantap habis kari bihun itu!” Kalila hanya tersenyum tipis, walau Ibrahim tak dapat melihat senyum itu, karena mereka melakukan panggilan telepon biasa.
“Nanti Lila coba pelajari cara buatnya Bang. Atau, nanti Lila tanya kakak ipar Lila yang jago masak itu.”
“Aku akan menantikannya, Kalila. Menantikan kari bihun buatan Kalila Nasution,” ungkap Ibrahim. Ucapan Ibrahim berhasil membuat Kalila bersemangat untuk belajar memasak kari bihun. Gadis itu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyenangkan hati Ibrahim. Barangkali setelah menikmati kari bihun buatan dirinya, Ibrahim akan langsung melamarnya. Senyuman di bibir Kalila semakin terkembang membayangkannya.
“Besok kau mengajar saja seperti biasa. Asistenku sudah meminta surat pengantar pemeriksaan kesehatan dari HRD.”
“Jadi, Lila tinggal menemui asisten Bang Ibra saja, setelah Lila pulang bekerja?”
“Besok aku akan menjemput kau ke yayasan itu. Kau jangan lupa kirim lokasinya besok pagi. Sebelum Zuhur aku sudah berada di sana. Kalian selalu sholat Zuhur berjamaah sebelum pulang bekerja kan?” tanya Ibrahim. Mulut Kalila menganga semakin lebar. Gadis itu sedikit tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Kalila? Kau masih di sana?”
“Ii-iya Bang,” jawab Kalila tergagap.
“Kemarin kau katakan, kalau seluruh pegawai di yayasan itu, melaksanakan sholat Zuhur berjamaah lebih dulu, sebelum pulang bekerja. Begitu kan?”
“Iya Bang, Benar,” jawab Kalila.
“Kalau begitu aku akan tiba sebelum Zuhur. Sholat berjamaah bersama kalian. Kemudian, aku akan menemani kau melakukan pemeriksaan kesehatan di laboratorium,” ungkap Ibrahim. Kalian terkejut, matanya melebar, mulutnya yang menganga lebar tetap menganga dengan lebar. Gadis itu kehabisan kata-kata.
Ibrahim Adi Putra akan menjemputnya sepulang bekerja. Putra mahkota klan Adi Putra itu, mau bersusah payah menjemputnya. Pria sempurna itu bahkan bersedia mengantarnya melakukan cek kesehatan. Mimpi apa dirinya kemarin malam, hingga mendapatkan kejutan yang begitu mendebarkan seperti ini.
“Kenapa kau diam saja, Kalila? Kau tidak mau aku menjemputmu?”
__ADS_1
“Mau Bang! Mau! Tentu saja Lila mau. Sangat mau malah,” ucap gadis itu. Ibrahim terkekeh mendengar jawaban Kalila yang begitu antusias. Kalila pun berjanji akan mengirimkan lokasi yayasan tempatnya bekerja kepada Ibrahim.
Malam sudah semakin larut, Ibrahim dan Kalila memutuskan untuk mengakhiri obrolan mereka yang lebih banyak membahas masa-masa sewaktu Ibrahim berlibur ke kota Medan. Karena hanya di saat itulah mereka berhubungan sangat dekat.
“Assalamualaikum, Kalila.”
“Wa'alaikumussalam, Bang Ibra.”
Ucapan salam dari Ibrahim, dan jawaban salam dari Kalila, mengakhiri panggilan telepon sepasang muda-mudi itu. Kalila seketika menghentak-hentakkan kedua kakinya sembari berteriak dalam hati. Gadis yang tengah duduk berselonjor dibatas kasur itu, lalu memeluk ponselnya. Beberapa saat kemudian, mencium ponsel miliknya.
Kalila lantas merebahkan badannya, kemudian memejamkan mata. Gadis itu tidur sembari memeluk ponselnya.
Sementara itu, di sebuah wilayah di negara singa, Dimas terlihat gusar. Pria itu berjalan mondar-mandir dalam apartemennya. Melirik jam digital pada ponselnya. “Sudah pukul sepuluh malam, dan Kalila belum menghubungi. Bang Rav juga belum memberikan kabar,” ujarnya resah.
Sejak pukul sembilan malam, Dimas sudah menghubungi Kalila seperti biasa, namun gadis itu tidak menjawab panggilan video dari Dimas.
Dimas pun mencoba melakukan panggilan biasa, namun gadis itu tengah berada dalam panggilan lain. Setengah jam Dimas mencoba menghubungi Kalila, namun masih tidak tersambung. Dimas lantas mengirimkan beberapa pesan. Dimas juga menanyakan perihal Kalila kepada Kairav. Hingga kakak lelaki Kalila itu juga berusaha menghubungi adiknya. Namun respon yang didapatkan sama saja. Jika Kalila, tengah berada dalam panggilan lain. Dimas hanya bisa menghela napas berat.
Mungkinkah Kalila tengah melakukan panggilan dengan Bang Ibra? Atau mungkin pria lain?
Dimas pun sekali lagi mencoba menghubungi Kalila, namun ponsel gadis itu sudah tidak aktif.
“Kau sudah tidur ya? Bahkan pesan dariku pun, kau abaikan. Apa kau sudah tidak membutuhkan aku lagi, La?” Dimas bermonolog. Lagi-lagi pria itu menghela napas berat.
“Tidak apa Kalila. Tidak masalah jika kau sudah tak membutuhkan aku lagi. Asal kau bahagia, aku juga bahagia. Tapi setidaknya, beri aku kabar. Aku khawatir.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1